Sukses

5 Langkah Membangun Kepercayaan Diri Si Kecil

5 Langkah Membangun Kepercayaan Diri Si Kecil. Apakah Anda merasa si Kecil sering minder di sekolah? Berikut 5 saran dari dr. Karin Wiradarma untuk membantu membangun kepercayaan diri Si Kecil.

KlikDokter.com - Rasa percaya diri adalah persepsi atau pandangan seseorang terhadap dirinya, dan seberapa besar ia menilai dirinya sendiri. Kepercayaan diri ini pun dipengaruhi oleh pandangan dan harapan dari orang-orang terdekat dalam kehidupannya. Rasa percaya diri mulai muncul sejak balita, dan akan terus berkembang dan terbentuk hingga dewasa.

Dalam diri anak-anak, rasa percaya diri terbentuk jika ia merasa dirinya memiliki kemampuan dan dicintai oleh orang-orang sekitarnya – orangtua, saudara, teman-teman, guru, dan lainnya.  Kepercayaan diri yang baik dan sehat akan terbentuk jika kedua unsur ini berada dalam keadaan seimbang.

Si Kecil mulai dapat memahami siapa dirinya dan apa yang dapat mereka lakukan. Mereka juga sudah mulai dapat membuat keputusan kecil, seperti mainan apa yang ingin dimainkan, boneka apa yang diinginkan, dan baju apa yang ingin dipakai.

Beranjak ke usia sekolah, kepercayaan diri akan semakin terbentuk dan diuji. Anak akan mulai membandingkan dirinya dengan orang lain, dalam hal ini teman-teman di sekolah. Apa yang mereka miliki, apa yang dapat mereka lakukan, dan sebagainya.

Klik ‘next’ untuk membaca lanjutan artikelnya.

1 dari 3 halaman

5 Langkah Membangun Kepercayaan Diri Si Kecil

Morinaga Platinum

Kepercayaan diri ibarat senjata sekaligus tameng Si Kecil untuk menghadapi dunia luar. Anak yang merasa percaya diri akan mengetahui dengan baik kekuatan dan kelemahan dirinya. Dengan demikian, mereka dapat menangani konflik dan permasalahan hidup dengan lebih baik di kemudian hari. Anak-anak ini cenderung lebih realistis dan optimis.

Lain halnya dengan anak yang memiliki kepercayaan diri yang rendah. Mereka akan lebih mudah untuk menjadi frustrasi, gelisah, dan cepat marah ketika menghadapi masalah. Mereka akan cenderung berpikir pesimis dan merasa bahwa mereka tidak dapat menghadapi masalah tersebut.

Orangtua memiliki peran yang sangat penting dalam membangun kepercayaan diri yang sehat dalam diri anak, sedini mungkin. Karena sikap pesimistik yang cenderung negatif akan lebih sulit diubah jika anak sudah beranjak dewasa. Berikut langkah-langkah yang dapat diterapkan untuk memupuk rasa percaya diri buah hati Anda:

Klik ‘next’ untuk membaca lanjutan artikelnya.

2 dari 3 halaman

5 Langkah Membangun Kepercayaan Diri Si Kecil

Morinaga Platinum

  1. Hati-hati dengan perkataan Bunda dan Ayah. Jangan sampai melukai perasaan Si Kecil ketika ia gagal. Ia dapat berubah menjadi anak yang ragu-ragu dan pesimis. Jangan selalu menitikberatkan kepada hasil yang dicapai, namun pujilah usaha yang dilakukannya. Namun demikian, jangan pula berlebihan memujinya ketika ia berhasil. Karena ia dapat menjadi anak yang sombong dan menganggap dirinya lebih hebat dari yang sebenarnya.

 

  1. Jadilah teladan. Jika Bunda dan Ayah  menginginkan Si Kecil untuk memiliki rasa percaya diri, Bunda harus menunjukkan langsung kepadanya. Jadilah orang yang positif dan optimis. Pecahkanlah masalah dengan tenang dan kepala dingin. Jangan malah bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri, pesimis, dan bersikap tidak realistis. Si Kecil membutuhkan sosok teladan yang terbaik, yaitu Bunda dan Ayah sendiri

 

  1. Koreksi pemahaman yang kurang tepat. Apakah Si Kecil merasa bahwa dirinya tidak mampu, ataukah ia merasa bahwa dirinya terlalu hebat, Bunda perlu mengoreksi pemahaman yang kurang tepat dalam dirinya. Elaborasikan kekuatan atau kelebihan maupun kekurangan dalam diri Si Kecil, serta apa tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hal tersebut.

 

  1. Sayangi dan lindungi. Cinta dan perlindungan yang Bunda dan Ayah  berikan akan membantu meningkatkan kepercayaan diri Si Kecil. Berikan mereka pelukan dan kata-kata pembangkit semangat. Ciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak di rumah. Hindari bertengkar di depan Si Kecil.
  2. Jangan memarahi. Tunjukkan kesalahan dan koreksilah dengan kasih. Jangan memarahi atau menyalahkan dirinya dengan berapi-api. Katakanlah padanya bahwa Bunda dan Ayah memahami perasaannya, namun tindakan yang ia lakukan tidak benar. Bunda dan Ayah  pun dapat memberikan solusi tindakan yang harus dilakukan jika suatu saat ia mengalami situasi yang sama.

  3. Hati-hati dengan perkataan Bunda dan Ayah. Jangan sampai melukai perasaan Si Kecil ketika ia gagal. Ia dapat berubah menjadi anak yang ragu-ragu dan pesimis. Jangan selalu menitikberatkan kepada hasil yang dicapai, namun pujilah usaha yang dilakukannya. Namun demikian, jangan pula berlebihan memujinya ketika ia berhasil. Karena ia dapat menjadi anak yang sombong dan menganggap dirinya lebih hebat dari yang sebenarnya.

  4. Jadilah teladan. Jika Bunda dan Ayah  menginginkan Si Kecil untuk memiliki rasa percaya diri, Bunda harus menunjukkan langsung kepadanya. Jadilah orang yang positif dan optimis. Pecahkanlah masalah dengan tenang dan kepala dingin. Jangan malah bersikap terlalu keras terhadap diri sendiri, pesimis, dan bersikap tidak realistis. Si Kecil membutuhkan sosok teladan yang terbaik, yaitu Bunda dan Ayah sendiri

  5. Koreksi pemahaman yang kurang tepat. Apakah Si Kecil merasa bahwa dirinya tidak mampu, ataukah ia merasa bahwa dirinya terlalu hebat, Bunda perlu mengoreksi pemahaman yang kurang tepat dalam dirinya. Elaborasikan kekuatan atau kelebihan maupun kekurangan dalam diri Si Kecil, serta apa tindakan yang dapat dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan hal tersebut.

  6. Sayangi dan lindungi. Cinta dan perlindungan yang Bunda dan Ayah  berikan akan membantu meningkatkan kepercayaan diri Si Kecil. Berikan mereka pelukan dan kata-kata pembangkit semangat. Ciptakan suasana yang aman dan nyaman bagi anak di rumah. Hindari bertengkar di depan Si Kecil.

  7. Jangan memarahi. Tunjukkan kesalahan dan koreksilah dengan kasih. Jangan memarahi atau menyalahkan dirinya dengan berapi-api. Katakanlah padanya bahwa Bunda dan Ayah memahami perasaannya, namun tindakan yang ia lakukan tidak benar. Bunda dan Ayah  pun dapat memberikan solusi tindakan yang harus dilakukan jika suatu saat ia mengalami situasi yang sama.

0 Komentar

Belum ada komentar