Sukses

Hal yang Perlu Diketahui Tentang Siklus Menstruasi Wanita

Meski haid sudah jadi hal yang reguler, tak banyak yang tahu soal siklusnya. Lantas, bagaimana sebenarnya siklus menstruasi itu? Simak penjelasan di bawah ini.

Setiap wanita harus mengetahui siklus menstruasinya masing-masing. Dengan begitu, wanita bisa tahu kapan datang bulan dan kapan harus untuk berhubungan intim agar hamil.

Tak hanya itu, mengetahui siklus menstruasi juga dapat membantu Anda dan dokter untuk mencari tahu apakah ada masalah kesehatan tertentu atau tidak, terutama yang berhubungan dengan organ reproduksi.

 

1 dari 5 halaman

Apa itu Siklus Menstruasi?

Dari masa pubertas sampai sebelum menopause, tubuh wanita mengalami perubahan dan proses persiapan untuk hamil.

Segala rangkaian dalam proses persiapan tersebut digerakkan oleh hormon dan disebut sebagai siklus menstruasi. Siklus menstruasi yang dialami setiap wanita berbeda-beda.

Organ reproduksi wanita yang disebut ovarium akan memproduksi dan melepaskan sel telur setiap bulannya.

Kondisi ini normalnya terjadi selama 28 hingga 35 hari sekali. Sel-sel telur yang diproduksi membuat lapisan rahim menebal.

Jika tidak terjadi pembuahan oleh sel sperma, lapisan rahim akan luruh menjadi darah haid. Siklus menstruasi ini akan terus berulang seperti itu sampai nanti Anda menopause.

Tak cuma sel telur, ovarium juga memproduksi beberapa hormon, seperti progesteron, estrogen, pelepas gonadotropin, luteinizing, dan perangsang folikel. Kelima hormon ini sangat berpengaruh terhadap empat fase di dalam siklus menstruasi.

Artikel Lainnya: 12 Fakta Haid yang Wajib Diketahui Wanita

2 dari 5 halaman

Mengenal Fase Siklus Menstruasi Normal

Terdapat empat fase dalam siklus menstruasi pada wanita. Detail dari masing-masing fase bisa Anda lihat di bawah ini:

1. Fase Menstruasi

Sesuai dengan namanya, di fase pertama dari siklus haid ini Anda akan mengalami menstruasi selama 3-7 hari.

Ketika sel telur tidak dibuahi dan kehamilan tak terjadi, lapisan rahim akan luruh dan keluar lewat vagina.

Tak sekadar jaringan rahim, darah dan lendir juga akan bercampur keluar lewat vagina.

Di saat ini, hormon estrogen dan progesteron juga perlahan menurun. Adapun beberapa gejala yang Anda rasakan, yaitu:

  • Mood swing.
  • Nyeri serta kram punggung dan perut bawah.
  • Sakit kepala.
  • Lemas.
  • Kembung.

2. Fase Folikuler

Fase kedua pada siklus menstruasi pada wanita adalah Folikuler. Fase yang satu ini memang tumpang tindih dengan menstruasi karena terjadinya pada saat hari pertama haid.

Hipotalamus di otak mengirim sinyal ke kelenjar pituitari untuk melepaskan hormon perangsang folikel.

Hormon tersebut akan merangsang ovarium untuk menghasilkan 5-20 kantung kecil yang disebut folikel. Isi kantung folikel tersebut adalah sel telur yang belum matang.

Dari sekian banyak sel telur, hanya satu yang berhasil matang. Sisanya akan kembali diserap oleh tubuh.

Kantung yang berisi sel telur matang akan meningkatkan hormon estrogen dan turut mempertebal lapisan rahim. Fase ini terjadi sekitar 11-27 hari.

Artikel Lainnya: Alasan Wanita Lebih Banyak Kentut saat Menstruasi

3. Fase Ovulasi

Kadar hormon estrogen di fase folikuler memicu kelenjar pituitari untuk melepas hormon luteinizing.

Pada siklus menstruasi inilah proses ovulasi atau pelepasan sel telur matang terjadi. Sel telur mengalir ke tuba falopi menuju rahim untuk dibuahi sel sperma.

Fase ini merupakan kesempatan paling tinggi untuk terjadi kehamilan. Adapun tanda-tanda yang dirasakan ketika wanita sedang mengalami fase ovulasi, yaitu:

  • Peningkatan suhu tubuh di pagi hari (suhu basal).
  • Keputihan kental teksturnya seperti putih telur bening.

Apabila siklus menstruasi normal terjadi setiap 28 hari, maka fase ovulasi terjadi dapat  terjadi di hari ke-14 dan berlangsung selama 24 jam. Setelah lewat dari sehari, sel telur akan mati atau larut.

Perlu diketahui, sperma bisa hidup sampai 5 hari di dalam tubuh. Jika Anda berhubungan intim 5 hari sebelum fase ovulasi, maka kesempatan untuk hamil masih ada.

4. Fase Luteal

Setelah folikel melepas sel telurnya, ia akan berubah menjadi korpus luteum yang memproduksi hormon progesteron dan estrogen. Peningkatan kedua hormon ini akan membuat dinding rahim tebal kembali.

Jika Anda hamil, di fase ini tubuh juga akan memproduksi hormon human chorionic gonadotropin (hCG). Hormon ini akan terdeteksi di alat tes kehamilan.

Jika tidak, korpus luteum diserap kembali oleh tubuh dan Anda bersiap mengalami gejala sindrom pramenstruasi, seperti:

  • Kembung.
  • Payudara bengkak dan nyeri
  • Mood swing.
  • Sakit kepala.
  • Nafsu makan dan seksual meningkat.
  • Susah tidur.

Artikel Lainnya: Ragam Gangguan Menstruasi yang Anda Harus Tahu

3 dari 5 halaman

Bagaimana Siklus Menstruasi yang Tidak Normal?

Tidak semua wanita mengalami siklus haid yang normal. Beberapa indikasi yang menandakan bahwa siklus menstruasi Anda tidak normal dan patut dikonsultasikan ke dokter, yaitu:

  • Siklus kurang 21 hari atau lebih dari 35 hari.
  • Sudah lebih dari 3 bulan fase menstruasi tidak terjadi padahal tidak berhubungan intim.
  • Darah haid keluar lebih dari 7 hari.
  • Aliran darah keluar terlalu deras atau terlalu sedikit.
  • Bercak darah keluar dari vagina di luar fase menstruasi.
  • Rasa nyeri dan kram yang berlebihan saat haid.
4 dari 5 halaman

Bagaimana Cara Menjaga Siklus Menstruasi Tetap Normal?

Untuk mencegah tanda-tanda siklus menstruasi yang tidak normal, kondisi hormon harus dijaga keseimbangannya. Menurut dr. Arina Heidyana, cara utama untuk menjaga keseimbangan hormon adalah menerapkan pola hidup sehat secara teratur, misalnya:

  • Olahraga 30 menit setiap hari.
  • Mengurangi asupan kafein dan minuman beralkohol.
  • Makan makanan bergizi, termasuk lemak sehat dari ikan, alpukat, minyak zaitun, kacang almond, dan lain-lain.
  • Jaga kesehatan saluran pencernaan dan konsumsi yoghurt bila perlu.
  • Tidak merokok.
  • Istirahat yang cukup.

“Diet-diet ekstrem untuk menguruskan badan tidak perlu dilakukan. Hal itu justru bikin haid tidak lancar karena tubuh kekurangan nutrisi. Begitu pula dengan pengelolaan stres, ini sama sekali tidak boleh dilupakan. Jika pola di atas dilakukan, tetapi stres berat tidak terkontrol, ya, akan sama saja hasilnya,” saran dr. Arina.

Faktor stres sangat memengaruhi siklus menstruasi pada wanita. Jadi, temukanlah cara relaksasi yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan Anda agar perasaan negatif lebih terkontrol.

Bila masih ada pertanyaan seputar kesehatan wanita, langsung saja konsultasikan pada dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

3 Komentar