Relationship

Kenali Perbedaan Cinta dan Obsesi dalam Hubungan

Siti Putri Nurmayani, 08 Nov 2022

Ditinjau Oleh Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog

Tak jarang, seseorang sulit untuk membedakan cinta dengan obsesi dalam sebuah hubungan. Ketahui 6 perbedaannya di sini.

Kenali Perbedaan Cinta dan Obsesi dalam Hubungan

Perasaan cinta terhadap seseorang mungkin bisa ditandai dengan rasa tergila-gila dan keterikatan. Namun, jika terjadi secara berlebihan, hal ini bisa saja berkembang menjadi obsesi.

Meski perbedaan cinta dan obsesi bisa dilihat dengan cukup jelas, tetapi terkadang terasa sulit dibedakan. Simak ulasan berikut ini untuk membedakan antara cinta dan perilaku yang obsesif.

1. Obsesi Menunjukkan Sikap yang Posesif

Untuk menjawab pertanyaan apa itu obsesi, kamu bisa mengetahuinya dari hal sederhana.

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, obsesi terjadi ketika kamu terus memikirkan dan membayangkan orang yang kamu cintai.

“Hal ini bisa menimbulkan perasaan yang mengganggu dan menimbulkan kecemasan untuk diri sendiri,” ungkapnya.

Untuk menghilangkan kecemasan tersebut, kamu malah akan terus mengejar atau mendekati orang kamu cintai. Hal ini bisa membuatmu merasa lebih lega dan tenang.

Meski begitu, rasa obsesinya tidak hilang, sehingga kamu akan terus mengejar orang yang kamu cintai.

Setelah bersama orang yang dicintai, kamu akan mengekangnya dan berpikir bahwa orang tersebut hanya untukmu saja. Segala keputusan yang kamu buat hanya dilakukan secara sepihak dan tidak menghargai privasi pasanganmu.

Artikel Lainnya: Perbedaan Jatuh Cinta dan Jatuh Hati dari Kacamata Psikolog

Ini tentu saja berbeda dengan perasaan cinta. Menurut William Berry, LMHC., CAP, psikoterapis dan dosen dari Florida International University, cinta yang sehat didasarkan pada rasa saling menghormati dan tidak posesif.

Psikolog Ikhsan menambahkan bahwa ketika mencintai seseorang, kita memang masih sering memikirkannya dan ingin terus bersama.

Kondisi ini disebut dengan fase honeymoon. Namun, setelah enam bulan pertama menjalin hubungan, biasanya akan berubah menjadi hubungan yang berkembang.

“Hal ini ditandai dengan adanya saling memahami, kedekatan dengan pasangan yang dilandasi dengan ikatan emosional, serta dapat menerima perbedaan dan penolakan dari pasangan,” paparnya.

Sementara jika kamu terobsesi, kamu tidak bisa melakukan hal tersebut karena fokus pada diri sendiri untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan.

2. Cinta Membiarkan Hubungan Berkembang dengan Sendirinya

Cinta Membiarkan Hubungan Berkembang dengan Sendirinya

Beda cinta dan obsesi juga bisa dilihat ketika kamu melakukan pendekatan dengan orang yang kamu sukai.

Saat dua orang saling jatuh cinta, mereka akan membiarkan hubungan berkembang dengan sendirinya. Biasanya, mereka akan melakukan pendekatan terlebih dahulu dan tidak terburu-buru untuk meresmikannya.

Sedangkan orang yang terobsesi akan merasa takut kehilangan dan memaksa untuk segera meresmikan hubungannya.

3. Obsesi Berkaitan Dengan Delusi

Rasa cemburu menjadi hal wajar dalam sebuah hubungan asmara. Namun, seseorang yang terobsesi terkadang merasa cemburu pada hal-hal yang sesungguhnya tidak terjadi. Pasalnya ia cenderung mengalami delusi.

Contohnya ketika pasanganmu disapa rekan kerjanya, kamu akan menganggap ia punya hubungan dengan orang tersebut dan tidak setia kepadamu. Padahal, hal tersebut tidaklah benar.

4. Obsesi Sering Membutuhkan Validasi

Seseorang yang terobsesi kepada pasangannya terkadang sering menanyakan pendapat seputar kehadiran dirinya di mata pasangan. Kamu akan menginginkan validasi dari pasangan bahwa dirimu sangatlah berharga.

Hal ini mungkin terjadi karena kamu pernah mengalami perilaku yang kurang menyenangkan di hubungan sebelumnya, seperti tidak dihargai.

Sementara pada hubungan cinta yang sehat, kedua pasangan akan saling mengungkapkan apa yang mereka rasakan tentang satu sama lain, sehingga tidak menimbulkan kecemasan.

Artikel Lainnya: Kenali Perbedaan Cinta dan Nafsu dalam Hubungan Asmara

5. Adanya Rasa Timbal Balik dalam Cinta

Menurut pakar hubungan Marni Kinrys, dalam cinta yang sehat harus ada jumlah yang cukup sama antara memberi atau menerima.

Namun, seseorang yang terobsesi cenderung lebih banyak memberi daripada menerima. Tak heran, kamu akan terus-menerus memanjakan pasangan dengan memberikan hadiah.

Tujuannya untuk membuat pasangan merasa sulit untuk meninggalkanmu. Kemudian, kamu bisa dengan mudah mengendalikan pasanganmu.

6. Cinta Tidak Akan Melarang untuk Menghabiskan Waktu dengan Orang Lain

Jika kamu masih bertanya-tanya, apa itu cinta, maka sangat mudah untuk mengetahui jawabannya.

Jika pasangan benar-benar mencintaimu, ia tidak akan pernah melarangmu untuk bertemu dengan keluarga atau teman. Ia juga tidak merasa terancam jika kamu memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan orang lain.

Namun, seseorang yang terobsesi biasanya akan curiga jika pasangannya memilih menghabiskan waktu dengan orang lain. Bahkan yang lebih ekstrem, ia akan melarang pasangan untuk bertemu dengan keluarga atau teman-teman.

Artikel Lainnya: Kenapa Kita Sering Mencintai Seseorang yang Tidak Bisa Dimiliki?

Dari perbedaan-perbedaan di atas, diharapkan kamu bisa menyadari perilaku obsesif dalam sebuah hubungan.

Psikolog Ikhsan menuturkan, perasaan yang lama-kelamaan berubah obsesif membuat hubungan menjadi tidak sehat.

Oleh karenanya, bila merasa pasangan memiliki tanda tersebut, jangan sungkan berkonsultasi dengan tenaga profesional untuk membantumu menanganinya.

Kamu juga bisa menggunakan layanan Tanya Dokter untuk berkonsultasi ke psikolog secara online. Tetap #JagaSehatmu secara fisik dan mental dengan terhindar dari perilaku obsesif dari pasangan.

  • Psychology Today. Diakses 2022. You’re Not In Love; You’re Addicted.