Sukses

Pengertian

Tardive dyskinesia merupakan suatu kondisi ketika didapati gerakan-gerakan involunter atau tak diinginkan yang sering kali tidak disadari. Gerakan-gerakan tersebut seperti berkedut, meringis, atau mengentak pada seseorang.

Kondisi ini dapat timbul sebagai efek samping dari pengobatan neuroleptik, yang mencakup obat-obatan anti-psikotik untuk gangguan kesehatan jiwa. Terkadang, pengobatan neuroleptik juga dapat diresepkan untuk gangguan saluran pencernaan.

Obat neuroleptik berfungsi menghambat reseptor dopamin di otak. Dopamine adalah senyawa kimia yang berfungsi mengendalikan emosi dan pusat kenikmatan di otak.

Dopamin juga berperan dalam fungsi motorik tubuh. Kadar dopamin dalam jumlah yang sangat rendah dapat memengaruhi otot dan menyebabkan tanda atau gejala tardive dyskinesia.

Penyebab

Tardive dyskinesia paling sering terjadi karena efek samping dari konsumsi obat-obatan neuroleptik, yang merupakan obat-obatan anti-psikotik. Pengobatan tersebut diresepkan untuk menangani gangguan skizofrenia, bipolar, dan beberapa kondisi kesehatan jiwa lainnya.

Pengobatan tersebut juga dapat diresepkan untuk mengatasi gangguan saluran cerna. Meski begitu, tidak setiap orang yang mengonsumsi pengobatan tersebut akan mengalami tardive dyskinesia.

Gejala

Tardive dyskinesia derajat ringan sampai sedang dapat menyebabkan gerakan yang kaku dan mengentak pada wajah, lidah, bibir, dan rahang. Gerakan tersebut bisa berupa berkedip secara cepat, mengecap atau mengerutkan bibir, dan menjulurkan lidah.

Orang dengan tardive dyskinesia derajat sedang juga dapat mengalami gejala yang tidak terkendali lainnya pada lengan, tungkai, jari-jari tangan, dan jari-jari kaki.

Sedangkan, tardive dyskinesia derajat berat dapat menyebabkan gerakan tubuh ke samping kiri kanan, serta kegoyahan tubuh. Baik cepat maupun lambat, gerakan-gerakan yang dikaitkan dengan tardive dyskinesia dapat menjadi sangat mengganggu dan memengaruhi kemampuan untuk bekerja, menjalani kegiatan sehari-hari, dan menjaga keaktifan.

Diagnosis

Tanda dan gejala dari tardive dyskinesia umumnya tidak langsung tampak. Terkadang, gejala baru timbul beberapa bulan atau tahun setelah mengonsumsi obat-obatan neuroleptik.

Diagnosis tardive dyskinesia dapat ditentukan berdasarkan wawancara medis terkait keluhan yang dialami. Selain itu juga diperlukan pemeriksaan fisik untuk mengukur kemampuan pergerakan.

Dokter dapat menggunakan suatu skala yang disebut Abnormal Involuntary Movement Scale (AIMS). Tujuannya adalah untuk mengevaluasi derajat keparahan gangguan pergerakan, tingkat kesadaran orang yang mengalaminya saat gangguan pergerakan terjadi, serta tingkat gangguan yang dirasakan orang tersebut saat mengalami pergerakan tak diinginkan ini.

Dokter juga dapat merekomendasikan penderita untuk menjalani beberapa pemeriksaan penunjang bila dinilai dibutuhkan. Umumnya diperlukan pemeriksaan darah atau pencitraan otak untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab penyakit lain yang juga dapat menyebabkan timbulnya tanda dan gejala yang mirip.

Penanganan

Tujuan utama penanganan tardive dyskinesia adalah pencegahan menyeluruh timbulnya tanda dan gejala kembali. Hal ini membutuhkan evaluasi secara berkala dari dokter. Dalam melakukan evaluasi tersebut, dokter akan menggunakan pengukuran gerakan untuk menentukan seseorang mengalami tardive dyskinesia atau tidak.

Apabila seseorang mulai menunjukkan tanda-tanda tardive dyskinesia, dokter dapat memutuskan untuk menurunkan dosis pengobatan. Bisa juga dengan mengganti obat dengan obat lain yang memiliki kemungkinan lebih rendah untuk menimbulkan kondisi tersebut.

Dokter juga dapat meresepkan pengobatan untuk meregulasi kadar dopamin di otak. Teknik ini dapat membantu mengembalikan fungsi pergerakan dan mengurangi gejala-gejala tardive dyskinesia.

Penanganan yang sesuai untuk tardive dyskinesia bergantung dari beberapa faktor, yaitu:

  • Derajat keparahan gejala tardive dyskinesia
  • Durasi konsumsi pengobatan
  • Usia
  • Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
  • Kondisi kesehatan yang berkaitan, seperti gangguan neurologis

Pencegahan

Mereka yang mengonsumsi obat-obatan neuroleptik sangat disarankan untuk memeriksa kemungkinan timbulnya tanda dan gejala tardive dyskinesia secara rutin. Apabila terdapat kecenderungan ke arah tardive dyskinesia, dapat dilakukan beberapa langkah seperti menghentikan pengobatan, menurunkan dosis pengobatan, atau mengganti ke pengobatan lainnya.

Cara terbaik untuk mencegah tardive dyskinesia adalah memahami tubuh sendiri serta mengamati adanya tanda dan gejala yang tidak biasa. Dengan deteksi dini, penanganan dapat dilakukan dengan lebih tepat dan cepat.