Sukses

Pengertian

Skistosomiasis merupakan reaksi tubuh akibat terinfeksi cacing. Jenis cacing yang menyebabkan infeksi ini merupakan cacing golongan Schistosoma. Cacing jenis ini hidup di perairan air tawar dan banyak ditemukan di daerah pedalaman negara tropis di mana tingkat kebersihan individunya masih sangat rendah. 

Dalam siklus hidupnya, cacing ini memerlukan perantara siput air tawar. Oleh karena itu eradikasinya juga harus melibatkan pembasmian siput di area yang banyak terinfeksi.

Skistosomiasis

Diagnosis

Penentuan diagnosis terhadap skistosomiasis dilakukan melalui serangakaian wawancara medis mendetail dan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengonfirmasi penyakit ini antara lain:

  • Adanya telur Schistosoma sp pada pemeriksaan tinja atau urine
  • Terdeteksinya antibodi dan/ atau antigen pada darah atau urine

Salah satu teknik yang digunakan untuk mendeteksi adanya telur dalam kotoran atau tinja adalah dengan metode Kato-Katz technique. Teknik ini menggunakan pewarnaan methylene blue pada tinja yang kemudian dicelupkan pada larutan gliserin. Telur Schistosoma akan tampak pada metode pemeriksaan ini.

Penyebab

Skistosomiasis terjadi akibat infeksi cacing Schistosoma sp. Ada berbagai jenis cacing skistosoma, namun lima jenis yang paling banyak menginfeksi adalah: 

  • S. Japonicum, merupakan jenis cacing yang banyak ditemukan di China, Indonesia, dan Filipina.
  • S. Mansoni, merupakan jenis yang banyak ditemukan di Afrika, Timur Tengah, Kepualaun Karibian, Brazil, dan Suriname.
  • S. Mekongi, yang satu ini merupakan jenis yang banyak ditemukan di Kamboja.
  • S. Guineensis, merupakan jenis yang banyak ditemukan di Afrika.
  • S. Haematobium, merupakan jenis yang banyak ditemukan di Afrika, Timur Tengah, dan Perancis.

Telur cacing ini banyak terdapat di tanaman air pada perairan air tawar, seperti danau atau sungai. Telur ini kemudian termakan oleh siput yang hidup di perairan tersebut dan menetas menjadi larva di dalam saluran cerna siput.

Saat siput mengeluarkan kotoran, larva cacing Scistosoma akan ikut keluar dan mencemari air di area tersebut. Larva ini selanjutnya akan bergerak aktif dan dapat menembus kulit orang yang beraktivitas di perairan yang tercemar tersebut.

Larva kemudian hidup dan berkembang di pembuluh darah manusia. Larva yang berkembang akan menjadi cacing betina dan selanjutnya bertelur. Telur yang ikut dikeluarkan saat seseorang buang air besar menjadi sumber infeksi dan turut berperan dalam penyebaran skistosomiasis.

Gejala

Gejala yang tampak pada seseorang yang mengalami infeksi skistosomiasis bergantung pada organ tempat Scistosoma berdiam. 

Bila Scistosoma menginfeksi saluran cerna, maka gejala yang umumnya muncul antara lain:

  • Nyeri perut
  • Diare
  • Buang air besar berdarah

Selain saluran cerna, Scistosoma juga dapat menginfeksi saluran kencing dan reproduksi seseorang. Gejala yang umumnya dirasakan saat cacing menyerang bagian ini meliputi:

  • Buang air kecil berdarah
  • Luka di vagina
  • Perdarahan vagina
  • Nyeri saat berhubungan seksual
  • Adanya benjolan di vagina
  • Gangguan fungsi prostat dan saluran di sekitar testis 

Bila tidak tertangani dengan baik, infeksi saluran kencing yang meluas ke saluran reproduksi ini dapat berujung pada infertilitas baik pada pria maupun wanita. Sedangkan infeksi pada saluran cerna dapat berakibat pada malnutrisi kronis. Pada anak- anak, malnutrisi amat berbahaya dan berpotensi menyebabkan anemia, gagal tumbuh, dan gangguan perkembangan lainnya.

Selain saluran cerna dan kencing, Scistosoma juga dapat menginfeksi organ tubuh lainya –seperti kulit, mata, otak, otot dan kelenjar adrenal. Gejala yang dikeluhkan akan muncul dari masing-masing organ yang terinfeksi ini.

Pengobatan

Pengobatan skistosomiasis dilakukan dengan pemberian obat praziquantel. Obat ini cukup efektif dalam membunuh larva dan cacing dewasa yang berdiam dalam tubuh seseorang. 

Selain pengobatan, diperlukan juga upaya pencegahan dalam meminimalkan penyebaran infeksi ke lingkungan sekitar. Langkah pencegahan penularan tersebut dilakukan dengan skrinning dan pengobatan masal di daerah endemis serta pemberantasan siput yang menjadi media perkembangan cacing.

Kasus skistosomiasis yang tidak tertangani dengan baik dapat berujung pada berbagai komplikasi seperti:

  • Perdarahan saluran cerna
  • Malnutrisi
  • Gagal ginjal
  • Gangguan ginjal
  • Kencing berdarah atau hematuria
  • Sperma berdarah atau hematospermia
  • Hipertensi pulmonal
  • Infertilitas atau gangguan kesuburan
  • Kanker hati dan kendung kemih
  • Kematian akibat gagal ginjal atau hati 

Pencegahan

Untuk mencegah skistosomiasis, langkah terpenting adalah menjaga kebersihan diri. Berusahalah untuk menghindari aktivitas di perairan air tawar, di mana banyak terdapat kasus skistosomiasis