Sukses

Pengertian

Retraktil testis merupakan suatu gangguan di mana testis naik dan turun di antara skrotum (kantong testis) dan selangkangan. Pada saat testis yang mengalami retraktil dan berada di selangkangan, testis dapat diarahkan dengan tangan untuk kembali ke posisinya di dalam skrotum.

Pada sebagian besar pria, retraktil testis umumnya dapat teratasi dengan sendirinya sebelum atau saat pubertas. Testis dapat berpindah ke posisinya yang benar di skrotum dan tetap di lokasi tersebut secara permanen.

Tetapi, terdapat setidaknya kurang dari 5 persen kasus, di mana retraktil testis menetap di selangkangan dan tidak dapat dipindahkan lagi ke tempat yang seharusnya. Saat hal tersebut terjadi, kondisinya disebut sebagai ascending testicle atau acquired undescended testicle.

Penyebab

Otot yang terlalu aktif dapat menyebabkan testis menjadi retraktil.

Otot kremaster merupakan otot tipis yang menyerupai kantong, yang umumnya menyangga testis. Fungsi utama otot kremaster adalah untuk menjaga kestabilan suhu pada testis. Agar testis dapat berkembang dan berfungsi dengan baik, suhu di sekitarnya harus sedikit lebih dingin dibandingkan suhu tubuh normal.

Saat lingkungan di sekitar relatif hangat, otot kremaster umumnya mengalami relaksasi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan dingin, otot kremaster mengalami kontraksi dan menarik testikel ke atas.

Refleks kremaster juga dapat dirangsang oleh beberapa hal. Salah satunya rangsangan atau sentuhan halus pada saraf genitofemoral di paha atas bagian dalam, atau melalui beberapa kondisi yang memicu emosi tertentu, seperti ansietas. Bila refleks kremaster cukup kuat, testis dapat mengalami retraktil, yaitu menarik testikel keluar dari skrotum dan menuju selangkangan.

Gejala

Pembentukan testis saat berlangsungnya proses perkembangan janin umumnya terjadi di dalam rongga perut. Pada bulan-bulan terakhir pembentukan janin, testis secara bertahap turun ke skrotum.

Bila penurunan tersebut belum terjadi saat persalinan sang bayi, umumnya testis dapat turun dalam beberapa bulan. Pada anak yang mengalami retraktil testis, testis umumnya mengalami penurunan seperti yang seharusnya –tetapi tidak diam menetap di satu tempat.

Tanda dan gejala yang dapat diamati pada retraktil testis adalah:

  • Testikel dapat diarahkan dengan tangan dari selangkangan ke skrotum, dan tidak segera kembali ke selangkangan
  • Testikel dapat secara spontan turun ke skrotum dan tetap di skrotum selama beberapa waktu
  • Testikel dapat naik ke selangkangan secara spontan selama beberapa waktu

Pergerakan naik dan turun retraktil testis hampir selalu terjadi tanpa disertai rasa nyeri atau ketidaknyamanan. Akibatnya, kondisi ini hanya disadari apabila testis tidak lagi tampak atau teraba pada skrotum.

Beruntung, posisi satu testikel umumnya tidak memengaruhi posisi testikel di sisi sebelahnya. Sebagai contoh, seorang pria dapat memiliki satu testis normal dan satu retraktil testis.

Retraktil testis berbeda dari undescended testis (kriptorkidisme). Pada kriptorkidisme, testis tidak pernah turun ke skrotum.

Diagnosis

Diagnosis retraktil testis dapat ditentukan dengan melakukan wawancara medis yang mendetail dan pemeriksaan fisik secara langsung. Bila perlu, dapat juga dilakukan pemeriksaan penunjang tertentu.

Bila testis seseorang tidak berlokasi di skrotum, dokter biasanya dapat menentukan lokasinya ada di selangkangan. Setelah lokasi testis ditentukan, dokter akan mencoba untuk mengarahkannya ke lokasi yang sebenarnya di skrotum.

Apabila kondisi yang dialami penderita memang retraktil testis, testis dapat diarahkan ke skrotum secara mudah dan tanpa rasa nyeri. Setelah itu, testis dapat tetap di skrotum selama beberapa waktu.

Penanganan

Retraktil testis umumnya dapat mengalami penurunan dengan sendirinya sebelum atau saat pubertas. Pada mereka yang mengalami retraktil testis, dokter dapat memantau adanya perubahan pada posisi testis. Evaluasi akan dilakukan secara berkala untuk menentukan bila testis telah berada secara permanen pada skrotum, masih retraktil, atau menetap di selangkangan.

Bila testis dinilai sebagai ascending testicle, yaitu testis naik ke selangkangan dan tidak dapat diarahkan kembali ke skrotum, dokter akan merekomendasikan pembedahan untuk memindahkan testikel secara permanen ke skrotum.

Sementara itu, apabila testis tetap mengalami retraktil saat atau setelah pubertas, dokter juga dapat menyarankan untuk operasi. Tujuannya untuk memastikan kondisi maturasi yang baik pada testis.

Pada prosedur pembedahan tersebut, yang dikenal dengan istilah orkidopeksi, dokter bedah dapat membebaskan testis dan korda dari adanya perlekatan jaringan serta memosisikan testis di skrotum. Setelah tindakan bedah ini, aktivitas seperti bersepeda dan olahraga lainnya sebaiknya dihindari pada dua minggu pertama.

Pemeriksaan lanjutan terkait penyembuhan luka dan posisi testis perlu dilakukan dalam jangka dua minggu hingga enam bulan setelah pembedahan. Mereka yang telah menjalani prosedur pembedahan untuk memperbaiki retraktil testis juga disarankan untuk memantau posisi testisnya secara berkala. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa tidak terjadi lagi perpindahan posisi testis ke selangkangan.

Pencegahan

Belum ada strategi pencegahan yang terbukti efektif secara sepenuhnya dalam menghindari terjadinya retraktil testis. Namun, deteksi dini retraktil testis dapat mempercepat penanganan yang dilakukan dan mencegah terjadinya komplikasi.