Sukses

Pengertian

Kriptorkismus juga disebut sebagai undescendan testis dalam bahasa medis. Kondisi tersebut menyebabkan testis tidak turun ke skrotum.

Setiap satu dari 25 bayi laki-laki akan lahir dengan undescendan testis. Namun, kondisi ini biasanya tidak perlu diterapi karena testis akan turun dengan sendirinya ke skrotum dalam waktu tiga hingga enam bulan pertama. Tapi kasus undescendan testis juga dapat menetap pada satu dari seratus anak laki-laki.

Kriptorkismus dapat terjadi pada salah satu testis saja dan disebut sebagai unilateral atau kedua testis yang disebut bilateral kriptorkismus. Kondisi ini tidak akan memberikan rasa nyeri, namun dapat memberikan risiko gangguan kesehatan yaitu infertilitas dan risiko kanker testis.

Penyebab

Sampai saat ini penyebab dari kriptorkismus masih belum diketahui. Pada masa kehamilan, testis di dalam perut janin seharusnya turun ke skrotum pada usia satu atau dua bulan sebelum kelahiran.

Beberapa risiko yang meningkatkan kemungkinan terjadinya kriptorkismus adalah kelahiran prematur (37 minggu), memiliki berat badan lahir rendah, ada riwayat keluarga, paparan terhadap zat racun seperti pestisida, dan paparan terhadap asap rokok.

Diagnosis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik terhadap skrotum dan testis terutama saat bayi baru lahir dan ketika berusia 6 hingga 8 minggu. Ketika dokter menemukan salah satu atau kedua testis anak tersebut belum turun atau tidak berada di tempat yang normal, maka dapat dicurigai kondisi kriptorkismus.

Pemeriksaan penunjang biasanya jarang dilakukan karena dokter ahli dapat memeriksa adanya testis di dalam skrotum dengan perabaan. Namun, jika tidak dapat dirasakan, bisa saja dilakukan pemeriksaan penunjang seperti sinar X, USG, MRI, dan laparoskopi diagnostik untuk melihat apakah testis berada di dalam perut.

Gejala

Kriptorkismus pada dasarnya tidak menimbulkan gejala apa pun. Penyakit ini diketahui dari hasil pemeriksaan fisik oleh dokter.

Pengobatan

Jika testis masih belum turun pada usia 6 bulan, biasanya kondisi tersebut akan menetap sehingga harus diterapi. Terapi yang dapat dilakukan meliputi orkidopeksi untuk memindahkan testis ke dalam skrotum.

Operasi ini memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Biasanya operasi dilakukan sebelum usia anak 12 bulan untuk menghindari kemungkinan infertilitas dan menurunkan risiko kanker testis.

Terdapat terapi lain seperti menyuntikkan hormon HCG (huan chorionic gonadotropin) untuk menurunkan testis. Namun, terapi tersebut tingkat keberhasilannya hanya 20 persen dan dapat berisiko pubertas dini.