Sukses

Pengertian Koma

Koma merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan suatu kondisi, di mana seseorang tidak sadar dan tidak memberi respons terhadap suara maupun nyeri atau sakit. Kondisi ini terjadi karena menurunnya aktivitas di dalam otak sebagai akibat dari berbagai hal. Misalnya karena cedera pada otak atau infeksi otak.

Sebagian orang yang mengalami koma dapat berujung pada kesembuhan total tanpa ada keluhan yang mengganggu. Sedangkan sebagian lainnya, berujung pada kematian atau tetap hidup namun tidak dapat melakukan aktivitas ringan seperti membuka mata atau berkomunikasi dengan orang lain.

Tingkat kesadaran orang yang mengalami koma sangat bergantung pada bagian otak yang masih berfungsi. Hal ini dapat mengalami perubahan sesuai dengan kondisi orang tersebut.

Mereka yang hidupnya tidak sadar penuh dan tidak bisa memberikan respons cukup pada lingkungannya disebut berada pada fase vegetative state. Artinya, orang tersebut masih dapat menyadari apa yang terjadi di sekitarnya meskipun tidak dapat memberi respons baik dalam bentuk komunikasi maupun gerakan tubuh.

Koma

Diagnosis Koma

Untuk menentukan apakah seseorang dalam keadaan koma, dokter dapat melihatnya berdasarkan kondisi kesadaran orang tersebut. Dalam dunia medis, tingkat kesadaran seseorang diukur menggunakan standar Glasgow coma scale.

Skala ini terkalkulasi dengan angka berdasarkan respons terhadap mata, gerakan, dan suara atas stimulasi yang diberikan. Nilai tertinggi skala ini adalah 15, sedangkan terendahnya adalah 3. Semakin mendekati angka 3, koma yang dialami seseorang berarti semakin dalam dan umumnya harapan sembuh pun semakin rendah.

  • Pemeriksaan laboratorium

Pemeriksaan laboratorium seperti darah rutin, gula darah, elektrolit, dan pemeriksaan spesifik obat mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab seseorang berada dalam kondisi koma.

  • Pemeriksaan imaging

Pemeriksaan imaging seperti CT-scan, MRI atau EEG diperlukan untuk melihat secara langsung struktur anatomis otak dan pola aktivitas di otak. Tumor otak dan stroke akan mudah terlihat melalui CT-scan atau MRI. Sedangkan EEG akan menunjukkan kelainan aktivitas kerja otak pada kasus epilepsi.

Penyebab Koma

Banyak hal dapat menyebabkan seseorang dalam kondisi koma, Beberapa di antaranya adalah:

  • Infeksi, seperti radang selaput otak atau meningitis
  • Trauma, seperti cedera kepala
  • Penyakit metabolik, seperti diabetes, gagal ginjal atau gagal hati
  • Stroke, baik stroke karena sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah
  • Kejang
  • Keracunan, misalnya keracunan zat buang karbon monoksida
  • Overdosis obat-obatan dan alkohol
  • Tumor otak
  • Kekurangan oksigen

Gejala Koma

Tanda yang tampak ketika seseorang berada dalam kondisi koma di antaranya:

  • Mata menutup
  • Pupil mata tidak memberi respons terhadap cahaya
  • Tidak ada respons tubuh, termasuk tangan dan kaki, terhadap stimulus nyeri
  • Napas tidak teratur

Pengobatan Koma

Penanganan terhadap orang yang mengalami koma dilakukan berdasarkan penyakit yang melatarbelakanginya. Pada beberapa kasus, dibutuhkan tindakan operasi otak. Misalnya pada kasus trauma, stroke atau tumor. Sedangkan pada kasus koma akibat penyakit metabolik –seperti diabetes atau gagal ginjal, penyakit yang mendasarinya harus terlebih dahulu diatasi.

Hal yang tidak kalah penting dalam penanganan orang yang mengalami koma adalah nutrisi. Pemberian nutrisi seseorang yang tidak sadar bisa dilakukan melalui selang yang menghubungkan hidung dengan lambung. Orang yang sedang koma tidak boleh diberikan makanan atau minuman melalui mulut karena berisiko tinggi tersedak.

Komplikasi Koma

Komplikasi paling fatal dari koma adalah kematian. Kemungkinan lain yang dapat terjadi adalah seseorang tetap hidup, namun berada pada fase vegetative state.

Fase ini terjadi bila seseorang tetap hidup namun tidak mampu melalukan aktivitas fisik, sekali pun aktivitas yang ringan. Kondisi ini juga membuat orang tersebut tidak mampu berkomunikasi dengan lingkungannya.

Pencegahan Koma

Untuk mencegah seseorang jatuh dalam kondisi koma, penyakit yang mendasarinya harus bisa teratasi dengan baik. Pada kasus infeksi, maka infeksi harus terlebih dahulu diatasi secara tuntas.

Sedangkan pada penderita diabetes, maka kadar gula darah harus dikontrol dengan baik. Begitu juga halnya dengan orang yang mengalami gangguan ginja dan hati, di mana pengobatan harus dilakukan secara rutin.

Untuk mencegah trauma, budayakan mengenakan helm dan pelindung kepala ketika harus berkendara dengan motor. Begitu juga saat melakukan olahraga yang memiliki terjadi benturan kepala.

Hindari penggunaan obat-obatan di luar pengawasan dokter. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah membatasi konsumsi alkohol untuk menurunkan risiko overdosis.