Sukses

Pengertian

Kleptomania merupakan suatu kondisi mental di mana orang dengan kondisi tersebut tidak mampu menahan dorongan untuk mengambil tanpa ijin suatu benda. Biasanya, benda yang diambil sebetulnya tidak dibutuhkan dan umumnya tidak bernilai tinggi.

Kleptomania merupakan gangguan jiwa yang cukup jarang, tapi tergolong serius. Kondisi kejiwaan ini dapat menyebabkan gangguan emosional yang berlanjut pada orang yang bersangkutan. Di luar itu, juga menimbulkan konsekuensi mental–sosial bagi orang-orang terdekatnya.

Kleptomania merupakan gangguan pengendalian impuls. Ditandai dengan adanya kelainan terkait dengan kendali diri secara emosional atau perilaku. Seseorang dengan gangguan pengendalian impuls memiliki kesulitan menahan godaan atau dorongan untuk melakukan hal yang berlebihan atau berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Kleptomania

Penyebab

Penyebab kleptomania tidak diketahui secara pasti. Beberapa teori menyatakan bahwa ada kemungkinan telah terjadi perubahan pada otak yang menjadi asal mula timbulnya kleptomania. Dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memahami beberapa kemungkinan penyebab lainnya.

Namun, kleptomania diduga berkaitan dengan:

  • Gangguan pada serotonin. Senyawa kimia otak ini menjaga keseimbangan suasana hati dan emosi. Kadar serotonin yang rendah, cukup sering ditemui pada mereka yang memiliki kecenderungan perilaku impulsif.
  • Gangguan kecanduan. Tindakan pengutilan barang dapat memicu produksi dopamin, senyawa kimia otak yang menimbulkan rasa kepuasan. Sebagian orang mencari kepuasan dari perilaku tersebut terus-menerus.
  • Sistem opioid otak. Dorongan kleptomania diatur oleh sistem opioid pada otak. Adanya ketidakseimbangan pada sistem ini dapat meningkatkan kesulitan untuk menahan dorongan.

Kleptomania merupakan kondisi yang jarang ditemui di Indonesia. Namun, masih banyak orang dengan masalah kleptomania tidak mencari penanganan, atau dipenjara akibat pencurian yang berulang. Itu sebabnya banyak kasus kleptomania yang tidak terdeteksi.

Kleptomania umumnya mulai timbul pada masa remaja atau dewasa muda, namun juga dapat berawal pada masa dewasa. Beberapa faktor risiko yang dikaitkan dengan kleptomania adalah:

  • Riwayat keluarga. Memiliki anggota keluarga, seperti orang tua atau saudara kandung yang menderita kleptomania, gangguan obsesif kompulsif, atau kecanduan alkohol dan zat lainnya. Gangguan tersebut bisa meningkatkan risiko seseorang mengalami kleptomania.
  • Memiliki gangguan jiwa lainnya. Individu dengan gangguan kleptomania umumnya memiliki gangguan jiwa lainnya, seperti gangguan afektif bipolar, ansietas, gangguan pola makan, gangguan penggunaan zat tertentu, atau gangguan kepribadian.

Gejala

Beberapa gejala kleptomania yang dapat dikenali meliputi antara lain:

  • Ketidakmampuan menahan dorongan yang kuat untuk mengambil tanpa ijin/ tanpa membayar benda-benda yang tidak dibutuhkan.
  • Merasakan tekanan yang meningkat, kecemasan, atau ansietas sebelum melakukan tindakan pencurian.
  • Merasakan kepuasan, kenikmatan, atau gratifikasi saat melakukan tindakan pencurian.
  • Merasakan kebencian terhadap diri sendiri, rasa bersalah, malu, atau takut setelah melakukan tindakan pencurian.
  • Timbul kembali dorongan serta repetisi dari siklus kleptomania tersebut.

Orang dengan gangguan kleptomania secara umum menunjukkan karakteristik sebagai berikut:

  • Berbeda dengan pencuri, orang dengan gangguan kleptomania tidak mencuri untuk manfaat personal, balas dendam, atau tindakan kenakalan. Mereka melakukan pencurian akibat terdapatnya dorongan yang sangat kuat dan tidak dapat ditahan.
  • Episode kleptomania umumnya timbul secara tiba-tiba, tanpa perencanaan, dan tanpa bantuan atau kolaborasi dengan orang lain.
  • Sebagian besar individu dengan kleptomania mencuri dari tempat umum, seperti toko dan supermarket. Sebagian kecil dapat mencuri dari teman atau kerabat, misalnya pada saat pesta.
  • Sering kali, benda yang dicuri tidak memiliki nilai bagi orang tersebut, yang sebetulnya juga mampu membelinya.
  • Benda yang dicuri umumnya hanya disimpan dan tidak digunakan. Benda tersebut dapat juga disumbangkan, diberikan kepada anggota keluarga dan teman, atau secara sembunyi-sembunyi dikembalikan ke tempat benda tersebut pertama kali dicuri.
  • Dorongan untuk mencuri berubah-ubah. Dorongan dapat timbul dan hilang sewaktu-waktu, atau dapat terjadi dengan intensitas yang lebih tinggi atau lebih rendah seiring berjalannya waktu.

Diagnosis

Seseorang dengan gejala yang mengarah pada diagnosis kleptomania dapat dievaluasi lebih lanjut dengan pemeriksaan fisik dan psikologis. Pemeriksaan fisik dapat menentukan adanya penyebab medis yang memicu timbulnya gejala.

Kleptomania umumnya didiagnosis berdasarkan tanda dan gejala yang dialami oleh seseorang. Karena kondisi ini merupakan salah satu jenis gangguan pengendalian impuls, dokter dapat menanyakan beberapa hal untuk menetapkan diagnosis, seperti:

  • Menanyakan mengenai dorongan yang dirasakan dan perasaan yang dialami pada saat timbul dorongan tersebut.
  • Memberikan beberapa contoh situasi dan menanyakan apakah gejala kleptomania akan dirasakan bila ditempatkan pada situasi tersebut.
  • Meminta untuk mengisi kuesioner psikologis atau penilaian diri.

Penanganan

Rasa takut dan malu memang dapat menghambat seseorang dengan kleptomania untuk berobat. Meski begitu, pengobatan sangat penting dilakukan. Tanpa penanganan yang tepat, kleptomania dapat berlanjut menjadi kondisi jangka panjang.

Penanganan kleptomania umumnya melibatkan pengobatan, psikoterapi, atau keduanya, yang dijelaskan lebih lanjut sebagai berikut:

  • Pengobatan. Bergantung pada adanya gangguan jiwa lainnya, dokter akan menentukan jenis pengobatan yang perlu diresepkan.
  • Psikoterapi. Jenis psikoterapi yang biasa dipakai dikenal dengan terapi perilaku kognitif. Terapi ini dapat membantu seseorang dengan kleptomania mengenali nilai-nilai dan perilaku negatif yang tidak sehat, untuk menggantinya dengan perilaku yang lebih sehat dan positif.

Pencegahan

Penyebab pasti kleptomania tidak diketahui. Karena itulah, belum ada metode pencegahan yang dapat memastikan seseorang terhindar dari kondisi ini. Mendapatkan penanganan segera setelah tindakan pencurian kompulsif terjadi dapat mencegah memburuknya kondisi kleptomania serta menghindari konsekuensi negatif yang timbul.