Sukses

Pengertian Naropin

Naropin merupakan obat yang di produksi oleh Astrazeneca Pharmaceuticals. Obat ini mengandung Ropivacain HCl yang diindikasikan untuk anestesi bedah (blok epidural untuk operasi termasuk operasi caesar, blok saraf perifer & anestesi infiltrasi). Penatalaksanaan nyeri akut (infus epidural kontinu atau pemberian bolus intermiten misalnya: Nyeri pasca operasi atau persalinan; blok saraf tepi & anestesi infiltrasi). Mekanisme kerja obat ini adalah ropivacaine merupakan anestesi lokal tipe amida kerja panjang dengan efek anestesi dan analgesik. Pada dosis tinggi menghasilkan anestesi bedah, sedangkan pada dosis rendah menghasilkan blok sensoris (pereda nyeri) dengan blok motorik terbatas dan tidak progresif. Ropivacaine, seperti anestesi lokal lainnya, menyebabkan blokade propagasi impuls yang dapat dibalik sepanjang serabut saraf dengan mencegah pergerakan ion natrium ke dalam melalui membran sel serabut saraf.

Keterangan Naropin

  • Golongan: Obat Keras
  • Kelas Terapi: Anastesi Lokal dan Umum
  • Bentuk: Injeksi
  • Kandungan: Ropivacain HCl 7,5 mg/ml
  • Satuan Penjualan: Polyampul
  • Kemasan: Polyampul Duofit @ 10 ml; Polyampul @ 20 ml
  • Farmasi: Astrazeneca Pharmaceuticals

Kegunaan Naropin

Naropin digunakan untuk anestesi bedah (blok epidural untuk operasi termasuk operasi caesar, blok saraf perifer & anestesi infiltrasi). Penatalaksanaan nyeri akut (infus epidural kontinu atau pemberian bolus intermiten misalnya: Nyeri pasca operasi atau persalinan; blok saraf tepi & anestesi infiltrasi).

Dosis & Cara Penggunaan Naropin

Naropin merupakan obat yang termasuk ke dalam golongan obat keras sehingga pada setiap pembelian nya harus menggunakan resep dokter. Selain itu, dosis penggunaan Naropin juga harus dikonsultasikan dengan dokter dan apoteker terlebih dahulu sebelum digunakan, karena dosis penggunaan nya berbeda-beda setiap individu tergantung berat tidaknya penyakit yang diderita. Penggunaan Naropin injeksi harus dibantu oleh tenaga ahli medis.

  • Dewasa & anak-anak > 12 tahun
  • Anestesi bedah:
    • Epidural Lumbal: 15-25 mL (7.5 mg / mL)
    • Epidural Lumbal pada Operasi Caesar : 5-20 mL (7.5 mg / mL)
    • Epidural Toraks untuk Nyeri Pasca Operasi: 5-15 mL ( 7.5 mg / mL),
    • Blok Saraf Kecil & Infiltrasi: 1-30 mL (7.5 mg / mL).
  • Manajemen nyeri akut:
    • Lumbar Epidural 10-20 mL bolus atau 10-15 mL (minimal interval 30 menit) injeksi intermiten, Epidural Lumbar pada Nyeri Persalinan &
    • Manajemen Nyeri Pasca Operasi 6-14 mL / jam melalui infus terus menerus,
    • Epidural Toraks pada Nyeri Pasca Operasi 4-8 mL / jam,
    • Blok Saraf Minor & Infiltrasi) 1-100 mL.

Efek Samping Naropin

Hipotensi (tekanan darah rendah), mual, parestesia (kesemutan), pusing, sakit kepala; bradikardia (denyut jantung lambat), takikardia (denyut jantung cepat), hipertensi, muntah, retensi urin, suhu tinggi, kekakuan, nyeri punggung, insomnia, nyeri dada, nyeri, oliguria (pengeluaran urin < 1 ml/kg/jam).

Kontraindikasi:
Hipersensitif terhadap anestesi lokal tipe amida. Intra vena regional, anestesi paracervical obstetri. Hipovolemia (penurunan volume darah akibat kehilangan darah atau cairan tubuh).

Interaksi Obat:
Efek toksik meningkat dengan anestesi lokal tipe amida misalnya, lidokain, mexiletine. Penggunaan simultan dengan anestesi umum atau opioid dapat mempotensiasi efek samping. Meningkatkan kadar plasma dengan fluvoxamine, verapamil & enoxacin. Anti-arrhythmics kelas III misalnya, amiodarone.

Kategori Kehamilan:
Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) mengkategorikan naropin ke dalam Kategori B:
Studi pada reproduksi hewan tidak menunjukkan risiko janin, tetapi tidak ada studi terkontrol pada wanita hamil atau studi reproduksi hewan telah menunjukkan efek buruk (selain penurunan kesuburan) yang tidak dikonfirmasi dalam studi terkontrol pada wanita hamil trimester pertama (dan tidak ada bukti risiko pada trimester berikutnya).

Artikel
    Penyakit Terkait