Menu
KlikDokter
Icon Search
Icon LocationTambah Lokasi KamuIcon Arrow
HomeInfo SehatTulang7 Penyebab Skoliosis yang Perlu Kamu Waspadai
Tulang

7 Penyebab Skoliosis yang Perlu Kamu Waspadai

Fatin NurJauhara, 24 Jan 2023

Ditinjau oleh dr. Dyah Novita

Icon ShareBagikan
Icon Like

Skoliosis bisa disebabkan oleh sejumlah faktor. Apa penyebab terjadinya skoliosis? Mari simak di sini.

7 Penyebab Skoliosis yang Perlu Kamu Waspadai

Skoliosis adalah kondisi tulang belakang melengkung ke samping, bisa ke kiri, kanan, ataupun keduanya. Kelainan tulang belakang bisa menyebabkan lengkungan ringan berkisar 10 derajat. Tulang penderita skoliosis juga bisa melengkung sangat parah hingga 100 derajat.

Lengkungan tulang yang sangat parah bisa mengganggu fungsi paru. Selain itu, pengidap skoliosis juga bisa mengalami gejala berupa pinggang ataupun bahu tidak rata hingga ada satu sisi tulang rusuk yang menjorok ke depan.

Lalu, apakah penyebab terjadinya skoliosis? Menurut laporan National Health Service, Inggris, sekitar delapan dari 10 kasus skoliosis tidak diketahui penyebabnya. Kondisi ini disebut skoliosis idiopatik.

Meski begitu, beberapa kondisi diyakini bisa jadi penyebab terjadinya skoliosis, di antaranya sebagai berikut.

1. Postur Tubuh yang Buruk

Belum diketahui secara pasti apakah postur tubuh yang buruk bisa menjadi penyebab terjadinya skoliosis. Kebiasaan yang diduga menyebabkan skoliosis, seperti membawa tas berat di punggung atau duduk tidak tegak saat bekerja.

Meski begitu, berdasarkan penelitian dalam jurnal Frontiers in Pediatrics, postur tubuh yang salah dapat jadi penyebab skoliosis dengan kelengkungan tulang lebih dari lima derajat.

2. Lumpuh Otak

Gangguan fungsi saraf dapat menyebabkan skoliosis. Kondisi ini bisa menyebabkan skoliosis berkembang dengan cepat sehingga diperlukan pembedahan.

Salah satu gangguan fungsi saraf yang bisa sebabkan skoliosis, yaitu lumpuh otak atau cerebral palsy.  Lumpuh otak adalah kerusakan otak pada bayi dan anak yang menyebabkan gangguan gerak motorik. 

Menurut riset dalam Journal Of Spine Surgery, sebanyak 21–64 persen penderita lumpuh otak mengalami skoliosis.

3. Duchenne Muscular Dystrophy

Disampaikan dr. Dyah Novita Anggraini, skoliosis termasuk penyakit keturunan. 

“Jadi, bila orang tua menderita skoliosis, kemungkinan anaknya mengalami hal serupa juga besar,” katanya.

Menurut American Academy of Orthopaedic Surgeons, sekitar 30 persen kasus skoliosis disebabkan oleh faktor keturunan.

Salah satu kondisi genetik yang bisa menyebabkan skoliosis, yaitu duchenne muscular dystrophy (DMD). DMD adalah salah satu jenis penyakit distrofi otot atau melemahnya otot sehingga menyebabkan kecacatan. 

Kelemahan pada otot bisa menyebabkan perubahan posisi tubuh sehingga skoliosis bisa berkembang. Sebuah studi dalam European Spine Journal, mengungkapkan sebanyak 75–90 persen penderita DMD mengalami skoliosis.

4. Spina Bifida

Spina bifida adalah kondisi ketika tulang belakang dan sumsum tulang belakang bayi tidak berkembang sempurna di kandungan. Kondisi ini menyebabkan pengidapnya menderita kelainan pada ruas tulang belakang dan sumsum tulang belakang.

Spina bifida dipercaya dapat menjadi penyebab skoliosis. 

5. Kelainan Sumsum Tulang Belakang

Lalu, apa lagi sih yang bisa menyebabkan skoliosis? Skoliosis bisa disebabkan oleh kelainan sumsum tulang belakang.

Kelainan sumsum tulang belakang terjadi akibat tidak sempurnanya pembentukan satu atau beberapa ruas tulang belakang (vertebra). Kondisi ini menyebabkan tulang belakang melengkung ke samping. Karena salah satu area vertebra tumbuh lebih lambat. 

6. Infeksi Tulang Belakang

Infeksi tulang belakang dapat berkembang akibat trauma usai prosedur urologi maupun adanya infeksi pada organ sekitar tulang belakang. Sering kali infeksi disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Bakteri menyebar lewat aliran darah.

Struktur tulang belakang yang terinfeksi bisa rusak sehingga menimbulkan kecacatan, seperti skoliosis. Skoliosis akibat infeksi tulang belakang biasanya perlu dioperasi.

7. Riwayat Operasi Dinding Dada Ketika Bayi

Tumor, infeksi dinding dada, dan trauma pada dinding dada bayi biasanya perlu ditangani dengan bedah dinding dada. Jenis operasi bedah terbuka ini dilakukan dengan membuat sayatan di dada untuk mengangkat bagian yang terinfeksi, seperti jaringan lunak, tulang rawan, tulang dada, atau tulang rusuk.

Berdasarkan studi dalam Journal of Children’s Orthopaedics, orang yang pernah menjalani bedah dinding dada saat bayi berisiko lebih tinggi mengalami skoliosis. Risiko kian meningkat apabila bedah dilakukan pada tulang rusuk keenam atau lebih.

Pembedahan yang dilakukan di tulang rusuk dapat memberikan beban lebih pada tulang belakang. Tulang belakang pun bisa bergeser ke samping dan berkembang menjadi skoliosis.

Jadi, sudah terjawab ya apakah penyebab terjadinya skoliosis. Skoliosis bisa bertambah parah seiring bertambahnya waktu. Oleh sebab itu, segera periksa ke dokter bila kamu menemukan tanda skoliosis. Ciri-ciri skoliosis yang bisa dikenali, seperti posisi kepala tidak tegak lurus dengan badan dan bahu tidak rata akibat salah satu tulang belikat lebih menonjol.

Konsultasi lebih mudah, pakai layanan Tanya Dokter di aplikasi Klikdokter. 

Meskipun skoliosis pada orang dewasa tidak dapat dicegah, kamu tetap bisa #JagaSehatmu dengan rutin melakukan olahraga, seperti berenang dan latihan kekuatan.

(ADT/NM)

Konsultasi Dokter Terkait

Tanya Dokter