Menu
KlikDokter
Icon Search
Icon LocationTambah Lokasi KamuIcon Arrow
HomeInfo SehatSarafMengenal Penyebab dan Faktor Risiko Tourette Syndrome
Saraf

Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Tourette Syndrome

Siti Nurmayani Putri, 01 Sep 2022

Ditinjau oleh Tim Medis Klikdokter

Icon ShareBagikan
Icon Like

Sindrom Tourette picu munculnya gerakan ataupun suara berulang yang sulit dikontrol. Ini faktor risiko dan penyebab Tourette syndrome.

Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Tourette Syndrome

Belum lama ini, video perempuan pengidap sindrom Tourette viral di media sosial. Awalnya, remaja 16 tahun itu merasakan adanya gerakan kecil di beberapa bagian tubuhnya. Gerakan itu muncul di luar kendali.

Lambat laun gerakan tersebut terjadi semakin intens. Dalam medis, kondisi ini dikenal sebagai tics alias pergerakan otot mendadak yang tidak terkontrol. Tics juga bisa membuat penderita sindrom Tourette bergumam atau berbicara sendiri tanpa sadar.

Lantas, apa sebenarnya penyebab Tourette syndrome? Apa saja faktor yang bisa meningkatkan risiko sindrom Tourette? Simak terus ulasan di bawah ini, ya!

Penyebab Sindrom Tourette

Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, penyebab penyakit sindrom Tourette belum diketahui secara pasti. Namun, diduga kelainan gen yang diwariskan dari orangtua berperan memicu Tourette syndrome.   

Peneliti menemukan bahwa orangtua pengidap sindrom Tourette, berpotensi 50 persen mewariskan gen pemicu sindrom Tourette ke anak-anaknya.

Anak laki-laki memiliki kemungkinan 3-4 kali lebih besar mewarisi gejala sindrom Tourette dibandingkan anak perempuan.

Disampaikan dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, kelainan gen menyebabkan terganggunya fungsi basal ganglia, yaitu bagian otak yang mengontrol gerak tubuh. Basal ganglia juga bertanggung jawab mengatur emosi, proses pembelajaran, dan munculnya gerak tubuh tanpa sadar.

Nah, ketika basal ganglia terganggu, kadar neurotransmitter di otak jadi tidak seimbang. Neurotransmitter adalah senyawa kimia yang berperan mengantarkan pesan dari satu sel ke sel lainnya. 

Salah satu neurotransmitter yang terdampak adalah dopamin yang berperan menyampaikan rangsangan ke seluruh tubuh.

Pada gilirannya, kadar neurotransmitter abnormal bisa mengganggu fungsi otak sehingga memicu tics. Pergerakan otot yang tidak terkontrol ini umumnya terjadi di usia 2-18 tahun. 

Tics menyebabkan pengidap sindrom Tourette mengalami gejala khas. 

“Gejala Tourette syndrome, yaitu muncul gerakan tanpa disengaja, berulang-ulang, dan tidak bisa dikendalikan oleh penderita,” ujar dr. Muhammad Iqbal.

Pengidap sindrom Tourette bisa berulang kali mengedipkan mata, mengangkat bahu, bergumam, maupun berbicara di luar kendali.

Sebagian besar pengidap Tourette syndrome tidak membutuhkan penanganan khusus jika gejala yang timbul tidak terlalu mengganggu. Tics juga dapat berkurang setelah memasuki usia remaja.

Faktor Risiko Tourette Syndrome

Mengenal Penyebab dan Faktor Risiko Tourette Syndrome

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita sindrom Tourette. Faktor risiko yang paling umum adalah memiliki riwayat keluarga pengidap sindrom Tourette ataupun gangguan tics lainnya yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya Tourette syndrome.

Selain itu, laki-laki juga berpotensi lebih besar mengidap sindrom Tourette daripada perempuan. 

Diduga, risiko mengidap sindrom Tourette juga makin besar apabila mengalami kondisi di bawah ini: 

  • Dilahirkan dari ibu yang punya kebiasaan merokok selama hamil
  • Ibu mengalami komplikasi kehamilan
  • Punya berat badan lahir rendah
  • Infeksi selama masa kanak-kanak

Meski begitu, diperlukan penelitian lanjutan untuk mengonfirmasi faktor risiko tersebut. Riset lanjutan juga diperlukan untuk membuktikan kaitan antara gangguan kecemasan dan berkembangnya sindrom Tourette.

Pasalnya, gejala khas sindrom Tourette, yaitu tics juga bisa dialami orang dengan gangguan obsesif-kompulsif (OCD), autisme, atau attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

“Gangguan mood atau kecemasan pada masa kanak-kanak juga bisa meningkatkan risiko munculnya tics maupun sindrom Tourette. Hal ini juga dapat memengaruhi kambuhnya tics. Misalnya tics yang hilang, kemudian kambuh lagi ketika mengalami stres atau gangguan kecemasan,” tutur dr. Muhammad Iqbal.

Artikel Lainnya: Ketahui Gangguan Mental yang Disebabkan Genetik

Penyebab Tourette syndrome memang belum diketahui secara pasti. Namun, tidak ada salahnya kamu melakukan pemeriksaan ke dokter spesialis saraf apabila mengalami gerakan di luar kendali.

Mama-Papa juga bisa mengunjungi dokter, apabila anak berulang kali menunjukkan gerakan atau bergumam tanpa sadar. Konsultasi enggak sulit kok, pakai fitur Tanya Dokter KlikDokter aja biar lebih gampang!

Melalui pemeriksaan, dokter dapat memastikan penyebab munculnya tics. Sebab, tidak semua anak yang mengalami tics mengidap sindrom Tourette. Pada beberapa kasus, tics yang terjadi dalam hitungan pekan hingga bulan bisa hilang sendiri. 

Untuk tahu informasi seputar kesehatan anak lainnya, unduh aplikasi KlikDokter, solusi untuk #JagaSehatmu dan si kecil.

(ADT/JKT)

Referensi:

  • Centers for Disease Control and Prevention. Diakses 2022. Tourette Syndrome.

Ditinjau oleh dr. Muhammad Iqbal Ramadhan

sindrom tourette

Konsultasi Dokter Terkait

Tanya Dokter