Reproduksi

5 Jenis Pemeriksaan untuk Mendeteksi Miom pada Tubuh

Siti Putri Nurmayani, 30 Nov 2022

Ditinjau Oleh dr. Arina Heidyana

Terkadang, seseorang tidak sadar bahwa ia memiliki miom di dalam tubuhnya. Ini 5 cara mendeteksi miom yang bisa dilakukan.

5 Jenis Pemeriksaan untuk Mendeteksi Miom pada Tubuh

Miom alias mioma adalah kondisi tumbuhnya massa atau jaringan di dalam rahim atau di luar rahim. Beruntungnya, penyakit yang satu ini tidak bersifat ganas. Bahkan, pada beberapa kasus, kondisi ini ditemukan secara tidak sengaja.

Pada umumnya, miom tidak memiliki gejala yang khusus. Akan tetapi, beberapa orang yang memiliki miom dalam tubuhnya mengeluhkan perut terasa penuh dan membesar, nyeri saat menstruasi, dan nyeri panggul berkepanjangan.

Untuk mendeteksinya, diperlukan USG miom dan beberapa tes lainnya. Berikut sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk mendiagnosis miom dalam tubuh:

1. USG

USG

Ultrasonografi menjadi salah satu tes untuk mendeteksi miom. Diagnosis mioma uteri ini menggunakan gelombang suara untuk mengambil gambar rahim.

Nantinya, dokter bisa melihat apakah terdapat miom, letaknya, dan seberapa besar ukurannya.

Artikel Lainnya: Fakta Tentang Miom yang Perlu Anda Tahu

2. MRI

Jika informasi dari hasil USG miom tidak lengkap, dokter mungkin menyarankan MRI atau magnetic resonance imaging.

Selain miom, metode ini juga dapat mendeteksi jenis tumor lain yang mungkin ada di tubuhmu. Setelah MRI, dokter bisa memutuskan pengobatan terbaik sesuai kondisi pasien.

Tes MRI diawali dengan infus di bagian lengan. Kemudian, dokter akan menyuntikkan zat pewarna khusus yang bisa membantu agar miom bisa terlihat lebih jelas.

Setelahnya, kamu diminta berbaring di tempat tidur dan masuk ke mesin MRI selama 45-60 menit.

Menurut dr. Arina Heidyana, MRI menjadi salah satu metode paling bagus untuk mendeteksi miom.

“Dengan melakukan pemeriksaan MRI, bisa lebih jelas mengetahui letak dan ukuran dari miom. Akan tetapi, pemeriksaan USG juga biasanya sudah cukup untuk mendeteksi miom,” tuturnya.

3. Histerosonografi

Pada tes histerosonografi, dokter akan memberikan saline steril atau air garam agar miom atau jaringan apa pun di lapisan rahim lebih mudah terlihat.

Biasanya, dokter akan meminta tes histerosonografi dilakukan seminggu setelah menstruasi. Sebelum melakukan prosedur, hindari hubungan seksual selama beberapa hari.

4. Histerosalpingografi (HSG)

Dokter dapat menyarankan tes histerosalpingografi jika kamu berencana memiliki anak. Selain mendiagnosis miom, HSG juga dapat mendeteksi kondisi tuba falopi.

Dokter akan melakukan rontgen rahim dan saluran telur dengan menggunakan zat pewarna khusus untuk mendapatkan hasil yang lebih jelas.

Selama tes, kamu diminta untuk berbaring telentang dengan kaki yang diangkat. Posisinya seperti sedang menjalani pemeriksaan panggul.

5. Histeroskopi

Metode lainnya untuk mendeteksi miom adalah histeroskopi. Prosedur ini dilakukan dengan memasukkan teleskop kecil melalui leher rahim ke dalam rahim.

Untuk melebarkan rahim, cairan khusus akan disuntikkan supaya dokter bisa melihat area dalam rahim secara jelas.

Kamu mungkin akan mengalami kram atau sedikit perdarahan selama beberapa hari setelah histeroskopi.

Artikel Lainnya: Inilah Ciri Sakit Perut Akibat Miom

Cara mendeteksi miom pada tubuh tadi bisa diskusikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan metode mana yang paling tepat.

Setelah miom terdeteksi, dokter akan memberikan kode diagnosis mioma uteri untuk membedakan pelayanan yang akan dilakukan setelahnya.

Paling penting, #JagaSehatmu dengan mengenali gejala-gejala yang berkaitan dengan miom.

Apabila mengalami menstruasi yang menyakitkan, nyeri saat berhubungan seksual, atau nyeri di bagian punggung bawah, segera konsultasikan kepada dokter.

Kamu bisa memanfaatkan layanan Tanya Dokter di aplikasi KlikDokter untuk berkonsultasi secara online.

(DA/JKT)

Mioma Uteri
  • National Health Service UK. Diakses 2022. Fibroids.
  • Institute for Quality and Efficiency in Health Care. Diakses 2022. Uterine Fibroids. 
  • Mayo Clinic. Diakses 2022. Uterine Fibroids.