Sukses

Pemanis Aspartam untuk Diabetes, Aman atau Berbahaya?

Aspartam merupakan jenis pemanis buatan yang disebut-sebut lebih aman untuk dikonsumsi penderita diabetes. Benarkah pernyataan tersebut menurut dokter? Cek di sini!

Aspartam merupakan jenis pemanis buatan yang diproduksi menggunakan dua jenis asam amino, yaitu fenilalanin dan asam aspartat. Berdasarkan Food Insight, aspartam disebut 200 kali lipat lebih manis daripada gula pasir.

Kendati demikian, aspartam dan gula pasir sama-sama memiliki jumlah kalori yang sama, yaitu 4 kalori per gram. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak penderita diabetes: apakah aspartam aman dikonsumsi dan tidak memicu lonjakan gula darah?

1 dari 3 halaman

Aspartam dan Gula Darah

Disampaikan oleh direktur program manajemen diabetes di Friedman Diabetes Institute, Amerika Serikat, dr. Gerald Bernstein, aspartam aman dikonsumsi penderita diabetes. 

“Hal itu karena aspartam tidak meningkatkan kadar gula darah,” katanya, dikutip dari Livestrong.

Senada dengan itu, penelitian yang diterbitkan dalam European Journal of Clinical Nutrition tahun 2018 menegaskan bahwa aspartam tidak menyebabkan lonjakan gula darah.

Artikel Lainnya: Pemanis Buatan untuk Penderita Diabetes, Apakah Aman?

Tidak hanya sebatas itu, aspartam bahkan dikatakan dapat digunakan untuk membantu menurunkan berat badan penderita diabetes. Pemanis buatan ini pun dinilai tidak merusak keseimbangan bakteri di dalam tubuh. 

“Aspartam sepenuhnya dicerna menjadi asam aspartat, fenilalanin, dan metanol di dalam usus kecil, lalu kemudian diserap dalam darah. Hal itu tidak mengganggu proses pencernaan,” jelas dr. Bernstein.

2 dari 3 halaman

Tetap Tidak Boleh Dikonsumsi Berlebihan

Meski tergolong aman, dr. Arina Heidyana menilai bahwa aspartam untuk diabetes tetap tidak boleh dikonsumsi secara berlebihan.

“Tetap ada batasan mengonsumsinya (aspartam untuk diabetes). Sebab, jika berlebihan, konsumsi aspartam pasti juga akan berimbas pada kadar gula darah,” jelas dr. Arina.

“Batasan mengonsumsi aspartam, yaitu 50 miligram per kilogram berat badan dalam sehari,” tegasnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Food and Drug Administration (FDA). Menurut lembaga tersebut, aspartam memiliki rasa yang jauh lebih manis daripada gula pasir. Oleh karena itu, sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah sedikit saja.

Seorang ahli diet dari Massachusetts, Amerika Serikat, Dana Greene, RD, bahkan menganjurkan penderita diabetes untuk tidak mengonsumsi aspartam sama sekali. 

Konsumsi aspartam dan pemanis buatan pada penderita diabetes dikhawatirkan dapat membangkitkan nafsu makan. 

Hal ini dapat memupuk keinginan untuk menyantap lebih banyak makanan manis lainnya, yang pada akhirnya bisa meningkatkan kadar gula darah dan risiko obesitas.

Jika Anda adalah penderita diabetes yang sudah terbiasa mengonsumsi aspartam, lebih baik kurangi porsinya secara perlahan sampai berhenti sama sekali.

Artikel Lainnya: Bolehkah Orang Diabetes Mengonsumsi Gula Sukralosa?

“Untuk mengatasi ketergantungan (aspartam), konsumsilah dalam jumlah sedikit. Kemudian, kurangilah takarannya perlahan hingga akhirnya dapat lepas dari pemanis buatan tersebut,” terang Dana.

Kendati secara umum aspartam aman dikonsumsi bahkan untuk penderita diabetes, zat ini tidak direkomendasikan bagi pengidap penyakit genetik langka bernama fenilketonuria atau PKU.

Orang dengan PKU mengalami kesulitan memproses fenilalanin, yang tidak lain merupakan komponen aspartam, di dalam tubuh mereka. 

Oleh karena itu, pengidap fenilketonuria harus menghindari makanan dan minuman yang mengandung aspartam.

Jika Anda berniat memasukkan aspartam maupun pemanis buatan lain ke dalam menu sehari-hari, sebaiknya berkonsultasilah terlebih dahulu kepada ahli diet maupun dokter. 

Hal ini bertujuan untuk mencegah peluang timbulnya berbagai masalah kesehatan lain. Jika ingin tahu lebih lanjut mengenai aspartam untuk diabetes, Anda bisa mengajukan pertanyaan kepada dokter dengan memanfaatkan layanan LiveChat 24 jam atau aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar