Sukses

Mitos-Mitos Olahraga yang Tak Perlu Anda Percaya

Membedakan mitos dan fakta olahraga sangatlah penting. Ada beberapa mitos olahraga yang tak perlu Anda percaya. Cari tahu penjelasan lengkapnya di sini.

Ada banyak mitos olahraga yang bertebaran tanpa Anda ketahui fakta atau kebenarannya. Padahal, informasi yang tepat dapat mendukung Anda menjaga kesehatan dengan semestinya. 

Oleh karena itu, penting untuk membedakan mitos dan fakta olahraga yang beredar. Beberapa di antaranya: 

1. Olahraga Mengubah Lemak Menjadi Otot

Mitos pertama yang akan dibahas adalah anggapan bahwa olahraga dapat mengubah lemak menjadi otot. Hal ini merupakan pandangan yang keliru.

Faktanya, berdasarkan Seconds Count, sel lemak tidak dapat berubah menjadi sel otot, kendati Anda berolahraga sekalipun.

Olahraga, khususnya latihan kekuatan, justru dapat menghilangkan lemak dan membangun otot. Dokter Astrid Wulan Kusumoastuti mengatakan, “Karena olahraga latihan kekuatan menggunakan energi yang dihasilkan dari pembakaran kalori.”

Dengan membakar lebih banyak kalori, aktivitas olahraga dapat membantu menghilangkan lemak. 

Artikel Lainnya: Olahraga saat Sakit, Apakah Baik untuk Tubuh?

1 dari 3 halaman

2. Tidak Boleh Olahraga Ketika Hamil

Siapa bilang selama wanita hamil tidak boleh berolahraga? Berdasarkan American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), olahraga selama kehamilan justru dapat membantu proses persalinan.

Olahraga terbukti dapat mengurangi risiko diabetes gestasional, kelahiran caesar, dan berat badan lahir rendah (BBLR) pada bayi. 

Meski begitu, National Health Service merekomendasikan ibu hamil melakukan olahraga ringan yang tidak menguras tenaga, seperti berenang, jalan kaki santai, dan latihan yoga.

Ketiga aktivitas tersebut dapat melancarkan pembuluh darah serta mengurangi stres menjelang persalinan.

3. Membatasi Kalori Cara Terbaik Menurunkan Berat Badan

Fakta olahraga berdasarkan penelitian mengungkapkan bahwa penurunan berat badan lebih optimal jika perubahan pola makan diimbangi dengan olahraga.

Jadi, jika Anda mengurangi asupan kalori harian, pastikan untuk tetap melakukan olahraga yang dapat membakar banyak kalori seperti aerobik dan latihan kekuatan.

Artikel Lainnya: Sering Pingsan saat Olahraga? Mungkin Ini Penyebabnya

2 dari 3 halaman

4. Gerakan Crunch dapat Menghilangkan Lemak Perut

Gerakan crunch nyaris menyerupai sit up. Gerakan ini dilakukan dengan mengangkat tubuh bagian atas, yaitu dari kepala hingga bahu.

Crunch berfungsi memperkuat otot yang berada di bawah lapisan lemak perut. Namun, gerakan crunch tidak dapat menghilangkan lemak tersebut.

Untuk dapat menghilangkan lemak perut, Anda harus menyeimbangkan asupan kalori harian dengan olahraga. Cara tersebut mungkin dapat membantu Anda mengurangi lemak, termasuk lemak di perut.

Pasalnya ketika berolahraga, kita tidak dapat mengontrol secara langsung bagian lemak tubuh mana yang hendak dihilangkan.

5. Peregangan Sebelum Olahraga Sangat Penting

Mitos olahraga ini tidak sepenuhnya salah. Faktanya, pemanasan selama lima menit dapat mengalirkan darah ke otot. Alhasil, otot menjadi lebih siap ketika berolahraga.

Kendati begitu, masih diwartakan dari Seconds Count, peregangan paling baik dilakukan setelah berolahraga. Sebab setelah berolahraga, kondisi otot tubuh masih dalam keadaan hangat.

Artikel Lainnya: Ngantuk Setelah Olahraga? Ini Kemungkinan Penyebabnya

6. Menjaga Kebugaran Tidak Cukup dengan Mengurangi Perilaku Sedenter 

Ini merupakan mitos yang keliru. Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa penurunan berat badan dapat terjadi jika Anda mengurangi aktivitas sedenter (malas bergerak).

Faktanya, melakukan gerakan ringan dua jam per hari secara rutin dapat mencegah kenaikan berat badan sebesar 15 kilogram per tahun. Hal ini terjadi pada orang dengan berat badan 70 kilogram.

Mengetahui mitos dan fakta olahraga sangat penting. Dengan begitu, Anda dapat memaksimalkan latihan maupun menjalani diet sehat dengan pemahaman yang benar.

Jika ingin tahu lebih lanjut seputar informasi, mitos, atau fakta kesehatan lainnya, Anda bisa berkonsultasi ke dokter via Live Chat atau membaca artikel di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar