Sukses

Minuman Soda Rendah Kalori, Benarkah Lebih Sehat?

Tidak hanya satu, ada banyak merek minuman soda yang berlabelkan nol kalori. Benarkah minuman soda rendah kalori lebih sehat? Berikut jawaban dokter.

Meneguk minuman bersoda di cuaca yang panas memang menyegarkan. Belum lagi jika segelas soda dikombinasikan dengan es batu bersama camilan kentang goreng. Siapa yang bisa menolaknya?

Sayangnya, minuman bersoda tidak boleh dikonsumsi terlalu sering karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan. Sebagai solusinya, Anda lantas memilih soda rendah kalori sebagai gantinya. Lho, memangnya lebih sehat?

 

1 dari 3 halaman

Minuman Soda Rendah Kalori, Apa Itu?

Oleh produsen, minuman soda rendah kalori diklaim lebih sehat karena kandungan gula yang lebih rendah. Istilah yang digunakan dalam marketing pun beragam, mulai dari soda rendah kalori, soda diet, hingga soda zero calorie.

Dinukil dari Healthline, soda diet pertama kali diperkenalkan pada tahun 1950-an untuk penderita diabetes. Pada perkembangan selanjutnya, minuman ini dipasarkan kepada orang-orang yang ingin mengontrol berat badan atau mengurangi asupan gula.

Meski diklaim lebih sehat, nyatanya, minuman soda rendah kalori sama buruknya dengan “sang kakak”. Bahkan, minuman ini tergolong minim nutrisi. Melansir Healthline, satu kaleng minuman soda nol kalori menawarkan sekitar: 

  • 0 kalori
  • 0 lemak
  • 0 protein
  • 0 gula
  • 2 persen natrium
  • 2 persen kalium

Artikel lainnya: Manfaat dan Bahaya Minuman Bersoda bagi Kesehatan Tubuh Anda

Soda diet pada dasarnya adalah campuran air berkarbonasi, pemanis (buatan atau alami), penambah warna dan rasa, kafein, dan bahan tambahan lainnya.

Namun, tidak semua soda yang menggunakan pemanis buatan rendah kalori atau bebas gula. Beberapa menggunakan gula dan pemanis bersama-sama. Misalnya, satu kaleng minuman soda diet yang mengandung pemanis alami stevia, mengandung 90 kalori dan 24 gram gula.

Beberapa studi lain juga menyebutkan bahwa soda nol kalori sebenarnya masih menggunakan pemanis buatan yang juga berbahaya untuk tubuh. Hal senada diungkap dr. Devia Irine Putri.

Dia mengatakan, “Meski dibilang soda rendah kalori atau nol kalori, sejatinya banyak yang masih menggunakan pemanis buatan. Jadi, kalorinya tidak benar-benar nol.”

2 dari 3 halaman

Risiko Kesehatan dari Konsumsi Soda Rendah Kalori

Dokter Devia menjelaskan, baik minuman bersoda rendah kalori maupun yang biasa, sama-sama tidak sehat jika dikonsumsi berlebihan.

“Ada beberapa masalah kesehatan yang bisa terjadi bila Anda terlalu sering dan banyak mengonsumsinya. Misalnya, obesitas, kerusakan gigi, meningkatkan risiko diabetes dan sindrom metabolik, serta masalah ginjal,” ujarnya.

Berikut masalah kesehatan yang mungkin muncul bila Anda terlalu sering mengonsumsi soda rendah kalori.

1. Peningkatan Berat Badan

Karena biasanya bebas kalori, wajar untuk menganggap soda diet dapat membantu menurunkan berat badan. Namun, hal tersebut tak selalu sejalan menurut beberapa penelitian.

Artikel lainnya: Risiko Minum Soda Setelah Olahraga

Beberapa penelitian menemukan bahwa mengonsumsi minum soda diet dalam jumlah tinggi dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan sindrom metabolik. Hal ini tak lain karena kandungan pemanis buatan di dalamnya.

Para ilmuwan juga beranggapan soda diet dapat meningkatkan nafsu makan dengan merangsang hormon rasa lapar, mengubah reseptor rasa manis, dan memicu respons dopamin di otak.

Meski demikian, sejumlah penelitian terus dilakukan untuk mendukung hal ini.

2. Penyakit Jantung

Risiko penyakit jantung juga meningkat bila soda diet dikonsumsi dalam jumlah tidak terkontrol.

Satu studi observasional menemukan hubungan antara minuman dengan pemanis buatan dan risiko penyakit jantung di antara wanita yang tidak memiliki riwayat penyakit jantung.

3. Risiko Diabetes Tipe 2

Meskipun tidak memiliki kalori, gula, atau lemak, soda diet telah dikaitkan dengan perkembangan diabetes tipe 2 dalam beberapa penelitian.

Penelitian menemukan, satu porsi minuman pemanis buatan per hari dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sekitar 8-13 persen.

Artikel lainnya: Saat Haid, Bolehkah Minum Soda?

Satu penelitian dengan 64.850 responden wanita mengungkap, konsumsi diet soda dengan pemanis buatan dikaitkan dengan risiko 21 persen lebih tinggi terkena diabetes tipe 2. Angka ini memang hanya setengah dari risiko yang ditimbulkan minuman manis biasa.

4. Kerusakan Ginjal

Tidak hanya itu, kandungan fosfor dalam minuman bersoda juga bisa menyebabkan kerusakan ginjal pada tubuh manusia.

Para peneliti menyimpulkan, mereka yang minum lebih dari 7 gelas soda diet per minggu akan lebih berisiko alami penyakit ginjal

5. Kerusakan Gigi

Satu studi pada gigi manusia mencatat bahwa asam fosfat menyebabkan enamel ringan dan erosi gigi.

Studi lain juga menemukan, minuman soda rendah kalori (maupun tidak), mengandung asam fosfat dan asam nitrat yang juga menyebabkan erosi hanya dalam 3 menit. Menyeramkan bukan?

6. Osteoporosis

Minuman soda rendah kalori juga meningkatkan risiko osteoporosis. Satu studi mengamati bahwa asupan soda harian dikaitkan dengan kepadatan mineral tulang yang lebih rendah dari 3,7 - 5,4 persen.

Hasil serupa juga ditemukan pada mereka yang rutin mengonsumsi minuman diet soda.

Sebagai penutup, dr. Devia mengatakan, tidak ada aturan pasti dalam konsumsi minuman soda rendah kalori. Hindari minum berlebihan dan sering guna mencegah dampak kesehatan yang telah disebutkan tadi.

Lebih disarankan Anda mencukupi kebutuhan cairan dalam tubuh dengan minum air putih. Dapatkan informasi lainnya seputar kesehatan dan gaya hidup dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar