Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mayer Rokitansky Kuster Hauser, Penyebab Ukuran Vagina Mengecil

Mayer Rokitansky Kuster Hauser, Penyebab Ukuran Vagina Mengecil

Sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser dapat menyebabkan wanita memiliki ukuran vagina yang kecil. Apa penyebab dan penanganannya?

Sindrom MRKH (Mayer Rokitansky Kuster Hauser) merupakan kelainan bawaan langka yang terjadi selama perkembangan janin. 

Para peneliti menilai kejadian langka ini dapat terjadi pada 1 dari setiap 4.500 perempuan saat lahir.

Perempuan yang mengalami sindrom MRKH dikabarkan memiliki ukuran vagina yang kecil. Lantas, apa penyebabnya? Berikut penjelasan dokter. 

1 dari 3 halaman

Apa itu Sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser?

Sindrom MRKH dikenal juga sebagai agenesis vagina atau kelainan bawaan pada perempuan. Artinya, kelainan ini sudah ada saat bayi perempuan dilahirkan. 

Mayer rokitansky kuster hauser terjadi pada sistem reproduksi wanita. Kondisi ini menyebabkan vagina dan rahim tidak berkembang. Meskipun begitu, MRKH tidak memengaruhi alat kelamin luar.

Dalam sindrom ini, bayi perempuan tetap memiliki labia (bibir vagina), klitoris, dan vagina bagian bawah yang normal. Perkembangan rambut kemaluan dan payudara juga normal.

Artikel Lainnya: Perubahan Bentuk Vagina Sebelum Hamil dan Setelah Melahirkan

Sampai saat ini, belum diketahui persis apa yang menyebabkan sindrom MRKH. Beberapa peneliti menganggap mungkin ada penyebab genetik, tetapi juga belum dapat dibuktikan. 

Namun, para peneliti meyakini MRKH tidak disebabkan oleh apa pun yang dilakukan atau tidak dilakukan ibu selama kehamilan.

Dokter Dyah Novita Anggraini menjelaskan, wanita yang terkena MRKH biasanya tidak mengalami periode menstruasi karena tidak ada rahim. 

Sering kali, tanda pertama dari sindrom MRKH adalah menstruasi tidak dimulai pada usia 16 tahun (amenore primer). 

“Penyakit ini membuat vagina ukurannya mengecil atau rahim tidak ada. Jadi, yang terlihat hanya genitalia eksternal. Karena tidak punya rahim, jadi tidak ada menstruasi. [Hal ini] jelas memengaruhi kesuburan wanita,” ucap dr. Dyah Novita.

Melansir Penn Medicine dari University of Pennsylvania, Amerika Serikat, kasus sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser umumnya dibagi menjadi dua jenis:

  • Sindrom MRKH tipe 1: rahim dan vagina bagian atas tidak normal, tetapi organ lain tidak terpengaruh.
  • Sindrom MRKH tipe 2: wanita juga mengalami kelainan pada organ lain, paling sering tuba falopi, serta ginjal dan tulang belakang.

Artikel Lainnya: Penyebab Vagina Nyeri yang Harus Diwaspadai

Bagi sebagian besar kasus MRKH, rahim yang belum berkembang tidak memungkinkan untuk membuat wanita hamil. 

Namun, ovarium yang sehat memungkinkan untuk memiliki anak biologis melalui prosedur reproduksi bantuan.

Gejala MRKH tipe 1 meliputi:

  • Hubungan seksual yang sulit dan menyakitkan.
  • Kedalaman dan lebar vagina berkurang.

Gejala MRKH tipe 2 mirip dengan tipe 1, tetapi mungkin juga termasuk:

  • Komplikasi atau kegagalan ginjal, karena pembentukan atau posisi ginjal yang tidak normal.
  • Kelainan rangka (paling umum pada tulang belakang).
  • Gangguan pendengaran ringan.
  • Cacat jantung.
  • Komplikasi terkait organ lainnya.
2 dari 3 halaman

Penanganan Wanita dengan Sindrom MRKH

Diagnosis untuk sindrom Mayer Rokitansky Kuster Hauser tipe 1 sering ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda menstruasi. 

Sementara, diagnosis MRKH tipe 2 dapat dilihat dari berbagai gejala atau kelainan terkait organ lainnya.

Artikel Lainnya: Dosa yang Mengancam Kesehatan Vagina!

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menilai pembukaan vagina. Tes darah mungkin juga dilakukan untuk memeriksa hormon dan kromosom normal pada wanita. 

Lalu, dokter mungkin melakukan USG panggul atau magnetic resonance imaging (MRI) untuk memastikan diagnosis dan mengevaluasi ginjal

Dokter Dyah Novita menerangkan, penanganan untuk wanita yang mengalami MRKH dapat dilakukan dengan cara terapi dilatasi. 

Terapi ini dilakukan dengan memasukkan barang seperti jari atau dilator ke vagina untuk melatih otot vagina. 

“Otot di sekitar vagina diregangkan, jadi vagina terbuka. Untuk kondisi rahim, bisa dilakukan cara transplantasi rahim,” kata dr. Dyah Novita.

Selain itu, pembedahan pada vagina (vaginoplasty) juga bisa dilakukan. Namun, tentunya harus dikonsultasikan dengan dokter spesialis terkait.

Bila Anda ingin tahu lebih lanjut seputar organ kewanitaan, konsultasi ke dokter lebih mudah lewat LiveChat Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar