Sukses

Alasan Harus Ada Pengawasan Mudik saat Pandemi COVID-19

Dibiarkannya mobilitas masyarakat di tahun lalu usai Lebaran menyebabkan lonjakan kasus. Belajar dari pengalaman, sejumlah hal ini perlu dilakukan.

Sama seperti tahun lalu, pemerintah mengeluarkan larangan mudik saat pandemi. Yang cukup menarik perhatian adalah seberapa ketat aturan mudik Lebaran 2021?

Pasalnya, di tahun lalu saja masih ada beberapa pelanggar peraturan mudik yang tidak ditindaklanjuti.

Ya, adanya kelonggaran untuk “kebijakan dadakan” membuat penekanan kasus positif menjadi tak tercapai.

 

1 dari 4 halaman

Apa yang Terjadi di Tahun Lalu?

Rendahnya pergerakan masyarakat sebenarnya memang hanya terjadi di tiga bulan pertama pandemi. Setelah itu, lajunya tetap tinggi, tak terkecuali sebelum dan sesudah Lebaran.

Dilansir dari Pandemic Talks, banyaknya yang melanggar aturan mudik saat pandemi tahun lalu meningkatkan kasus harian dengan rata-rata 60 persen. Larangan yang dibuat pemerintah terkesan hanya dianggap seperti jargon.

Masyarakat tetap banyak yang pergi ke kampung halamannya. Tingginya angka PHK membuat orang meninggalkan kota setelah tak bekerja lagi.

Mereka yang masih bekerja dan mendapat libur pun tak kuat menahan rindu untuk bertemu keluarga.

Artikel Lainnya: Berapa Lama Pengemudi Harus Tidur Sebelum Mudik Lebaran?

Alhasil, virus penyebab COVID-19 terbawa ke daerah-daerah lain. Padahal, di awal-awal pandemi, wabah tersebut hanya terjadi di kota-kota besar.

COVID-19 akhirnya mulai tersebar di antara penduduk desa. Orang tanpa gejala yang mudik seperti membawa “oleh-oleh” wabah. Akibatnya, fasilitas kesehatan di daerah-daerah mulai penuh dengan pasien positif.

Jumlah tes per juta penduduk ditingkatkan hingga dua kali lipat, ternyata positive rate harian juga bergerak dari 13,7 persen menjadi 16 persen. Hal tersebut menunjukkan penyebaran virus SARS-CoV-2 semakin tak terkontrol.

2 dari 4 halaman

Penerapan Aturan Mudik Lebaran 2021 Perlu Diawasi Ketat

Belajar dari pengalaman tahun lalu, pemerintah perlu melakukan pengawasan ketat agar tak kecolongan lagi.

Jika larangan mudik yang dibuat tak ingin dianggap sebagai jargon belaka, maka aparat harus melakukan pengawasan terhadap:

  • Masyarakat yang mudik menggunakan kendaraan pribadi lewat jalur darat dan berangkat dini hari.
  • Masyarakat yang tidak mudik tetapi melakukan mobilitas tinggi, misalnya membuat keramaian di lingkungan rumah dan berwisata di dalam kota.

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong, penerapan pengawasan saat mudik di masa pandemi memang cukup pelik dan kompleks.

“Karena, kondisi tersebut melibatkan banyak faktor, mulai dari masyarakatnya sendiri, pemerintah daerah, pemerintah pusat, sampai media, dan masih banyak lagi,” jelasnya.

“Hal practical yang bisa dilakukan mungkin dengan mengetatkan penjagaan di perbatasan-perbatasan daerah. Pemerintah juga harus membuat aturan yang jelas tentang permudikan ini dan wajib satu suara antara semua stakeholder,” saran dr. Sepriani. 

Artikel Lainnya: Mudik Pakai Motor, Ini 7 Perlindungan untuk Anda dan Keluarga

Ia menambahkan, “Bila memang masyarakat tidak boleh mudik, semuanya harus bilang tidak boleh mudik. Tempat wisata juga sebaiknya ditutup dan transportasi umum dibatasi. Namun, mesti ada kompensasinya untuk usaha-usaha di bidang itu. Hal itu memang cukup kompleks untuk dilakukan.”

Testing, tracing, treat, dan isolation juga diharapkan tidak kendor meski hawa-hawa liburan sedang dirasakan.

Ditambah dengan masyarakat yang mematuhi protokol kesehatan, maka seharusnya peningkatan kasus positif bisa ditekan.

3 dari 4 halaman

Situasi yang Rentan Tingkatkan Kasus COVID-19 saat Puasa dan Lebaran

Adapun situasi yang berpotensi menjadi momen penularan yakni buka puasa bersama di ruangan tertutup, penuh, dan dalam jarak berdekatan.

Beda dengan tahun lalu yang kadang masih dilakukan secara virtual, kini masyarakat sudah tidak takut untuk makan bersama di restoran atau kafe.

Silaturahmi yang dilakukan dari rumah ke rumah juga bisa menyebarkan virus SARS-CoV-2.

Artikel Lainnya: 6 Tips agar Tidak Tertular Penyakit Saat Mudik Lebaran

Meski tak dilakukan di mall ataupun tempat umum lainnya, perkumpulan di rumah dengan interaksi yang intens sama saja berpotensi tinggi menularkan penyakit. Klaster keluarga dikhawatirkan meningkat lagi akibat hal tersebut.

Adanya pemikiran bahwa banyak lansia yang sudah divaksinasi sehingga lebih aman untuk dikunjungi juga bisa menjadi jebakan.

Dokter Sepriani menerangkan, “Memang wajar bila ada orang yang berpendapat demikian. Apalagi kalau sudah lebih dari setahun tidak bertemu keluarganya, pasti rasa ingin bertemu makin besar. Orang tua yang sudah divaksinasi bisa menjadi pertimbangan.”

“Namun, hal yang mesti diingat adalah kita belum mengetahui banyak tentang antibodi yang dihasilkan dari vaksin ini, misalnya berapa lamanya antibodi terbentuk dan lain-lain.”

Bila ingin tetap bertemu orangtua, tetap pakai masker, rajin cuci tangan, hindari dulu peluk atau cium, serta buka jendela dan pintu agar sirkulasi udara baik.

Bila bisa dilakukan secara outdoor, lebih baik. Jangan memaksakan diri untuk datang kalau ada anggota keluarga yang sakit.

Itu dia penjelasan tentang pentingnya pengawasan penerapan larangan mudik saat pandemi.

Untuk pertanyaan lainnya seputar penularan COVID-19, bisa Anda tanyakan kepada dokter kami lewat fitur LiveChat di Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar