Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Pacaran Sampai Jadi Bucin? Ini Dampaknya untuk Kesehatan Mental

Pacaran Sampai Jadi Bucin? Ini Dampaknya untuk Kesehatan Mental

Bucin alias budak cinta sering menjadi julukan bagi orang yang rela melakukan apa pun demi pasangannnya. Hmmm, jadi bucin itu baik apa tidak, ya?

Ada banyak cara yang bisa dilakukan untuk menunjukan rasa sayang kepada pasangan. Ada yang menunjukkan dengan sering membelikan kado, memberikan surprise romantis, bahkan ada yang rela melakukan hal apa pun agar pasangannya bahagia.

Sayangnya, hal tersebut kerap dijuluki sebagai perilaku bucin! Kata bucin sering terlontar sebagai olok-olokan atau julukan berkonotasi negatif. Apa, sih, yang disebut bucin dalam hubungan? Apakah punya sikap bucin baik untuk diri sendiri maupun hubungan asmara?

 

1 dari 4 halaman

Apa Itu Bucin?

Ikhsan Bella Persada, MPsi., Psikolog, menjelaskan bahwa bucin memiliki beberapa konotasi, bisa positif dan bisa negatif. Namun, menurut Ikhsan, bucin merupakan sebuah kondisi di mana seseorang rela mengorbankan kebutuhan dirinya sendiri demi pasangannya.

Kenapa bisa sampai begitu, ya? Ikhsan mengatakan, seseorang bisa bersikap demikian ketika ia melihat pasangannya sebagai sosok yang sangat ideal dan terbaik untuk dirinya sendiri.

Pada dasarnya, rela berkorban untuk pasangan merupakan perilaku yang normal, kok. Misalnya, ketika kita rela membatasi jatah jajan guna menabung untuk liburan bersama atau untuk merencanakan pesta pernikahan Itu contoh yang bisa dikategorikan pengorbanan yang normal.

Hanya saja, ada beberapa kondisi di mana pengorbanan bucin menjadi negatif dan pada akhirnya merugikan diri sendiri.

Artikel Lainnya: Rela Jadi Bucin? Awas, Codependent Relationship!

2 dari 4 halaman

Ini Perilaku Bucin yang Buruk

Psikolog Ikhsan menjelaskan, “Bucin dikatakan buruk jika sudah merugikan diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Misalnya, sampai mengabaikan banyak aktivitas yang jauh lebih penting hanya untuk bersama pasangan kita.”

“Selain itu, orang tersebut sebenarnya merasa tertekan dan merasa tidak nyaman saat mencoba memenuhi yang diinginkan pasangannya, itu menandakan sudah bucin yang  negatif,” tambahnya.

Tak hanya itu, apabila sudah mengalami bucin dengan kondisi negatif, seseorang relatif memiliki kepercayaan diri yang rendah. Umumnya orang tersebut akan tunduk dan rela melakukan apa saja yang diminta oleh pasangannya.

“Bukan takut untuk mengambil keputusan sendiri, tapi orang tersebut lebih takut membuat pasangannya marah atau tidak setuju dengan pendapat yang dimiliki. Kalau sudah sampai tahap seperti ini, maka ini sudah masuk dalam hubungan yang tidak baik,” kata Ikhsan.

Artikel Lainnya: Kata Peneliti, Melajang Bikin Bahagia! Ini Pendapat Psikolog

3 dari 4 halaman

Ini Dampak Menjadi Seseorang yang Bucin

Apabila level bucin masih berada di dalam tahap normal, maka bucin bisa membawa beberapa manfaat. Bucin yang positif bisa membangun Anda menjadi pribadi yang lebih baik dan dewasa. Bucin juga dapat mengajarkan Anda arti mencintai seseorang dengan tulus.

Akan tetapi, jika bucin yang dilakukan sudah masuk ke dalam perilaku negatif, maka ada dampak buruk yang bisa timbul. 

“Dampaknya bisa membuat stres sendiri bagi si orang tersebut. Selain itu, hubungan yang dijalani pun jadi kurang sehat sebenarnya. Satu sisi mungkin pasangan akan senang, namun kalau si individunya sendiri jadi stres pun dampaknya jadi buruk juga, baik untuk hubungannya atau ke relasi orang sekitar,” ujar psikolog Ikhsan.

Artikel Lainnya: Pusing Mana, Punya Pacar Playboy atau Womanizer?

Bucin parah juga bisa berdampak kepada kehidupan sosial seseorang. Lagi-lagi, karena orang tersebut fokus menghabiskan waktu atau mewujudkan keinginan pasangannya. Akibatnya, ia jadi kurang berinteraksi dengan teman atau keluarga.

Mungkin beberapa orang ada yang bertanya, bagaimana bila perilaku bucin ini dilakukan untuk membahagiakan pasangan?

Tidak ada salahnya membuat orang lain bahagia, selama tidak melebihi batas kemampuan diri sendiri. Anda perlu ingat, kebahagiaan orang lain bukanlah tanggung jawab diri Anda. Sejatinya, setiap manusia bertanggung jawab kepada kebahagiaannya masing-masing.

Itu dia beberapa dampak yang bisa dialami ketika kita menjadi budak cinta. Apabila ada yang ingin ditanyakan lebih lanjut, konsultasikan dengan psikolog via Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar