Sukses

MedFact: Antibiotik Ampuh Obati Infeksi Virus Corona?

Sempat ramai isu yang menyebutkan obat antibiotik bisa untuk COVID-19, Benarkah demikian? Sebelum meyakininya, cek fakta medis berikut!

Beberapa waktu lalu, ramai diperbincangkan di dunia maya bahwa obat antibiotik bisa digunakan untuk menyembuhkan COVID-19 secara mandiri. Informasi ini berawal dari unggahan akun Twitter @mbahndi.

Dalam cuitannya, sang pemilik akun menulis, “Isi WAG keluarga dan teman non-dokter lagi ramai forward pesan seperti ini. Saya cuma mau ingatkan aja sebaiknya jika mengalami keluhan2 yang mengarah ke gejala Covid-19 sebaiknya berobat ke dokter dulu, jangan main makan obat sendiri aja.

Dalam unggahan tersebut, @mbahndi juga menyertakan hasil tangkapan layar dengan tulisan, “Kalau ada yg kena covid tidak perlu panik dan tidak harus ke RS kalau memang tidak terlalu parah sesak napas sampai perlu ICU dan ventilator, karena saat ini RS khusus covid semua penuh.”

“Bisa diobati sendiri, obat di RS untuk pasien covid seperti ini:

  • Antibiotik: Azitromycin 500 mg 1x / hari diminum 5-10 hari
  • Antivirus: Favipiravir (Avigan- Indofarma), 600mg 2x / hari, 5 hari
  • anti batuk u / keluarin  dahak sekaligus antiOxidant: Fluimucil Eff 600mg, 1-2x / hari, 14 hari
  • anti radang: dexamethasone 0,5 (setelah hari ke 7-10), 3x / hari
  • turun panas: paracetamol 500mg saat demam - jangan panik, berdoa dan  tetap bersyukur, semangat dan gembira, karena hati yang gembira adalah obat”

Lantas, apakah benar obat antibiotik efektif untuk infeksi COVID-19? Mari cek fakta medisnya!

Artikel lainnya: Cuma Hoax, Amoxicillin Bukan Obat Virus Corona

1 dari 4 halaman

Benarkah Antibiotik Bisa Atasi COVID-19?

Infeksi COVID-19 sendiri disebabkan oleh virus bernama Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2 (SARS-CoV-2). Karena disebabkan oleh virus, penggunaan antibiotik untuk mengobati kondisi ini tidaklah tepat. Antibiotik tidak bekerja untuk melawan virus, melainkan bakteri.

Saat dikonsumsi tanpa pantauan dokter, dikhawatirkan tubuh akan mengalami resistensi antibiotik alias kebal. Bila di kemudian hari pasien corona terinfeksi oleh bakteri, maka tidak ada lagi antibiotik yang efektif mengatasinya.

Namun begitu, bukan berarti pasien corona tidak boleh sama sekali mengonsumsi antibiotik. Hal itu turut disampaikan dr. Sepriani Limbong.

Menurut dia, ada beberapa kasus pasien corona diberikan antibiotik bila dokter merasa perlu, atau karena pasien tersebut terinfeksi oleh bakteri.

“Jadi pasien yang memang terindikasi ada infeksi bakterilah yang akan diberikan antibiotik,” kata dr. Sepriani. 

Hal yang sama juga dikatakan dr. Arina Heidyana. Menurutnya, antibiotik bisa saja berperan dalam penanganan kasus infeksi corona. 

“Namun, tidak semua antibiotik bisa digunakan untuk menangani corona. Dan (antibiotik) juga tidak bisa digunakan pada semua kasus, hanya kasus tertentu saja,” tutur dr. Arina.

Artikel lainnya: Benarkah Bawang Putih Mentah Bisa Membunuh Bakteri Pneumonia?

Misalnya, pasien virus corona yang terkena pneumonia bakteri. Pada kasus seperti ini, antibiotik dapat membantu mengatasi infeksi bakteri pasien.

Pada akhirnya, dokterlah yang berwenang memutuskan obat yang sesuai pada pasien COVID-19. Sampai saat ini, dokter juga belum menemukan antibiotik yang tepat untuk pasien corona.

2 dari 4 halaman

Amankah Konsumsi Antibiotik Sendiri? 

Antibiotik bukanlah obat bebas. Itulah sebabnya, menurut dr. Arina, mengonsumsi antibiotik harus sesuai dengan ketentuan dan resep dokter. 

Antibiotik juga tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Harus sesuai dengan dosis anjuran dokter dan keluhan pasien.  

“Kalau asal minum antibiotik, tubuh bisa mengalami resisten antibiotik. Sehingga kalau mengalami infeksi dan diberi antibiotik, bisa tidak mempan lagi obat tersebut,” jelas dr. Arina.

Terlebih di masa pandemi saat ini, angka konsumsi antibiotik melesat tinggi. WHO bahkan memperingatkan, kondisi ini dapat memperkuat resistensi bakteri.

Artikel lainnya: Ini Alasan Mengapa Anda Tidak Boleh Berbagi Antibiotik

"Pandemi COVID-19 telah menyebabkan peningkatan penggunaan antibiotik. Pada akhirnya, ini akan menyebabkan tingkat resistensi bakteri yang lebih tinggi. Efeknya, beban penyakit dan kematian selama dan setelah pandemi pun bertambah," kata Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesuskata, di Jenewa.

WHO mengatakan, hanya sebagian kecil pasien COVID-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri berikutnya.

Dilansir dari Guardian, rumah sakit sudah mengeluarkan panduan kepada petugas medis. Rumah sakit diminta tidak memberikan terapi antibiotik atau profilaksis kepada pasien dengan COVID-19 ringan, atau kepada pasien dengan penyakit sedang tanpa kecurigaan klinis infeksi bakteri.

3 dari 4 halaman

Pertolongan Pertama Saat Terinfeksi Corona

Bukan minum antibiotik, jika Anda merasa memiliki gejala COVID-19, berikut langkah-langkah yang bisa ditempuh:

  1. Mengecek seberapa gejala berat yang dirasakan. Bisa sudah merasa flu atau kehilangan penciuman, dapat segera hubungi dokter untuk melakukan SWAB test.
  2. Bila hasilnya positif, ikuti langkah-langkah dokter berikutnya. Biasanya, bila gejalanya ringan, Anda akan disuruh untuk isolasi mandiri di rumah. Namun, bila gejalanya berat, Anda diharuskan isolasi di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. 
  3. Ikuti anjuran dokter. Minumlah obat dan vitamin yang diberikan dokter. Jaga kesehatan dengan makan-makanan sehat dan istirahat yang cukup. Hindarilah stres agar imunitas segera meningkat lagi.

Sembarangan minum obat antibiotik untuk infeksi COVID-19 adalah tindakan keliru. Bukannya sembuh, Anda justru berisiko alami resistensi antibiotik. Jika suatu saat Anda mengalami infeksi bakteri, konsumsi antibiotik tak lagi bisa menolong Anda.

Masih ada pertanyaan seputar virus corona? Atau butuh fakta tentang kesehatan lainnya? Anda bisa manfaatkan aplikasi Live Chat dari Klikdokter.

[HNS/JKT]

2 Komentar