Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Bagaimana Membedakan Baby Blues dan Postpartum Depression?

Bagaimana Membedakan Baby Blues dan Postpartum Depression?

Baby blues kerap dialami oleh beberapa ibu setelah melahirkan. Tapi bisakah itu terjadi berbulan-bulan setelah melahirkan?

Banyak yang menganggap sindrom baby blues adalah kondisi kesehatan psikis yang tidak penting. Bahkan, ada yang meremehkan kondisi sindrom baby blues ibu dan asal menyebutnya sebagai dampak kelelahan akibat mengurus bayi baru lahir. 

Dilansir dari American Pregnancy, baby blues adalah perasaan, seperti sedih, cemas, stres, dan perubahan suasana hati yang dialami oleh ibu baru melahirkan. Baby blues dapat terjadi 4 hingga 5 hari setelah melahirkan dan umumnya berlangsung selama 2 minggu. 

Sindrom baby blues ini normal dan umumnya dapat hilang atau membaik dengan sendirinya. Tetapi, sindrom baby blues yang tidak ditangani dengan baik dapat mengarah kepada kondisi postpartum depression (PPD) atau depresi pascamelahirkan. 

Lantas, bila gejala sedih atau cemas tersebut baru muncul setelah berbulan-bulan melahirkan, apakah masih bisa disebut sebagai sindrom baby blues atau justru sudah menjadi gejala postpartum depression

Artikel Lainnya: Postpartum Depression Bisa Terjadi pada Ayah, Ini Gejalanya

1 dari 3 halaman

Apakah Baby Blues Bisa Muncul Beberapa Bulan Setelah Lahiran?

Menanggapi hal ini, Gracia Ivonika, M.Psi., Psikolog mengatakan kita harus mengetahui dulu perbedaan di antara keduanya. Menurutnya, gejala baby blues dan PPD memang mirip. Tetapi, ada perbedaan dari intensitas gejala dan tingkat keparahan dampak terhadap kondisi psikologis dan fungsi sehari-hari ibu. 

“Salah satu perbedaan yang juga mencolok adalah durasi. Baby blues durasinya bisa beberapa hari sampai kurang dari sebulan dan tingkatnya ringan. Artinya, ibu masih bisa menjalankan perannya sebagai ibu untuk sang bayi maupun berfungsi dalam kesehariannya, meskipun ada berbagai kondisi psikologis yang mengganggu. Gejalanya biasa mereda atau berkurang seiring dengan berjalannya waktu,” jelasnya.

“Sedangkan untuk PPD gejalanya lebih intens hingga mengganggu fungsi keseharian dan perannya sebagai ibu. Umumnya, durasi PPD lebih lama dan bahkan bisa berlangsung saat masa kehamilan,” lanjut psikolog yang akrab disapa Ivon ini. 

Artikel Lainnya: Istri Alami Postpartum Depression, Ini yang Bisa Dilakukan Suami

Jadi, untuk mengetahui apakah ibu mengalami baby blues atau PPD, bisa diamati dulu gejalanya. Apabila beberapa bulan setelah melahirkan baru muncul rasa sedih, cemas, dan mood berubah-ubah, namun ibu masih mampu menjalankan aktivitasnya dengan baik, hal itu bisa saja mengarah ke sindrom baby blues. 

Sedangkan bila gejala psikologis yang dirasakan beberapa bulan setelah melahirkan semakin intens dan sampai mengganggu aktivitas sehari-hari, dikhawatirkan ibu mengalami PPD.

“Kadang, ibu yang kesulitan menghadapi masa baby blues dengan baik, misalnya karena kurangnya support dari pasangan/keluarga atau adanya pengaruh faktor lain, gejala tersebut bisa semakin berkembang dan bisa mengarah ke PPD,” jelas psikolog Ivon.  

Artikel Lainnya: Bayi Lahir Prematur, Ibu Rentan Terkena Baby Blues Syndrome?

2 dari 3 halaman

Apa Dampaknya Bila Kondisi Psikologis Ibu Diabaikan?

Sampai saat ini, belum diketahui pasti penyebab dari baby blues. Namun menurut dr. Sara Elise Wijono, MRes, baby blues biasanya disebabkan karena perubahan hormonal pascamelahirkan. 

Lalu, adanya perubahan besar dalam kehidupan yang mengharuskan ibu beradaptasi dengan aktivitas bayi baru lahir juga bisa menjadi faktor penyebab baby blues. 

Ibu harus segera mendapatkan pertolongan yang tepat apabila mengalami gejala kondisi baby blues atau postpartum depression. Jika diabaikan, tak hanya psikis ibu yang terdampak, perkembangan dan pertumbuhan buah hatinya juga dapat terganggu. 

"Ibu baru bisa rawat bayi kalau dirinya sehat, sehat tidak cuma fisik, tapi mental juga. Jadi, kalau berlarut kemungkinan tidak maksimal dalam merawat bayinya," ungkap dr. Sara Elise.

Psikolog Ivon mengimbau ibu dan anggota keluarga lainnya untuk tidak melakukan self diagnose! Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan para ahli, yakni dokter, psikolog, atau psikiater. 

Tujuannya untuk mendapatkan saran, penanganan, tepat, dan menghindari gejala tersebut berkembang lalu mengarah ke masalah psikologis lainnya.

Itu dia penjelasan mengenai kondisi baby blues setelah melahirkan. Untuk tahu lebih lanjut mengenai kondisi atau masalah psikologis lainnya, baca terus artikel di aplikasi Klikdokter.  Untuk konsultasi dengan dokter atau psikolog, gunakan fitur Live Chat 24 Jam.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar