Sukses

Bayi Lahir dengan Antibodi COVID-19? Ini Kata Dokter!

Kasus kelahiran bayi dengan antibodi COVID-19 tergolong langka. Para dokter memiliki berbagai dugaan. Berikut penjelasannya.

COVID-19 adalah penyakit baru yang perkembangannya terus diamati oleh para peneliti di dunia. Dari sisi mutasi, penularan, gejala, pengobatan, hingga antibodi  yang dihasilkan, COVID-19 terus mengalami perkembangan.

Baru-baru ini, sebuah kasus unik hadir dari negara tetangga, yakni Singapura. Seorang wanita berusia 31 tahun yang pernah terinfeksi virus corona melahirkan anak dengan antibodi COVID-19. Akan tetapi, antibodi dalam ibu itu sendiri diketahui hilang.  Bagaimana penjelasan medis akan hal tersebut?

1 dari 4 halaman

Seorang Ibu Lahirkan Anak dengan Antibodi COVID-19

Dilansir Strait News, wanita yang diketahui bernama Celine Ng-Chan melahirkan anak keduanya pada 7 November 2020 di National University Hospital (NUH).

Bayi yang diberi nama Aldrin itu terlahir bebas dari COVID-19, bahkan memiliki antibodi virus corona. Antibodi tersebut menandakan bahwa Aldrin memiliki kekebalan terhadap virus corona. 

Ng-Chan menjelaskan bahwa antibodi COVID-19 yang ia miliki hilang. Dokter menduga tubuh Ng-Chan mentransfer antibodi COVID-19 kepada bayinya selama masa kehamilan. 

Sebelumnya, Ng-Chan diketahui terjangkit COVID-19 usai kembali dari pelesiran ke Eropa pada Maret 2020 lalu. Saat didiagnosis COVID-19, Ng-Chan tengah hamil 10 minggu. 

Ng-Chan bersama anak pertamanya terjangkit COVID-19 dan hanya mengalami gejala ringan. Mereka diperbolehkan untuk pulang dari rumah sakit setelah dirawat selama 2,5 minggu. 

Artikel Lainnya: Selama Pandemi Virus Corona Jangan Menjenguk Bayi Dulu, Ini Alasannya

2 dari 4 halaman

Apakah Ibu Bisa Memberikan Antibodi COVID-19 ke Janin?

Menanggapi kasus tersebut, dr. Dyah Novita Anggraini atau akrab disapa dr. Vita memiliki pendapat berbeda. Soal hilangnya antibodi di tubuh Ng-Chan sendiri kemungkinan berhubungan dengan masa bertahan perlindungan itu. 

"Antibodi COVID-19 itu menurut jurnal terbaru hanya bertahan selama 3-6 bulan setelah terpapar COVID-19. Jadi, antibodi ibu hilang bukan hanya disebabkan oleh transfer antibodi ke janin saja, tapi memang masa antibodi bertahan di tubuh durasinya tidak lebih dari 6 bulan. Mungkin, janin membentuk antibodi COVID-19 sendiri karena dia terpapar virus corona saat di dalam kandungan," kata dr. Vita.

Kendati begitu, beberapa ahli medis belum bisa memastikan soal kasus yang dialami Ng-Chan, termasuk dugaan transfer antibodi ibu ke bayi melalui plasenta.

Perlu diketahui, ada dua antibodi yang berhubungan dengan COVID 19, yakni antibodi IgG dan IgM. Antibodi IgG disebut-sebut dapat ditransfer secara pasif dari ibu ke janin melalui plasenta.

Artikel Lainnya: Begini Kondisi Bayi yang Terinfeksi Virus Corona

3 dari 4 halaman

Berapa Lama Antibodi COVID-19 Tersebut dapat Melindungi Bayi?

Menurut dr. Vita, seberapa lama antibodi COVID-19 akan melindungi anak kemungkinan bisa terjadi selama 3 sampai 6 bulan. 

Sementara itu, mengutip dari BBC, peneliti dari Imperial College London menemukan tingkat antibodi yang terinfeksi virus corona nyatanya akan berkurang cukup cepat. Bahkan, seseorang yang sudah punya antibodi COVID-19 berisiko tertular virus corona lagi.

“Kekebalan tubuh menurun cukup cepat, hanya tiga bulan setelah tes dilakukan oleh peneliti  pertama dan sudah menunjukkan penurunan 26 persen pada antibodi,”  kata Prof. Helen Ward, salah satu peneliti.

Dengan demikian, penelitian transfer dan seberapa lama antibodi COVID-19 bisa bertahan di tubuh manusia harus terus dilakukan. Mengingat COVID-19 adalah penyakit baru yang terus berubah-ubah.

Hingga saat ini, cara ampuh untuk menghindari penularan COVID-19 adalah dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik. Anda wajib cuci tangan dengan air dan sabun, tidak berkerumun dengan banyak orang, dan pakai masker!

Cari tahu informasi atau fakta kesehatan tentang COVID-19 lainnya di aplikasi Klikdokter. Untuk konsultasi dengan dokter gunakan fitur Live Chat 24 Jam. 

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar