Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Penyebab Munculnya Ruam Kulit Setelah Konsumsi Makanan Fermentasi

Penyebab Munculnya Ruam Kulit Setelah Konsumsi Makanan Fermentasi

Bukan karena gigitan serangga, ternyata ruam kulit juga bisa muncul karena kebanyakan konsumsi makanan fermentasi. Kenapa bisa begitu? Cari jawabannya di sini.

Makanan fermentasi memang punya penggemarnya sendiri. Salah satu alasannya karena tingginya kandungan probiotik sehingga kesehatan pencernaan terjaga. 

Sayangnya, bagi beberapa orang, konsumsi makanan fermentasi justru timbulkan ruam kulit! Bukan manfaat yang didapat, justru efek samping yang muncul. 

1 dari 4 halaman

Kenapa Makanan Fermentasi Bisa Jadi Penyebab Ruam Kulit?

Menurut dr. Arina Heidyana, hal seperti itu memang bisa terjadi saat Anda kebanyakan makan makanan fermentasi, seperti yoghurt, tape, dan kimchi. 

“Sebab, makanan fermentasi mengandung banyak histamin. Histamin itu adalah senyawa dari tubuh yang bisa memicu reaksi alergi,” jelas dr. Arina. 

Atas dasar itulah, beberapa orang akan mengalami ruam kulit karena salah satu gejala dari alergi adalah seperti itu. 

Kata “beberapa” perlu digarisbawahi di sini. Pasalnya, dr. Arina mengatakan, “Tidak semua orang berisiko mengalami ruam kulit. Jika tubuh mereka dapat mencerna histamin dengan baik, maka tidak akan muncul ruam.”

Selain ruam kulit, tubuh juga bisa merasakan gejala lain jika jumlah makanan fermentasi yang dikonsumsi terlampau banyak.

Mulai dari kram perut, gelisah, pusing, pembengkakan jaringan, detak jantung yang tidak teratur, hingga tekanan darah tinggi, bisa terjadi.

Fungsi histamin sendiri sebenarnya tak cuma memicu timbulnya alergi. Jika jumlahnya dalam batas wajar, dilansir Healthline, senyawa kimia itu memiliki fungsi lain yang lebih penting.

Misalnya saja, mengomunikasikan pesan ke otak dan memicu pelepasan asam lambung untuk membantu pencernaan.

Artikel Lainnya: Pantat Sering Gatal dan Timbul Ruam Merah? Mungkin Ini Penyebabnya

2 dari 4 halaman

Bakteri dari Makanan Fermentasi Bantu Produktivitas Histamin

Saat makanan berfermentasi, bakteri tertentu mengubah histidin asam amino menjadi histamin. Nah, di saat yang sama, bakteri lain secara aktif memecah histamin tersebut.

Proses itu pada akhirnya menyeimbangkan kandungan histamin dalam makanan yang difermentasi. Hal ini sekaligus memengaruhi jumlah histamin pada makanan non-fermentasi saat dicerna di usus. 

Agar jumlah histamin tidak terlalu banyak, Anda pun perlu mengetahui jenis bakteri yang biasanya menyumbang histamin berlebih. Jenis bakteri yang dimaksud itu antara lain:

  • Bakteri Penghasil Histamin

Lactobacillus casei, Lactobacillus reuteri, dan Lactobacillus bulgaricus. Ketiga bakteri tersebut kerap ditemukan di sebagian besar yoghurt.

  • Bakteri Netral

Streptococcus thermophilus dan Lactobacillus rhamnosus. Kedua bakteri ini mengatur reseptor histamin dan mengurangi peradangan. 

  • Bakteri Pengurai Histamin

Bifidobacterium infantis, Bifidobacterium longum, Lactobacillus plantarum, dan Saccharomyces boulardii.

Artikel Lainnya: Cara Mengatasi Ruam Merah pada Kulit Anak

Jika Anda ingin membeli makanan fermentasi kemasan, coba baca dulu komposisinya. Kultur bakteri apa yang digunakan? 

Bila tubuh Anda termasuk yang sangat sensitif terhadap histamin, lebih baik hindari mengonsumsi makanan tersebut. Kalaupun dikonsumsi, jangan banyak-banyak.

Biasanya makanan fermentasi yang terbuat dari sayur-sayuran memiliki bakteri yang netral dan bakteri pengurai histamin. Efek samping makanan fermentasi berupa ruam kulit pun jarang terjadi. 

Berbeda dengan makanan fermentasi yang terbuat dari susu. Mereka lebih banyak mengandung bakteri penghasil histamin. Alhasil, risiko reaksi alergi pun lebih tinggi. 

3 dari 4 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi Ruam Kulit akibat Makanan Fermentasi? 

Karena “penyambung” dari makanan fermentasi dan ruam kulit adalah histamin, untuk mengatasinya, dr. Arina menyarankan Anda untuk minum obat antihistamin. Orang awam biasanya menyebut obat antihistamin ini sebagai obat alergi.

“Obat itu berfungsi untuk mencegah supaya produksi histamin di dalam tubuh tidak semakin banyak. Kalau jumlah histamin terkontrol, ruam kulit beserta gejala alergi lainnya pasti akan berkurang,” kata dr. Arina.

Meski kondisi sudah membaik setelah minum obat antihistamin, Anda tidak boleh terlena lalu mengulanginya kembali.

Jika tubuh Anda sensitif, tidak perlu konsumsi makanan tersebut setiap hari, apalagi dalam porsi yang banyak. 

“Karena ada juga kan yang mengandung alkohol? Kalau berlebihan mengonsumsi alkohol, itu juga tidak baik buat tubuh. Lalu, kandungan probiotik yang berlebih dalam tubuh bisa memicu masalah pada pencernaan, seperti kembung dan diare,” dr. Arina mengingatkan. 

Bukannya sehat, konsumsi fermented food dalam jumlah berlebih justru bikin Anda sakit dan butuh rehat.

Bila masih ada pertanyaan seputar efek samping makanan dan kesehatan kulit, konsultasi kepada dokter lewat fitur LiveChat.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar