Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Bunda, Ini Bahayanya Jika Sering Melarang Anak Menangis!

Bunda, Ini Bahayanya Jika Sering Melarang Anak Menangis!

Tanpa sadar, melarang menangis ternyata punya dampak buruk bagi kesehatan mental anak, lho. Apa saja bahaya yang dapat ditimbulkan?

Kalimat seperti “Jangan nangis! Itu tandanya cengeng” atau “Masa begitu saja nangis, sih?” mungkin sering dilontarkan para orang tua ketika melihat si anak sedang mengekspresikan rasa sedihnya. 

Beberapa orang tua diketahui juga ada yang mendiamkan tangis anak atau langsung memberhentikan ekspresi sedih tersebut lewat berbagai cara, seperti membentak misalnya. 

Padahal, menangis tidak selalu menandakan bahwa anak lemah atau cengeng, lho. Melarang anak menangis malah membawa dampak buruk bagi perkembangan mental buah hati ke depannya.

1 dari 4 halaman

Mengapa Orang Tua Melarang Anak Menangis?

Sebagian masyarakat menilai ekspresi kegembiraan, seperti senyum dan tertawa itu adalah contoh dari emosi baik. Sedangkan marah, sedih, lalu menangis adalah emosi yang buruk. 

Tak jarang, ketika anak menangis, orang tua akan langsung berusaha menghentikannya. Ini karena mereka pikir menangis adalah wujud dari emosi buruk yang harus ditahan jangan sampai keluar. 

Sayangnya, ketika kita melarang anak menangis, itu sama saja dengan membuat anak berhenti untuk mengungkapkan rasa kesedihan mereka.  

Larangan ini juga membawa pesan tersendiri kepada buah hati, yakni perasaan sedih adalah suatu hal yang salah alias tidak boleh sampai dirasakan.

Padahal, Jika meluapkan emosi sedihnya dengan menangis terus-menerus ditahan, dapat menghambat perkembangan emosional anak. 

Artikel Lainnya: Tips Mengatasi Anak Menangis dan Merengek di Tempat Umum

2 dari 4 halaman

Ini Bahaya Melarang Anak Menangis

Ingat, pada dasarnya manusia memiliki beragam emosi yang bisa diekspresikan dengan cara masing-masing, termasuk dengan menangis. 

Menangis juga merupakan suatu cara seseorang berkomunikasi lewat ekspresinya. Jika menangis malah dimarahi, bukankah sama tandanya dengan melarang seseorang menunjukkan perasaan yang ia sedang alami, ya?

Menanggapi hal ini, dr. Reza Fahlevi, Sp.A, menyampaikan hal senada. Menurutnya, menangis adalah hal wajar dan tidak boleh ditahan karena dapat memengaruhi perkembangan mental anak ke depannya. 

“Kalau anak nangis memang wajar, karena memang ini luapan emosi yang harus dikeluarkan,” dr. Reza. 

“Jangan dibiarkan atau didiamkan juga nangis terus-terusan, ini sama saja dengan neglect (diabaikan emosi si anak). Di mana artinya ortu sama sekali nggak memberikan perhatian atau kasih sayang pada anak saat dia menangis,” kata dr. Reza menambahi.

Dikutip dari Psychology Today, saat tangis atau ekspresi lain diabaikan begitu saja oleh orang tua, anak berisiko mengalami masalah emosional seperti berikut dewasa nanti:

  • Anak takut meminta bantuan, bahkan cenderung menolak dukungan dan perhatian dari orang lain.
  • Anak jadi sulit mengetahui mana kekuatan dan kelemahan di dalam dirinya.
  • Anak jadi kurang menyayangi dirinya sendiri.
  • Anak akan mati rasa atau hatinya kosong.
  • Anak jadi pribadi yang cepat menyerah.
  • Anak jadi sering menyalahkan dirinya sendiri sampai menganggap meminta bantuan orang lain soal masalah perasaan adalah hal salah dan memalukan. 
  • Anak memandang harga dirinya sendiri rendah.
  • Anak akan keras pada dirinya sendiri, bahkan bisa tidak punya empati kepada orang lain. 

Artikel Lainnya: 8 Penyebab Bayi Anda Sering Rewel

3 dari 4 halaman

Saat Anak Menangis, Orang Tua Harus Apa?

Dokter Reza mengatakan membujuk anak untuk berhenti atau menanyakan apa masalahnya sampai ia menangis adalah hal yang dapat ortu lakukan. 

“Jika menangis, bisa dibujuk untuk berhenti, pokoknya semua dilakukan atas dasar kasih sayang. Bisa juga memberikan sesuatu yang buat dia senang atau dibujuk. Namun, bukan berarti di-spoil. Nanti anak menggunakan tangis untuk mendapatkan segala hal yang dia inginkan,” kata dr Reza.

Untuk cara yang paling baik, dr Reza menyarankan untuk memberikan anak pengertian dengan bahasa yang mereka pahami. 

Misalnya, ketika anak menangis gara-gara tidak dibelikan mainan, Anda  bisa mengatakan ‘Kamu nangis gara-gara tadi tidak Mama belikan mainan, ya?’ 

Menanyakan hal seperti ini juga membuat anak tahu bahwa orang tuanya memperhatikan perasaannya.  Dengan demikian, Anda bisa masuk ke dalam luapan emosinya dan jadi lebih mudah menjelaskan alasan kenapa Anda tidak memberikannya mainan. 

Memberikan pengertian memang tidak bisa sekali atau dua kali dilakukan, kemungkinan butuh berulang kali agar anak mengerti. Inilah tugas orang tua untuk tak henti mencari cara untuk menjelaskan atau bahkan memahami emosi anak lebih baik. 

Ingat, komunikasi yang baik dengan ortu akan menjadikan kepribadian anak lebih positif ke depan nanti. 

Selain itu, Anda juga dapat melakukan beberapa hal berikut saat anak sedang menangis: 

  • Biarkan anak menangis dan berikan rasa nyaman, jangan ditatap risi.
  • Tetap berada di dekat anak agar mereka tahu bahwa tidak apa-apa untuk menangis.
  • Bantu mereka menjelaskan apa yang mereka rasakan. Akui bahwa yang ia rasakan itu tidak salah dan boleh dialami. 
  • Setelah tangis mereda, coba bicarakan tentang bagaimana perasaannya sekarang. 
  • Buat anak menggambarkan perasaannya lewat gambar atau tulisan.
  • Cari dan bantu jalan keluar karena masalah yang membuat ia menangis. 

Untuk tahu informasi lanjut tentang tips parenting dan bahaya melarang anak menangis, jangan ragu konsultasikan ke dokter spesialis anak atau psikolog. Lebih mudahnya, ajukan pertanyaan lewat fitur LiveChat 24 jam di aplikasi Klikdokter. 

Apa anak Anda lebih sering menangis saat di rumah saja selama pandemi virus corona? Anda bisa mencari tahu jawabannya di webinar Klikdoker ini. 

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar