Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mantan Miss Universe Malaysia Dikecam saat Komentari Demo AS

Mantan Miss Universe Malaysia Dikecam saat Komentari Demo AS

Viral unggahan mantan Miss Universe Malaysia yang mengomentari demo AS hingga membuatnya dikecam banyak pihak karena dianggap bersikap rasis.

Mantan Miss Universe Malaysia, Samantha Katie James dikecam oleh banyak pihak akibat unggahan Instagram-nya yang berkomentar tentang aksi demo AS akibat kematian seorang pria kulit hitam bernama George Floyd beberapa waktu lalu.

Dikecam karena Komentar Bernada Rasisme

Akibat unggahan yang kontroversial, wanita berusia 25 tahun itu langsung dikecam oleh banyak pihak, termasuk warga Malaysia sendiri. Kepada lebih dari 160.000 followers-nya di Instagram, Samantha mengatakan aksi demo itu adalah bukti bahwa orang kulit putih telah menang dan menyebut para demonstran adalah manusia bodoh.

Melansir Independent, pernyataannya ini tentu menuai kritik dan kecaman dari banyak pihak. Tidak hanya kecaman dari orang luar, tapi warga negara Malaysia pun ikut mengkritik dan mengecam aksi yang dilakukan Samantha.

Karena tindakan yang tidak terpuji ini, Organisasi Miss Universe Malaysia (MUMO) merilis sebuah pernyataan terkait unggahan Samantha. Disebutkan bahwa hal itu adalah sesuatu yang tidak pantas, menyinggung, tidak bisa diterima, dan menyakitkan.

Dalam pernyataannya, MUMO juga mengutuk semua tindakan rasisme dan prasangka di belahan dunia mana pun, termasuk di negaranya sendiri.

1 dari 4 halaman

Apakah Rasisme Tanda Gangguan Jiwa?

Meski Anda sudah tinggal dan hidup di zaman modern, perilaku rasisme masih saja terjadi dan bahkan meningkat di beberapa daerah. Contohnya, tidak sedikit orang yang justru melakukan rasisme pada orang-orang Papua dan mengejek warna kulit mereka.

Lantas, apakah perilaku rasisme bisa disebut sebagai salah satu tanda gangguan jiwa?

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog menjelaskan, rasisme bukan jadi tanda seseorang alami gangguan jiwa. Namun, sifat rasisme adalah bentuk tindakan di mana seseorang tidak memiliki empati dan memiliki masalah pada norma manusia.

Artikel lainnya: AS Membara, George Floyd Tewas karena Sesak Napas

“Orang yang suka melakukan tindak rasisme biasanya akan sulit berempati dan suka melanggar aturan. Norma manusianya itu sudah tidak ada, sehingga ia selalu merendahkan orang lain. Mungkin bisa disebut gangguan jiwa ketika orang itu sampai melakukan kekerasan, jadi memang orang ini dasarnya sudah memiliki perilaku kekerasan,” jelas Ikhsan.

“Ditambah ketika punya pemahaman rasisme hingga mendukung untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap orang yang dianggapnya berbeda, misalnya warna kulit, ras, suku, agama, dan sebagainya,” tambahnya.

2 dari 4 halaman

Cara Menyikapi Orang yang Rasis

Bila Anda jadi salah satu korban rasisme, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghadapinya, yaitu:

1. Tetap Tenang

Kembali mengamuk atau melakukan tindakan rasis justru akan memperkeruh masalah. Menurut Ikhsan, ketika Anda merespons sikap rasis, maka orang tersebut justru akan semakin senang untuk mengejek, mengolok, dan memaki Anda.

2. Jangan Takut

Meski Anda menjadi korban rasisme, jangan takut! Karena, orang di sekitar pasti banyak yang mendukung Anda. Bila memang orang itu sampai melakukan tindakan kekerasan, segera lapor polisi dan biarkan penegak hukum yang menyelesaikan masalah ini.

Artikel lainnya: Benarkah Korban Bullying Rentan Bunuh Diri?

3. Tetap Pegang Bhinneka Tunggal Ika

Indonesia menganut paham Bhinneka Tunggal Ika. Ada banyak agama, suku, dan ras yang tinggal di Indonesia. Bila orang itu terus melakukan tindakan rasis, katakan padanya bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah hal yang dianut bangsa Indonesia. Katakan bahwa setiap manusia itu punya hak yang sama.

Ingat, tidak melawan bukan berarti Anda tidak boleh membela keadilan. Tapi, pastikan Anda tetap tenang dan jangan kembali melakukan tindakan rasis pada orang tersebut.

3 dari 4 halaman

Cegah Rasisme sejak Dini

Ikhsan mengatakan, ada cara yang bisa dilakukan untuk mencegah rasisme sejak dini, yaitu dengan menerapkan pola asuh yang benar dan mendapatkan pendidikan yang benar juga di sekolah.

“Pola asuh itu sangat menentukan sikap anak ketika dewasa. Jika sejak kecil Anda ajarkan mereka untuk menerima toleransi satu sama lain tanpa membeda-bedakan, maka sikap rasisme tidak mungkin terjadi.

Namun, pola asuh ini juga harus didukung dengan pendidikan yang benar juga. Jika sekolah atau lingkungan sekolahnya masih menganut sistem rasisme, maka pola asuh ini akan sulit diterapkan pada anak,” tutup Ikhsan.

Yuk, hentikan pola pikir dan tindakan berbau rasisme sekarang juga! Hidup harmonis bersama tentu akan lebih menyenangkan, bukan? Bila Anda ingin konsultasi tentang masalah mental, chat psikolog di aplikasi KlikDokter.

(FR)

0 Komentar

Belum ada komentar