Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Sering Lihat Wajah di Benda Mati, Bisa Jadi Anda Alami Pareidolia!

Sering Lihat Wajah di Benda Mati, Bisa Jadi Anda Alami Pareidolia!

Pareidolia, fenomena di mana Anda melihat bentuk wajah seseorang di awan atau bercak di tembok. Nah, kalau terlalu sering melihat seperti itu, bahaya tidak, ya?

Pernahkah saat berhadapan dengan pemandangan atau objek benda mati, Anda langsung membayangkan wajah manusia, karakter kartun, atau karakter makhluk hidup lainnya? Jika iya, momen tersebut ternyata bagian dari fenomena psikologis yang disebut pareidolia.

Apa Itu Pareidolia?

Pareidolia adalah kecenderungan bagi semua orang untuk melihat wajah atau pola di benda mati. Istilah pareidolia berasal dari bahasa Yunani yang merupakan gabungan dari dua arti kata, yakni ‘suatu yang salah’ dan ‘gambar’.

Perlu diingat, pareidolia ini bukanlah kelainan atau gangguan, sehingga kita tidak bisa menyebutnya dengan kelainan pareidolia.

Untuk fenomena pareidolia ini, kita mungkin pernah melihat informasi yang menyatakan bahwa awan, tanah, bentuk batang pohon, atau bukit bebatuan, mirip dengan simbol Ketuhanan, orang sedang berdoa, ataupun hewan raksasa.

Buat yang belum tahu soal fenomena psikologis ini, kemiripan objek dengan apa yang ditafsirkan dianggap sebagai hal sentimentil.

Bahkan, ini kerap dianggap sebagai hal mistis yang lalu dihubungkan dengan mitos atau legenda! Padahal, kebetulan saja bentuknya seperti itu.

Artikel Lainnya: Manfaat Sehat Bicara dengan Diri Sendiri

1 dari 3 halaman

Apa yang Menyebabkan Orang Mengalami Pareidolia?

Karena ini bukan termasuk gangguan, maka siapa saja bisa mengalaminya. Waktu dan tempatnya pun tak terbatas.

Pareidolia mirip seperti persepsi. Satu objek bisa dibayangkan atau dilihat sebagai bentuk yang berbeda-beda, tergantung dari pemikiran yang melihat.

Munculnya persepsi pareidolia tentu tak tiba-tiba. Ada beberapa faktor yang menyebabkan kenapa kita bisa melihat wajah seseorang di benda mati, yaitu:

  • Delusi Psikologi

Para ahli berpendapat, pareidolia merupakan khayalan indera manusia. Dengan membayangkan sesuatu, kita menjadi mendapatkan pembenaran dari apa yang kita yakini.

Misalnya, seseorang percaya bahwa dinosaurus pernah ada di wilayah A. Ketika ada bebatuan besar yang bentuknya mirip seperti binatang tersebut, ia menganggap bahwa batu-batu itu adalah dinosaurus yang membatu karena termakan usia. Jadi, menurutnya, apa yang diyakini selama ini benar adanya.

Artikel Lainnya: Jenis-Jenis Gangguan Mental yang Perlu Anda Tahu

  • Metode Bertahan Hidup

Penulis dan ahli kosmologi Amerika Serikat, Carl Sagan berpendapat, pareidolia adalah metode bertahan yang dilakukan oleh manusia.

Dalam bukunya yang berjudul The Demon-Haunted World – Science as a Candle in the Dark, kemampuan untuk melihat wajah dari pola acak atau jarak pandang yang tak jelas dan jauh adalah metode bertahan hidup yang unik.

Insting inilah yang membuat kita bisa memutuskan cepat apakah pihak yang mendekat merupakan teman atau lawan. Alhasil, manusia kerap mengalami misinterpretasi dari pola acak yang ada.

  • Bagian dari Seni

Salah satu pelukis terkenal dunia, Leonardo da Vinci, pernah berpendapat bahwa pareidolia sebenarnya termasuk proses seni. Seorang seniman sering kali mengalami fenomena ini.

Bahkan, sebaiknya seniman harus mengalami pareidolia untuk menciptakan sebuah karya (mirip seperti inspirasi).

  • Berkaitan dengan Neurotisme

Studi yang dipublikasikan dalam Association for the Scientific Study of Consciousness melaporkan, pareidolia disebut juga sebagai fenomena yang berhubungan dengan sifat dan kondisi emosi seseorang.

Ini berarti, saat seseorang bisa melihat wajah dari objek acak di sekitarnya, hal itu berkaitan dengan mood dan neurotismenya sendiri.

Neurotisme adalah dimensi kepribadian seseorang dalam hal kecemasan dan rasa tertekan. Orang yang sering mengalami ini disebut-sebut bisa memecahkan masalah dengan cara-cara yang unik dan berbeda.

Artikel Lainnya: Kreativitas dan Gangguan Jiwa, Adakah Hubungannya?

2 dari 3 halaman

Adakah Dampak Buruk dari Pareidolia?

Terlepas dari apa pun penyebab pareidolia, Ikhsan Bella Persada, M.Psi.,Psikolog mengatakan, fenomena psikologis ini lebih mengarah kepada persepsi.

“Nah, sayangnya, pada beberapa orang yang melihat bentuk makhluk hidup di benda mati, itu bisa menimbulkan perasaan cemas atau takut berlebih, apalagi jika keseringan,” jelasnya.

Psikolog Ikhsan pun berpendapat, “Jika sesekali saja kita membayangkan benda ini mirip dengan A, benda ini mirip dengan B, itu sangat wajar.

Tapi, kalau kita sampai mengkhayal bahwa objek tersebut akan mengejar dan menghantui kita, inilah yang butuh pertolongan lebih.”

Psikolog bisa mencari tahu, apakah kondisi tersebut hanya pola khayal pada umumnya atau mengarah kepada skizofrenia. Sebab, kalau dibiarkan terus-menerus, apalagi si orang itu sudah merasa dihantui oleh objek yang ada, bukan tak mungkin pareidolia mengarah ke skizofrenia.

Melihat wajah di benda mati sebenarnya merupakan hal wajar dan bukan sebuah kelainan atau gangguan mental. Malahan, pareidolia mengarah kepada proses kreatif seseorang!

Namun, hati-hati bila kondisi khayal-mengkhayal ini sudah sampai memengaruhi kehidupan Anda, misalnya seperti dihantui atau dikejar-kejar. Jika tak ditangani dengan baik oleh psikolog, dikhawatirkan pareidolia berujung pada skizofrenia.

Masih ada pertanyaan tentang pareidolia, seputar kebiasaan mengkhayal, ataupun kondisi psikologis dan medis lainnya? Langsung saja unduh aplikasi KlikDokter dan tanya langsung pada ahlinya lewat fitur Live Chat.

[OVI/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar