Sukses

Atur Budget Kesehatan Selama Pandemi COVID-19

Akibat pandemi COVID-19 semua hal terdampak, termasuk ekonomi kita. Ini alasan pentingnya atur keuangan untuk urusan kesehatan selama wabah virus corona.

Virus corona memang bikin semua ambyar! Bukan cuma dari sisi medis, sektor finansial pun terdampak sangat berat. Kalau sudah begini, Anda perlu tahu cara mengatur keuangan selama masa pandemi virus corona, khususnya dalam hal kesehatan.

Melansir BBC, sudah lebih dari 2 juta pekerja mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Selain itu, banyak orang yang dirumahkan, dipotong gajinya, sampai benar-benar penghasilannya nol akibat COVID-19 ini.

Memang, COVID-19 tak hanya memunculkan masalah kesehatan, tapi juga masalah ekonomi. Banyak orang sekarang terseok-seok untuk bisa sekadar bertahan hidup.

1 dari 5 halaman

Pandemi COVID-19: Masalah Serius bagi Ekonomi

Pakar finansial, Aakar Abyasa Fidzuno mengungkapkan bahwa pandemi seperti COVID-19 ini memang menghantam berbagai sektor tanpa terkecuali. 

Menurutnya, kajian terkait masalah kesehatan yang berhubungan dengan wabah dan efeknya pada ekonomi adalah masalah serius yang sudah dilakukan bertahun-tahun. 

Aakar mengungkapkan, negara kita sendiri sebenarnya kewalahan dalam mengatasi ekonomi akibat pandemi COVID-19. Saat ini, semua fokus pada kesehatan, dalam arti semua anggaran difokuskan pada sektor kesehatan. 

Lalu, bagaimana nasib stimulus ekonomi dari negara? Berat untuk diharapkan.

"Ini jelas adalah problem, force majeure. Kita pada kenyataannya kalau dikalkulasi tidak punya power, alias tidak bisa di-handle dari sisi demografi dan geografis. Kita juga sudah petakan jumlah tenaga medis, jumlah rumah sakit, dan jumlah logistik. 

Oleh karena itu, APBN bisa sangat direlokasi. Angka 490 triliun, itu hanya untuk menyelesaikan isu ini," ungkap Aakar saat berbicara dalam sesi "Konsul Santai" bersama dr. Vito A. Damay, Sp. JP M. Kes, FIHA FICA.

"Sebab, pada masa ini, pertama, masalah kesehatan harus diselesaikan. Kedua, secara paralel isu sosial dan ekonomi. Selain itu, Rp 490 triliun angkanya tidak cukup. Maka dari itu, pemerintah rencananya akan menerbitkan global bonds, pinjam ke negera lain," lanjutnya.

Jelas bahwa prioritas sekarang ada pada dua hal – Aakar menyebut pada sektor kesehatan dan ekonomi. Dari sisi ekonomi, banyak masalah, orang yang menjadi pengangguran, dan masalah ekonomi lainnya.

"Oleh karena itu, saya sebut ini sebagai masalah sosial ekonomi. Ketika orang kehilangan daya untuk makan, mereka adaptasi, mereka akan berusaha untuk survive, maka masalah sosial akan muncul. 

Di Amerika Serikat saja yang maju, muncul protes, kriminal naik, penjarahan. Kita bakal ke sana nanti. Kalau kita kalkulasi, kalau tidak bisa memecahkan masalah ini secara cepat dan tepat, maka kita akan ke sana," ungkap Aakar.

Aakar menjelaskan, kita semua sebenarnya berada di ujung masalah ekonomi yang membahayakan. Bahkan, dari sisi kesehatan, ini seperti membuka kenyataan industri kesehatan Indonesia. 

"Tapi dari sisi finansial, terlihat sama, hanya saja selama ini di-cover APBN, kita terlena. Tapi, berapa banyak masyarakat kita yang aware dengan APBN? Kita selalu fokus sama utangnya," sambungnya.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

Harus Punya Bujet untuk Kesehatan

Dalam kondisi pandemi seperti sekarang ini, Aakar menjelaskan bahwa setiap orang harus berfokus pada hal-hal tertentu. Tetapi, esensi untuk menyiapkan budget kesehatan tetap perlu dilakukan.

Menurutnya, pandemi COVID-19 ini seperti membuka mata semua orang bahwa kesehatan adalah kebutuhan dasar. Akan tetapi, Aakar mengatakan bahwa untuk sekarang yang penting menjaga diri untuk tidak sakit.

"Kita harus punya budget untuk kesehatan. Selain itu, kita juga harus jadi bagian solusi tersebut dalam masa seperti ini. Jangan sakit, minimal punya ketahanan pangan," tutur Aakar. 

"Kesehatan adalah basic needs. Di negara mana pun – termasuk Singapura – BPJS itu untuk semuanya. Jadi, tidak mengenal kasta. 

Kalau saya bilang, kesehatan itu kebutuhan dasar, mau berapa pun harganya harus diusahakan. Kita tidak bisa menghasilkan ekonomi kalau tidak sehat. Kesehatan adalah investasi," tegasnya.

3 dari 5 halaman

Ekonomi Mengkhawatirkan, Masyarakat Menengah Harus Hati-hati

Aakar mengungkapkan, kenaikan ekonomi tahun ini akibat COVID-19 diprediksi hanya sekitar 0,5% versi Kementerian Keuangan. Sementara, versi Bank Indonesia lebih parah, yakni minus 4%. Artinya apa? 

Secara perhitungan, Aakar mengatakan bahwa situasi kita sudah darurat. Jadi, ia menyarankan kita semua secara pribadi sudah harus ambil “mode darurat”. 

Analisis Aakar cukup mengejutkan soal dampak ekonomi ini. Ia mengatakan, yang paling terdampak adalah masyarakat berstatus sosial ekonomi menengah ke atas. 

"Saya paling khawatir dengan masyarakat menengah dari awal pandemi ini, justru bukan kelas bawah. Kelas bawah ini biasanya punya BPJS, biasa ke puskesmas, terbiasa antre. Mereka terbiasa dengan fasilitas terbatas. Kasarnya, mereka makan sekali sudah biasa," kata Aakar.

"Nah, sedangkan kelas menengah ke atas biasanya tidak siap. Mereka tidak tahu cara mengaktifkan ‘mode darurat’. Jadi jelas bahwa dunia sedang darurat. Kalau sekarang, katakan Anda baik-baik saja dari sisi penghasilan, tapi harus tetap nyalakan ‘mode darurat’," lanjutnya.

Lebih lanjut, Aakar mengatakan bahwa untuk sekarang fokus saja pada kebutuhan primer. Semuanya harus dalam kondisi bertahan sampai wabah ini benar-benar selesai.

"Kebutuhan primer saja yang dibeli. Kalau bukan primer, tidak usah dibeli. Fokusnya adalah kesehatan dan survive sampai pandemi selesai. Pandemi ini dinyatakan selesai kalau vaksin ditemukan, pasien mulai melandai, sembuh naik, dan meninggal turun," kata Aakar.

"Menurut World Economic Forum, kita baru bisa recovery pertengahan tahun depan (18 bulan dari outbreak pertama). Jadi, kita harus objektif dalam posisi sekarang, apakah ada income atau tidak, atau masih ada aset atau tidak, sekarang kita harus tahan. 

Aset yang ada hitung ulang, kita harus merencanakan bisa hidup sampai tahun depan," sarannya.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

4 dari 5 halaman

Harus “Kencangkan Ikat Pinggang”

Satu-satunya cara yang bisa dilakukan menurut Aakar dalam masa sekarang ini adalah “mengencangkan ikat pinggang” atau berhemat. Ini sebuah hal yang wajib bagi semua orang. 

"Kita harus ‘mengencangkan ikat pinggang’ sekarang. Bahkan, seharusnya sudah dilakukan sejak pertama kali disarankan untuk Work from Home," tegas Aakar.

Berhemat bukan hanya bagi mereka yang gajinya dipotong atau yang hanya mengandalkan tabungan. Mereka yang masih punya penghasilan pun harus menghemat uang. 

"Ini berlaku sama dengan orang-orang yang masih punya penghasilan. Mereka harus ‘mengencangkan ikat pinggang’. Jelas bahwa pandemi ini efeknya seperti bola salju. 

Pertama ada pandemi, itu sudah berefek pada sektor pariwisata, kemudian Februari efeknya terasa pada sektor ekspor-impor. 

Lalu, Maret langsung berimbas pada sektor makanan dan event, April yang mulai kena adalah sektor jasa, seperti kantor pengacara. Selanjutnya, yang bisa kena adalah finansial atau perbankan, kredit macet akan tinggi," ungkap Aakar.

Jadi, menurut Aakar, selama statusnya pandemi ini masih berlangsung, jangan acuh dengan keadaan. Jelas ini akan banyak memengaruhi keuangan banyak orang. 

Satu saran yang juga diungkapkan oleh Aakar adalah tahan dulu bagi Anda yang ingin berinvestasi, baik itu saham ataupun dalam bentuk lain. 

Pasalnya, semua sektor sekarang sedang terdampak secara serius. Sekarang fokusnya bagaimana bisa hidup sampai tahun depan.

"Untuk sekarang, investasi agak berat. Misalnya, saya sebagai orang finansial menyarankan orang untuk beli saham. Sepertinya itu sama saja saya mengkhianati ilmu pengetahuan yang saya punya. 

Pasalnya, kita tahu bahwa semua sektor sedang terdampak. Sekarang, hidup yang esensial saja dan anggap tidak ada pemasukan setahun ke depan," pungkasnya.

Kita pasti bisa menghadapi pandemi virus corona ini bersama-sama. Berhematlah dan buat manajemen keuangan yang matang, khususnya untuk urusan kesehatan. Ingin berkonsultasi gratis dengan dokter? Gunakan fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar