Sukses

Orang Obesitas Berisiko Tinggi Terinfeksi COVID-19?

Faktor risiko tak melulu soal usia. Katanya, orang obesitas juga berisiko terinfeksi virus corona. Benar atau tidaknya hal tersebut, berikut penjelasannya.

Sudah lebih dari 1,8 juta kasus infeksi virus corona dengan jumlah kematian mencapai 114.000 lebih. Makin banyaknya kasus positif COVID-19 di dunia membuat para ahli medis dan peneliti terus mencari tahu bagaimana penyebaran ini berlangsung cepat.

Selama ini, orang yang dianggap berisiko terinfeksi virus corona adalah lansia. Setelah dipelajari lebih dalam, ternyata semua umur berpotensi untuk terinfeksi.

Lalu, ada lagi hasil penelitian terbaru mengatakan bahwa orang obesitas berisiko lebih tinggi untuk terinfeksi virus corona. Benarkah demikian?

 

1 dari 4 halaman

Tingkat Obesitas di AS Lebih Tinggi dari Tiongkok

Meski jadi negara pertama yang memiliki kasus COVID-19, kini jumlah orang yang terinfeksi di Tiongkok jauh lebih rendah ketimbang di Eropa dan Amerika.

Hal itu sebenarnya sudah lama meresahkan masyarakat. Mereka berpikir, “Kok, bisa justru negara lain yang lebih parah?”

Namun, Kepala Epidemiologi Prancis, Professor Jean-Francois Delfraissy mengatakan obesitaslah yang menjadi faktor risiko bagi mereka untuk terinfeksi coronavirus.

Hingga saat ini, 42,4% populasi Amerika Serikat (AS) mengalami obesitas, sedangkan di Tiongkok tidak sebanyak itu. Alhasil, jumlah kasus positif dan kematian di AS lebih banyak dibanding di Tiongkok.

Prof. Delfraissy mengungkapkan orang dengan obesitas umumnya memiliki penyakit diabetes dan tekanan darah tinggi (disadari atau tidak).

Dua faktor tersebut, menurutnya, sangat bisa menghasilkan gejala yang lebih buruk pada penderita COVID-19 dan meningkatkan risiko kematian.

Artikel Lainnya: 7 Penyebab Obesitas yang Sering Diabaikan

2 dari 4 halaman

Mengapa Orang Obesitas Lebih Rentan Terkena Coronavirus?

Selama influenza A (H1N1) atau pandemi virus flu babi di tahun 2009, ada penelitian yang menunjukkan bahwa obesitas adalah faktor risiko untuk peningkatan kematian pasca infeksi.

Selain itu, penelitian di Tiongkok terkait COVID-19 juga berpendapat, korban meninggal dari kasus positif di sana juga didominasi oleh mereka yang obesitas.

Lantas, bagaimana tanggapan dokter mengenai hal tersebut? Nah, dr. Alvin Nursalim, Sp.PD mengungkapkan sebenarnya tak bisa kita langsung mengiyakan bahwa obesitas adalah faktor risiko utama dari infeksi COVID-19.

Pasalnya, tak semua orang gemuk memiliki penyakit penyerta. Itu hanya kecenderungan yang belum pasti. Obesitas bisa dihubungkan dengan COVID-19 bila memang sudah ada penyakit penyerta.

“Untuk memastikannya, orang yang obesitas perlu di-skrining untuk mengetahui apakah dia punya diabetes, gangguan ginjal, atau hipertensi. Kalau ternyata tak punya penyakit itu, maka tak bisa dikatakan bahwa dia berisiko tinggi untuk mengalami perburukan kondisi,” jelas dr. Alvin.

“Setelah diperiksa kemudian ada penyakit penyerta? Barulah orang tersebut harus mendapatkan perawatan yang jauh lebih intensif.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

Sebab, risiko perburukan memang lebih tinggi pada orang yang punya penyakit penyerta, misalnya diabetes. Jadi, tidak benar kalau kita langsung memukul rata bahwa semua orang obesitas berisiko tinggi terinfeksi virus corona dan akan kritis,” dr. Alvin melengkapi.

Hal senada juga diungkapkan oleh dr. Devia Irine Putri. Ia berpendapat, obesitas biasanya tidak berdiri sendiri.

Kondisi tersebut akan membuat parah infeksi COVID-19 bila semisal pasien punya penyakit penyerta, seperti kadar kolesterol tinggi atau penyakit jantung.

“Kalau memang terbukti ada, baru dia berisiko. Karena, orang obesitas yang punya penyakit penyerta akan mengalami reaksi inflamasi pada sel-sel tubuhnya. Alhasil, ini bisa memengaruhi sistem imunitas tubuhnya,” dr. Devia menambahkan.

Jadi, penelitian-penelitian yang sudah ada tersebut hanya bisa kita anggap sebagai kecenderungan.

Tidak semua orang obesitas berisiko terinfeksi virus corona dan alami kondisi kritis. Akan menjadi begitu kalau dia sedari awal punya penyakit penyerta, seperti yang telah dibahas di atas.

Artikel Lainnya: Daftar Rumah Sakit Rujukan Pasien COVID-19 di Seluruh Indonesia

3 dari 4 halaman

Bagaimana Cara Supaya Tak Alami Obesitas di Tengah Pandemi?

Adanya anjuran untuk selalu berada di dalam rumah mungkin bisa menjadi momen “penggemukan diri”. Supaya berat badan ideal dan kondisi tetap bugar, yuk lakukan tiga cara utama di bawah ini:

  • Tetap Atur Pola Makan

Hindari terlalu banyak ngemil, apalagi makanan manis. Pilihlah makanan yang proses olahannya minimal, lalu tetap cukupi kebutuhan sayur dan buah. Porsi makanan juga harus disesuaikan.

Jangan mentang-mentang di rumah banyak makanan, Anda lalu menghabiskannya langsung saat itu juga.

  • Tetap Aktif Bergerak

Tak ada yang salah dari rebahan. Tapi, itu akan menjadi salah bila Anda melakukannya terus-menerus.

Banyak jenis olahraga yang bisa dilakukan di area yang sempit, jadi Anda tak boleh banyak alasan. Lakukan olahraga setidaknya 30 menit setiap hari.

  • Jangan Stres Berlebih

Boleh saja khawatir, tapi jangan berlebihan. Cemas berlebihan pada sebagian orang bisa meningkatkan nafsu makan, terutama makanan manis.

Kalau hasrat tersebut dimanjakan, jarum timbangan pasti akan terus bergerak ke kanan dan malah bikin Anda semakin stres!

Sekarang, Anda sudah mengetahui jawaban soal obesitas dan hubungannya dengan infeksi virus corona. Intinya, supaya Anda menjadi orang tak berisiko, tetap lakukan pola hidup sehat dan bersih, serta lakukan physical distancing, ya.

KlikDokter bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Kalau mau tahu lebih lanjut seputar infeksi coronavirus gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi dengan dokter. Untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa coba Cek Corona Online. Baca terus info menarik seputar kesehatan di KlikDokter!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar