Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • COVID-19 Jadi Nama Baru Coronavirus, Ini Update Terbarunya!

COVID-19 Jadi Nama Baru Coronavirus, Ini Update Terbarunya!

Virus corona masih menjadi momok bagi seluruh dunia. Kini, virus mematikan itu punya nama baru yakni COVID-19. Mengapa demikian?

Wabah virus corona di dunia semakin hari makin mengkhawatirkan. Sampai Rabu, (12/02) sudah 45.183 orang yang terinfeksi virus mematikan ini. Terbaru, Badan Kesehatan Dunia (WHO) sudah menetapkan bahwa penyakit ini punya nama baru, yakni COVID-19.

Mengapa Namanya Berubah Jadi COVID-19?

WHO mengumumkan bahwa nama baru untuk virus yang pertama kali muncul di Wuhan, Tiongkok itu pada Selasa (11/2). Sebelumnya, virus ini lazim disebut penyakit pernapasan akut 2019-nCoV. Di sisi lain, sering juga disebut coronavirus.

"Kami sekarang memiliki nama baru untuk penyakit ini (corona) dan nama itu adalah COVID-19," kata Director General WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam siaran pers.

Dimunculkannya nama COVID-19 oleh WHO bukan tanpa alasan. "CO" sendiri adalah singkatan Corona, sementara "vi" untuk virus dan "d" untuk disease (penyakit).

Sedangkan, untuk angka "19" merujuk pada tahun pertama kali virus ini ditemukan, atau tepatnya pada 31 Desember 2019.

Menurut Tedros, para peneliti sebelumnya telah menyerukan nama resmi untuk menghindari kebingungan dan stigmatisasi kelompok atau negara mana pun.

"Kami (WHO) harus menemukan nama yang tidak merujuk pada tempat geografis, hewan, seseorang, atau kelompok. Nama ini juga harus dapat disebutkan dengan mudah sekaligus masih berhubungan dengan penyakit tersebut," jelas Tedros.

"Memiliki nama khusus dapat mencegah penggunaan yang tidak akurat atau munculnya stigma terhadap golongan tertentu. Ini juga membantu membuat standar format di masa depan untuk wabah coronavirus," sambungnya.

Artikel Lainnya: Tanda-tanda Seseorang Sudah Sembuh dari Virus Corona

1 dari 3 halaman

Update Terbaru dari COVID-2019 Alias Virus Corona

Selain mengumumkan perubahan nama, Tedros juga mengatakan COVID-19 menjadi ancaman serius bagi dunia saat ini. Akan tetapi, ia optimistis ada peluang untuk memerangi virus tersebut.

Sekarang ada lebih dari 44.665 kasus yang dikonfirmasi di seluruh Tiongkok. Jumlah kematian telah melampaui epidemi penyakit SARS pada 2002-2003.

Pada hari Rabu, (12/02) sekitar 1.068 orang meninggal di Provinsi Hubei saja, sebuah catatan harian, dan rata-rata jumlah kematian nasional sekarang 1.109 orang.

Namun, jumlah infeksi baru secara nasional turun hampir 20 persen dari hari sebelumnya, dari 3.062 menjadi 2.478. Meski turun, angka ini dirasa tetap tinggi.

Sejauh ini, kasus terbanyak masih di Tiongkok dengan 99 persen kasus kematian masih di Negeri Tirai Bambu. Dua kasus kematian lagi terjadi masing-masing di Hong Kong dan Filipina.

Sementara, untuk kasus terbanyak kedua masih terjadi di Jepang, yakni sebanyak 202 kasus. Satu hal yang patut disyukuri dari kasus coronavirus⁠— khususnya di Tiongkok⁠— ada 4.640 berhasil disembuhkan atau lebih dari 10 persen kasus.

Kalau bicara total dari 28 negara yang terkena masalah COVID-19 ada 4.849 orang yang berhasil sembuh pada Rabu (12/02). Angka ini diharapkan terus bertambah sampai akhirnya virus ini benar-benar berhasil dikendalikan.

Artikel Lainnya: Fakta Virus Corona dan Influenza, Bagaimana Pencegahan Terefektifnya?

2 dari 3 halaman

Vaksin Baru Tersedia dalam 18 Bulan ke Depan

Satu hal yang masih dipertanyakan oleh banyak orang adalah apakah vaksin COVID-19 sudah ditemukan? Jawabannya adalah sekitar 18 bulan lagi vaksin pertama akan tersedia.

Hal itu diungkapkan oleh Tedros pada saat pertemuan dengan 400 ilmuwan dan pakar kesehatan di Jenewa, Swiss. Vaksin juga dibutuhkan karena menurut pengamatan ilmuwan Hong Kong, Profesor Gabriel Leung menyebut virus ini bisa terjadi pada 2/3 populasi di dunia.

Prof. Gabriel Leung, yang merupakan ketua kedokteran kesehatan masyarakat di Universitas Hong Kong, mengatakan setiap orang yang terinfeksi akan menularkan virus ke sekitar 2,5 orang lainnya. Itu membuat tingkat serangan coronavirus menjadi sekitar 60-80%.

"60% dari populasi dunia adalah jumlah yang sangat besar," kata Leung yang dilansir dari The Guardian.

Bahkan, jika tingkat kematian umum hanya 1%, menurut Prof. Leung bahwa angka kematian itu tetap sangat besar. Kini, Leung dan teman-teman ilmuwan fokus pada penghentian virus ini sebagai epidemi besar di seluruh dunia.

Selain itu, para ilmuwan akan menunggu bagaimana cara Tiongkok untuk menghentikan penyebaran penyakit ini. Cara Tiongkok menyelesaikan masalah ini nantinya akan diadopsi oleh negara lain.

Ya, COVID-19 masih menjadi ancaman serius bagi dunia. Jumlah korban terus bertambah dari ke hari. Oleh karena itu, semoga vaksin cepat ditemukan dan bisa menghentikan masalah ini.

Sementara itu, sebaiknya Anda tetap menjaga kesehatan tubuh. Tidak lupa untuk selalu mengenakan masker ketika berpergian ke tempat keramaian. Sediakan hand sanitizer dan jangan lupa untuk lebih rajin mencuci tangan.

Anda masih penasaran soal COVID-19 atau virus corona? Jangan ragu untuk bertanya langsung kepada di dokter via fitur LiveChat aplikasi KlikDokter. Tetap sehat selalu!

(AYU/RPA)

0 Komentar

Belum ada komentar