Sukses

Cara agar Anak Tidak Tiru Adegan Kekerasan dari Kartun

Karena anak belum mengerti mana yang harus dilakukan dan tidak, lakukanlah cara berikut ini agar anak tidak meniru adegan kekerasan dari kartun.

Kartun bisa jadi tayangan pisau bermata dua. Di satu sisi, gambarnya yang lucu bisa menghibur. Namun, sisi lain adegan kekerasan yang ditampilkannya bisa pula dicontoh oleh si Kecil. Para orang tua mesti tahu cara-cara khusus agar anak tidak meniru adegan kekerasan dari kartun yang bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.

1 dari 3 halaman

Logika Anak Belum Memahami Adegan di Kartun

Ada pun kartun yang dianggap memiliki unsur kekerasan dan lebih cocok ditonton orang dewasa), seperti Spongebob Squarepants. Sedangkan menurut dr. Resthie Rachmanta Putri, M.Epid dari KlikDokter, kartun Tom & Jerry juga memicu munculnya perilaku kasar dari seorang anak.

Jika diperhatikan, kedua kartun tersebut memang kerap menampilkan adegan pemukulan, pelemparan, menabrak dengan kendaraan, perundungan, dan lain-lain meski tujuannya hanya untuk bercanda.

“Sayangnya, menyaksikan karakter tikus jahil terhadap kucing di film tersebut tanpa pendampingan dapat membangkitkan ide bahwa melukai orang lain adalah hal yang lucu,” jelas dr. Resthie.

Dalam kartun, orang yang kepalanya dipukul akan mengalami benjol. Lalu, tak lama kemudian kembali normal. Begitu pula sehabis menabrak seseorang. Korbannya hanya gepeng. Tidak lama setelah itu, kembali normal dan bisa kembali kejar-kejaran.

Jika hal tersebut ditonton oleh anak yang terlalu kecil, apalagi tanpa dampingan orang dewasa, maka bukan tak mungkin dia akan meniru kekerasan itu. Bahkan, bisa mempraktikkan kepada temannya. Dia berpikir, temannya akan baik-baik saja. Padahal, hantaman keras dapat menyakiti tubuh seseorang atau membuatnya kehilangan nyawa!

Artikel Lainnya: Orang Tua Wajib Tahu, Ini 5 Penyebab Anak Menjadi Nakal

2 dari 3 halaman

Mencegah Peniruan Adegan Kekerasan dari Kartun

Atas dasar permasalahan tersebut dan untuk mencegah anak meniru adegan kekerasan dari kartun, lakukanlah cara-cara berikut ini. Pastikan bukan Anda saja yang mengetahuinya. Anggota keluarga yang lain juga mesti memahami agar tidak ada informasi yang berbeda-beda dan membuat anak semakin bingung. Berikut penjelasannya.

  • Pilah-pilih Kartun Anak

Orang tua mesti memahami bahwa tidak semua tayangan animasi untuk anak-anak. Bahkan, film porno pun ada yang dibalut dengan animasi (hentai). Jadi, perluaslah pengetahuan dan perbendaharaan kartun Anda demi anak.

Pilihkan kartun yang edukatif serta tak mengandung unsur kekerasan ataupun seks terselubung (sering-sering baca review) .

  • Dampingi dan Jelaskan Situasinya

Langkah wajib lainnya yang mesti dilakukan adalah mendampingi si Kecil saat menonton tayangan. Mendampingi pun tak asal duduk diam di sebelahnya. Tak usah menunggu sampai si Kecil bertanya duluan, jelaskan adegan yang ditampilkan oleh kartun.

Misalnya, “Jangan ditiru, ya. Kalau itu dilakukan ke orang lain, orang itu bisa terluka. Kakak/adik juga tidak mau kalau sampai diperlakukan seperti itu?”

Jika dia menyangkal bahwa tidak ada darah yang keluar, terangkanlah bahwa tokoh yang berada di kartun itu tidak nyata. Sedangkan tokoh di kehidupan asli, pasti akan berdarah.

Bila perlu, terangkan secara sederhana bahwa ada konsekuensi lain bila dia nakal atau berperilaku jahat (hukuman dari orang tuanya maupun pak polisi).

Artikel Lainnya: Tips Membangun Rasa Bahagia si Kecil Sejak Dini

  • Tetap Batasi Waktu Menonton

Semakin banyak waktu yang disediakan untuk menonton, semakin tinggi pula risiko anak untuk meniru semua hal yang lihat dari kartun, tak terkecuali unsur kekerasannya.

Oleh karena itu, dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter mengatakan batasi batasan untuk menonton atau bermain gawai selama 1 jam sehari. Ini akan baik untuk kesehatan mentalnya.

  • Jangan Sering Menggoda Anak dengan Bercandaan yang Kasar

Ini yang terkadang dilupakan oleh orang tua. Meski kartun yang mengunsur kekerasan telah dieliminasi, ada anggota keluarga masih suka bertindak kasar atau bercanda dengan hal-hal yang sarkasme bahkan fisik. Ini buat anak tetap berpotensi melakukan kekerasan juga di kemudian hari.

  • Tonton Acara Kartun di Ruang Menonton Keluarga, Bukan Kamar

Ada waktunya Anda memberikan privasi bagi buah hati (remaja beranjak dewasa). Namun, saat masih anak-anak, biarkanlah living room menjadi tempat berkumpul dan menonton acara televisi atau video bersama. Selain menambah kedekatan, Anda juga bisa saling mengontrol.

  • Ajari Anak untuk Mempertahankan Diri Tanpa Menyerang

Ini membutuhkan proses. Anak memukul terkadang bukan untuk bercanda, tetapi untuk meluapkan kekesalannya atau mempertahankan diri. Jadi, sebelum melakukan perlawanan fisik dan verbal, anak yang masih kecil lebih baik melaporkannya dulu kepada orang tua.

Seiring bertambahnya usia, demi mempertahankan diri, anak bisa Anda masukkan ke kelas bela diri. Dengan begitu, dia menjadi tahu kapan sebaiknya ilmunya dipakai.

Itu dia cara yang bisa dilakukan agar anak tidak meniru adegan kekerasan dari kartun. Selain cara di atas, pastikan juga Anda mengenali teman-teman yang diajaknya bermain setiap hari. Sebab, perilaku kasar terkadang bisa datang dari teman-temannya.

[RPA/AYU]

0 Komentar

Belum ada komentar