Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Fakta di Balik Seasonal Affective Disorder yang Perlu Anda Tahu

Fakta di Balik Seasonal Affective Disorder yang Perlu Anda Tahu

Seasonal affective disorder merupakan suatu gangguan depresi yang muncul musiman setiap tahun. Simak fakta-fakta di balik penyakit ini.

Klikdokter.com, Jakarta Seasonal  affective disorder (SAD) atau disebut juga seasonal depression adalah suatu jenis depresi atau gangguan bipolar yang muncul di musim yang sama tiap tahunnya. Biasanya, gejala SAD mulai muncul di musim gugur atau musim dingin; dan mulai hilang di musim semi atau musim panas.

Namun, meski kerap dialami orang-orang di negara empat musim, tak menutup kemungkinan juga SAD dialami masyarakat yang hidup di iklim tropis. Dalam kasus yang jarang, gejala SAD bahkan juga dapat muncul di musim semi atau musim panas.

Beberapa faktor risiko yang diduga memicu munculnya SAD, antara lain:

  • Riwayat keluarga dengan SAD atau depresi
  • Memiliki depresi berat atau kelainan bipolar
  • Lokasi tempat tinggal jauh dari ekuator (garis khatulistiwa)
1 dari 2 halaman

Fakta terkait SAD

Agar lebih mengenal gangguan mental musiman ini, ketahui dulu fakta-fakta mengenai seasonal affective disorder berikut:

  1. Lebih sering terjadi pada perempuan

Menurut penelitian di Amerika, 4 dari 5 orang dengan SAD adalah perempuan. Rentang usia yang terbanyak adalah usia 20-30 tahun. Angka kejadian SAD adalah 0-10 persen populasi tergantung dari negara tempat tinggal.

Semakin jauh dari garis katulistiwa, angka kejadiannya akan semakin tinggi karena makin jarang terpapar sinar matahari.

  1. Disebabkan oleh kurangnya paparan cahaya

Kurangnya paparan matahari di musim dingin dan musim gugur dapat menurunkan kadar hormon serotonin di dalam tubuh. Serotonin merupakan hormon yang mengatur mood seseorang. Semakin rendah level serotonin, semakin mudah seseorang mengalami depresi

Hasil scan otak pada penderita SAD di musim dingin menunjukkan tingginya protein transporter serotonin yang berfungsi mengurangi kadar serotonin dalam tubuh. 

Selain serotonin, cahaya juga memengaruhi kadar hormon melatonin seseorang. Melatonin adalah hormon pengatur siklus tidur yang dihasilkan oleh kelenjar pineal dalam otak. Hormon pengatur tidur dan mood ini diproduksi saat gelap.

Itu sebabnya, saat musim dingin di mana cahaya matahari lebih sedikit, tingkat melatonin dapat meningkat. Hal ini berkaitan dengan munculnya gejala tidur berlebihan pada penderita SAD.

  1. Gejala dapat berupa depresi sampai gangguan seksual

Gejala SAD tersering adalah depresi, yaitu perasaan sedih yang mendalam, rasa bersalah, hilangnya percaya diri, rasa putus asa, hilangnya minat hidup, dan ide bunuh diri. Gejala lain berupa rasa cemas, rasa lelah yang berlebih, menarik diri dari lingkungan, nafsu makan meningkat dan kenaikan berat badan, tidur berlebih, serta sulit terjaga.

Di samping itu, penderita SAD juga dapat mengalami hilangnya hasrat seksual dan enggan melakukan kontak fisik dengan orang lain.

  1. Terapi sinar dapat membantu mengatasi SAD

Fototerapi (terapi sinar) atau bright light therapy terbukti efektif mengatasi SAD sebesar 85%. Terapi sinar ini akan menekan produksi hormon melatonin. Pasien akan berada di bawah sinar terang sebanyak 10 kali lipat lebih banyak dari orang biasa. Saat melakukan terapi ini, pasien tetap bisa beraktivitas seperti biasa, seperti makan dan membaca.

Alat yang digunakan berupa lampu fluoresen dengan layar plastik. Namun, bila fototerapi tidak membantu, pasien dapat diberikan obat-obatan antidepresi dan Cognitive Behaviour Therapy (CBT) oleh psikiater.

Itulah beberapa fakta terkait seasonal affective disorder. Meski kerap terjadi di musim gugur atau musim dingin, tak ada salahnya Anda mewaspadai depresi musiman ini. Apabila Anda atau orang di sekitar menunjukkan gejala SAD, segera pergi ke dokter, psikolog, atau psikiater. Penanganan yang tepat bisa mencegah depresi berkepanjangan hingga kejadian bunuh diri. 

[HNS/RPA]

2 Komentar

  • saya mau tanya perbedaan SAD dgn bipolar apa?atau SAD mrpk jenis dr bipolar?thanks

  • Irfan Alim

    halo dokter Seruni, punten mau beri masukan. penelitian kontemporer banyak menemukan perbedaan keadaan psikologis yg dialami msyrkt di high income countries dengan msyrkt di low middle incm countries. generability yg terdpt pd penelitian di negara tertentu blm tentu jg berlaku di negara lain krn berbagai faktor. jadi, kalau bisa lebih disesuaikan konteksnya dok dgn sosioekonomi indonesia. thanks ya dok sdh membaca