Sukses

Tidak Haid Selama Setahun, Ini Penyebabnya

Pada beberapa wanita, haid bisa tidak lancar, bahkan bisa tidak haid selama setahun. Apa penyebabnya dan apakah kondisi ini berbahaya?

Klikdokter.com, Jakarta Normalnya, siklus haid atau menstruasi berlangsung selama 21-35 hari, dengan durasi keluarnya darah haid selama 2-8 hari. Namun, beberapa wanita bisa mengalami siklus haid yang tidak lancar, bisa tidak haid berbulan-bulan, bahkan hingga setahun. Apa penyebabnya?

Setiap bulannya, indung telur melepaskan satu telurnya. Bersamaan dengan itu, dinding rahim ikut menebal guna mempersiapkan tempat untuk penempelan sel telur yang telah dibuahi sperma. Bila tidak ada pembuahan, lapisan rahim yang menebal tadi akan luruh melalui vagina dalam bentuk darah dan sel-sel yang rusak. Inilah yang dinamakan haid atau menstruasi.

Mengenal amenorea, penyebab absennya haid

Umumnya menstruasi berlangsung tiap bulan. Sayangnya, beberapa wanita bisa mengalami haid yang tidak teratur. Kondisi ini disebut sebagai amenorea, yaitu absennya haid.

Ada dua jenis amenorea, yaitu amenorea primer dan amenorea sekunder.

Amenorea primer terjadi ketika remaja berusia 16 tahun belum mengalami haid pertamanya. Kebanyakan wanita mengalami haid antara usia 9-18 tahun, dengan usia rata-rata 12 tahun.

Sementara itu, amenorea sekunder terjadi ketika seorang wanita berhenti menstruasi paling tidak selama 3 bulan.

1 dari 2 halaman

Penyebab bisa tidak haid selama setahun

Penyebab wanita tidak mengalami haid hingga setahun adalah amenorea sekunder. Tipe ini dialami oleh wanita yang sebelumnya sudah punya siklus haid, tapi haid tiba-tiba terhenti. Dibandingkan dengan amenorea primer, tipe sekunder lebih sering terjadi.

Penyebab amenorea beragam. Beberapa di antaranya normal, sebagian lainnya mungkin akibat efek samping obat-obatan atau tanda adanya kondisi medis.

Secara alami amenorea bisa terjadi karena beberapa hal seperti kehamilan, menyusui, dan menopause.

Penyebab lainnya antara lain:

  • Kontrasepsi

Beberapa wanita yang menggunakan kontrasepsi hormonal bisa mengalami perdarahan haid yang tidak teratur.

“Salah satu efek samping dari penggunaan KB hormonal adalah perdarahan yang tidak teratur. Mulai dari perdarahan bercak atau flek, hingga perdarahan yang berkepanjangan. Bahkan, tercatat bahwa 70 persen pengguna KB suntik tidak mengalami siklus menstruasi,” kata dr. Nadia Octavia dari KlikDokter.

Bahkan setelah menghentikan penggunaan, perlu beberapa waktu untuk bisa ovulasi dan siklus haid kembali normal.

  • Efek samping obat-obatan

Misalnya antipsikotik, kemoterapi, antidepresan, obat tekanan darah, dan obat alergi.

  • Faktor gaya hidup

Beberapa faktor yang berkontribusi pada absennya haid antara lain penurunan berat badan secara drastis.

“Jika indeks massa tubuh (IMT) di bawah normal (yaitu <18), Anda bisa mengalami gangguan haid. Gangguan pola makan seperti anoreksia dan bulimia juga bisa mengakibatkan Anda telat haid,” kata dr. Nadia lagi.

Selain itu, waspadai juga olahraga secara berlebihan atau ekstrem.

“Serupa dengan penurunan berat badan secara drastis, kehilangan cadangan lemak dalam jumlah besar secara tiba-tiba juga dapat membuat tubuh kekurangan ‘bahan baku’ untuk menghasilkan hormon estrogen dan progesteron yang mengatur haid. Akibatnya, terlambat haid atau bahkan tidak haid sama sekali bisa terjadi,” kata dr. Dyan Mega Inderawati juga dari KlikDokter ikut menjelaskan.

Selain itu, stres juga bisa menjadi dalangnya. Kondisi psikis dapat sangat memengaruhi kerja tubuh secara keseluruhan, termasuk siklus haid. Saat stres dan kelelahan, produksi estrogen, progesteron, dan berbagai hormon lain di dalam tubuh menjadi kacau. Salah satu akibatnya adalah terlambatnya haid. Demikian dikatakan oleh dr. Dyan.

  • Ketidakseimbangan hormon

Beberapa kondisi medis dapat menyebabkan ketidakseimbangan hormon, salah satunya adalah gangguan tiroid.

Kelenjar tiroid yang ada di leher bagian depan menghasilkan hormon yang membantu mengoordinasikan banyak fungsi tubuh, sekaligus memengaruhi pertumbuhan dan metabolisme.

Hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar tiroid juga berperan dalam perkembangan normal organ seperti jantung dan otak, serta untuk fungsi reproduksi normal. 

“Bisa dibilang tiroid berfungsi untuk ‘memastikan’ sistem tubuh bekerja seperti seharusnya. Jadi, bila ada gangguan pada kelenjar tiroid, bisa berdampak pada siklus haid,” dr. Nadia menerangkan.

Selain itu, bisa gangguan haid juga bisa diakibatkan oleh sindrom polikistik ovarium (PCOS).  PCOS adalah suatu kelainan hormonal dengan beberapa gejala khas yang ditandai oleh adanya sejumlah kista pada ovarium.

Dokter Dyan menjelaskan, “Pada wanita yang mengalami PCOS, proses pelepasan sel telur tidak berlangsung. Pasalnya, indung telur dipenuhi oleh folikel atau gelembung sel yang mencegah telur tersebut untuk matang dan terlepas. Selain telat haid, wanita dengan PCOS juga mengalami gangguan kesuburan.”

Selain gangguan tiroid dan PCOS, kondisi lainnya juga turut diwaspadai adalah tumor pituitari yang bisa memengaruhi regulasi hormonal haid dan menopause prematur yang terjadi sebelum usia 40 tahun.

  • Faktor struktural

Dilansir dari Mayo Clinic, adanya masalah pada organ seks itu sendiri juga bisa menyebabkan amenorea. Misalnya adanya jaringan parut di rahim seperti pada sindrom Asherman; kekurangan organ reproduksi misalnya masalah pada perkembangan janin yang menyebabkan bayi dilahirkan tanpa bagian utama dari sistem reproduksinya seperti rahim, serviks, atau vagina; serta kelainan struktural di vagina, misalnya adanya obstruksi.

Itulah beberapa penyebab seorang wanita bisa tidak mengalami haid selama setahun. Ingat, amenorea bisa menyebabkan ketidaksuburan. Oleh karena itu, bila Anda tidak haid selama 3 bulan berturut-turut atau sudah berusia 15 tahun tetapi belum juga mengalami haid, sebaiknya segera periksakan diri ke dokter. Makin cepat penyebabnya diketahui, maka penanganannya bisa makin efektif.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar