Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Anak Sering Bertengkar dengan Orang Tua? Ini Dampaknya pada Anak

Anak Sering Bertengkar dengan Orang Tua? Ini Dampaknya pada Anak

Kadang, sebuah konflik akan membuat anak bertengkar dengan orang tuanya. Apa dampak pertengkaran tersebut pada anak?

Klikdokter.com, Jakarta Idealnya, setiap anak ingin punya hubungan yang harmonis dengan orang tuanya, begitu juga sebaliknya. Namun, kadang adanya konflik membuat pertengkaran antara orang tua dan anak tak terhindarkan. Apa saja dampak pertengkaran tersebut pada anak?

Umumnya, pertengkaran antara orang tua dan anak mulai terjadi saat anak memasuki usia remaja. Pada usia tersebut, salah satu karakter khas anak adalah keinginannya untuk bebas. Jika ada pertentangan dari orang tua, konflik bisa terjadi.

Yang bisa terjadi pada anak jika sering bertengkar dengan orang tuanya

Menurut dr. Sepriani Timurtini Limbong dari KlikDokter, beberapa dampak yang bisa dialami anak akibat terlalu sering bertengkar dengan orang tuanya, antara lain:

  1. Anak cenderung menjadi antisosial di lingkungannya

“Hal pertama yang kemungkinan besar terjadi adalah anak menjadi antisosial. Akibat tidak memiliki hubungan yang kuat dengan orang tuanya, anak jadi sulit membangun relasi dengan orang lain. Kadang bukan tidak mau, tapi mungkin ia tidak paham caranya. Hubungan baik dengan orang tua saja tidak dimilikinya, bagaimana ia tahu cara membangun hubungan dengan orang lain?” ujar dr. Sepriani.

Ketika anak menjadi antisosial, maka kemungkinan mereka di-bully akan semakin tinggi. Sebab, anak yang cenderung pendiam dan penyendiri lebih mungkin menjadi “sasaran empuk” perilaku bullying atau perundungan.

  1. Anak bisa menjadi tukang bully

Tak hanya berisiko menjadi korban bully, anak yang sering bertengkar dengan orang tuanya juga bisa menjadi tukang bully. Bukan tanpa alasan, karena bisa jadi mereka meniru apa yang orang tuanya biasa lakukan padanya.

“Sebagai contoh, jika orang tua suka berteriak, memaki, bahkan memukul, maka tindakan-tindakan ini nantinya juga bisa ditiru anak kepada orang-orang di sekitarnya. Terlebih lagi jika sang anak memiliki teman-teman yang sama-sama punya sifat atau latar belakang serupa.”

  1. Anak jadi suka cari perhatian alias caper

Akibat tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tua, anak jadi cenderung suka mencari perhatian ke orang-orang di sekitarnya. Bukannya tidak baik, tapi memiliki sifat ini terkadang bisa membawanya ke jalan yang tidak benar.

  1. Anak bisa mengalami gejala depresi

Dalam kasus terberat, anak yang sering bertengkar dengan orang tuanya bisa mengalami stres berat hingga depresi.

“Akibat tidak mendapatkan perhatian dari orang tua, di-bully di sekolah, lalu punya prestasi yang buruk, semuanya bisa menuntun anak mengalami depresi. Orang tua yang seharusnya jadi tempat bercerita malah dihindari anak. Bukan tak mungkin, anak yang mengalami depresi akhirnya memutuskan untuk kabur dari rumah, bahkan bunuh diri,” dr. Sepriani menambahkan.

1 dari 2 halaman

Cara mengurangi pertengkaran dengan anak

Untuk mencegah kemungkinan-kemungkinan di atas, orang tua perlu tahu cara-cara yang perlu dilakukan untuk mengurangi, bahkan menghentikan pertengkaran dengan anak.

  • Dengarkan anak

Jika sedang adu mulut dengan anak, salah satu cara mendiamkannya adalah dengan mendengarkan apa yang ia katakan atau inginkan. Setelah anak selesai berbicara, barulah Anda menanggapinya.

Jangan memotong pembicaraan atau menanggapi anak dengan nada keras atau tinggi. Gunakan nada lembut penuh kesabaran. Meski menyimpan perasaan jengkel, tetaplah sabar dan mengerti perasaan anak.

  • Bangun diskusi dengan sehat

Jika sesi bertengkar sudah terlalu sering terjadi, maka hal ini perlu didiskusikan empat mata dengan anak. Bicarakan apa yang menjadi kendala anak dan diri Anda sendiri. Sama-sama mau mengerti dan mengalah merupakan kunci utama dalam membangun hubungan yang baik antara orang tua dan anak.

  • Liburan bersama

Selain menyenangkan, liburan bersama anak juga bisa mempererat hubungan yang renggang. Berikan beberapa pilihan destinasi, lalu biarkan anak yang memilih.

Komunikasi dan saling mengerti merupakan dua kunci utama untuk menciptakan keharmonisan hubungan antara anak dengan orang tua. Apabila Anda sering bertengkar dengan dengan anak, cobalah lakukan cara-cara di atas. Bukan hanya untuk mempererat atau memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak, tetapi juga agar anak tidak mengalami dampak buruk akibat terlalu sering berkonflik dengan orang tua.

[MS/RN]

0 Komentar

Belum ada komentar