Sukses

Vaksin Polio Tetes dan Suntik, Apa Bedanya?

Vaksin polio tersedia dalam dua bentuk: tetes dan suntik. Bagaimana peran kedua jenis vaksin tersebut dalam mencegah polio?

Klikdokter.com, Jakarta Polio merupakan salah satu penyakit yang terus diwaspadai oleh setiap orang. Pasalnya, penyakit ini dapat menyebabkan kelumpuhan permanen dan berpotensi mematikan. Karena itu, untuk mencegah terjadinya penyakit tersebut, setiap orang dianjurkan untuk mendapatkan vaksin polio. 

Polio atau poliomielitis adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengan nama yang sama. Virus polio dapat menyebar dari manusia ke manusia, dan paling sering terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan penyakit polio juga terjadi pada remaja dan orang dewasa.

Virus polio terbagi menjadi empat jenis, dan masuk ke tubuh tubuh melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi. Saat seseorang terinfeksi, gejala yang akan terjadi adalah demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kaku di leher, terasa sakit dan kelemahan pada anggota tubuh. 

Apabila seorang anak di bawah usia 15 tahun tiba-tiba menunjukkan tanda dari floppy atau kelemahan pada lengan atau kaki, konsultasikan dengan dokter adalah sebuah kewajiban yang harus segera dilakukan. 

Vaksin polio

Tidak ada obat untuk polio. Penyakit ini hanya dapat dicegah dengan melakukan vaksin. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) merekomendasikan agar anak-anak mendapatkan empat dosis vaksin polio. 

Mereka harus mendapatkan satu dosis pada usia 2 bulan, 4 bulan, usia 6 hingga 18 bulan dan usia 4 hingga 6 tahun. Hampir semua anak (99 dari 100) yang mendapat setiap dosis vaksin polio yang direkomendasikan akan terlindung dari polio.

Vaksin polio itu sendiri terbagi menjadi dua, yaitu vaksin polio oral (OPV) dan vaksin polio inaktif (IPV). Ini perbedaaanya:

  • Vaksin polio oral (OPV)

Vaksin polio oral (OPV) diberikan dalam bentuk tetesan dan ‘dikonsumsi’ secara langsung. Jenis vaksin polio yang satu ini tidak membutuhkan tenaga kesehatan terlatih dan dikategorikan sebagai langkah pencegahan utama terhadap penyakit polio. 

  • Vaksin polio inaktif (IPV)

Vaksin polio inaktif (IPV) diberikan melalui suntikan, sehingga memerlukan bantuan dari tenaga kesehatan yang terlatih. Vaksin polio inaktif (IPV) diberikan sebagai tambahan, khususnya di negara-negara yang masih mengandalkan vaksin polio oral (OPV). 

Kombinasi tersebut bertujuan untuk memperkuat sistem kekebalan tubuh anak dan memberikan perlindungan yang lebih efektif dari penyakit polio.

Apakah orang dewasa juga memerlukan vaksin polio? Sebagian besar orang dewasa tidak memerlukan vaksin tersebut, karena mereka sudah mendapatkannya saat masih anak-anak. 

Kendati begitu, ada beberapa kondisi yang bisa membuat orang dewasa mempertimbangkan untuk mendapat vaksion polio ulangan. Kondisi tersebut adalah:

  • Anda bepergian ke negara di mana risiko terkena polio sangat tinggi. Tanyakan pada penyedia layanan kesehatan untuk informasi spesifik perlu atau tidaknya vaksin polio ulangan.
  • Anda bekerja di laboratorium dan menangani spesimen yang mungkin mengandung virus polio.
  • Anda adalah petugas kesehatan yang sering merawat pasien dengan penyakit polio atau melakukan kontak dekat dan intens dengan seseorang yang telah terinfeksi virus polio.
  • Orang dewasa dalam kategori tersebut yang belum pernah divaksinasi polio harus mendapatkan 3 dosis IPV. Dosis pertama bisa kapan saja, dosis kedua pada 1 hingga 2 bulan kemudian, dan dosis ketiga pada 6 hingga 12 bulan setelah yang kedua.

Hingga saat ini masih belum ditemukan obat untuk polio. Penyakit ini hanya bisa dicegah dengan vaksinasi. Oleh sebab itu, lindungi anak Anda dengan mengikutsertakannya pada program vaksin polio sesuai dengan aturan dan anjuran yang diberikan. Tidak perlu cemas, karena manfaat yang didapat dari vaksin polio jauh lebih besar dibandingkan efek samping yang mungkin timbul.

(NB/ RH)

0 Komentar

Belum ada komentar