Sukses

Perlukah Anak Menggunakan Kacamata Anti Radiasi?

Untuk mencegah gangguan mata di era digital akibat paparan sinar biru, perlukah anak menggunakan kacamata anti radiasi?

Klikdokter.com, Jakarta Gawai dan anak, keduanya sekarang sulit dipisahkan. Padahal, layar gawai dapat memancarkan gelombang sinar biru yang dapat mengganggu penglihatan jika ditatap secara berlebihan. Nah, karena adanya bahaya tersebut, perlukah anak menggunakan kacamata anti radiasi?

Kacamata anti radiasi disebut-sebut dapat membantu mencegah dampak buruk akibat paparan sinar biru dari layar gawai terhadap fungsi penglihatan. Namun, apakah secara medis penggunaannya terbukti?

Bahaya sinar biru pada gawai

Anda dikelilingi oleh cahaya, baik yang tampak maupun tidak. Cahaya tersebut disebut sebagai gelombang elektromagnetik dan dapat menyebabkan radiasi. Contohnya adalah sinar ultraviolet (UV), inframerah, sinar X, cahaya lampu, dan lainnya.

Nah, yang keluar dari layar gawai adalah cahaya tampak dengan spektrum berwarna biru, sehingga sering disebut sebagai sinar biru.

Pada sinar biru, cahaya terlihat dengan panjang gelombang 380-500 nanometer (nm). Meski memiliki panjang gelombang yang lebih pendek, tetapi energi yang dimilikinya lebih besar. Sekitar satu pertiga dari cahaya yang terlihat tergolong cahaya berenergi tinggi (high-energy visible) atau dikenal juga dengan sinar biru.

Menurut penelitian yang tertuang dalam jurnal medis “International Journal of Opthalmology”, paparan sinar biru secara berlebihan dan berulang dapat memengaruhi kesehatan mata dan tubuh.

Faktanya, di dalam mata manusia terdapat otot untuk mengatur fungsi penglihatan. Apabila digunakan secara berlebihan atau tanpa istirahat, otot tersebut akan mengalami kelelahan. Hal inilah yang terjadi ketika Anda menatap layar gawai terlalu lama, yang pada akhirnya memicu computer vision syndrome.

Keluhan sindrom tersebut ditandai dengan mata pegal dan kering, penglihatan kabur, serta pusing. Gejala tersebut bisa semakin parah jika mata terus-terusan terpapar sinar biru secara berulang dan dalam waktu lama.

Paparan sinar biru pada lensa mata dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak.

Apabila retina yang mendapatkan paparan sinar biru secara berulang, yang akan terjadi adalah penurunan fungsi penglihatan secara bertahap.

Jika mata diterangi paparan sinar biru pada malam hari, produksi hormon melatonin (hormon pemicu kantuk) akan berkurang, sehingga Anda akan kesulitan untuk tidur.

Manfaat penggunaan kacamata anti radiasi

Kacamata anti radiasi tersedia dalam berbagai jenis, dan yang memiliki fungsi mematulkan sinar biru adalah salah satunya. Menurut penelitian, kacamata jenis ini memang dapat menurunkan paparan sinar biru sekitar 10-20 persen.

Meski demikian, studi dari British College of Opthalmic and Opticians mengungkap bahwa kacamata anti radiasi belum sepenuhnya terbukti melindungi kesehatan mata dari bahaya sinar biru. Pasalnya, penelitian tidak menemukan adanya perbedaan signifikan pada kesehatan mata antara orang yang menggunakan kacamata anti radiasi dan yang tidak menggunakannya.

Melindungi anak dari dampak buruk paparan sinar biru pada mata

Lantas, apa yang bisa dilakukan untuk melindungi anak dari dampak buruk paparan sinar biru pada mata? Salah satu caranya adalah membatasi screen time atau waktu depan layar dengan aturan sebagai berikut:

  • Anak usia 0-2 tahun tidak direkomendasikan untuk mendapat screen time sama sekali.
  • Usia 2-5 tahun maksimal 2 jam screen time per hari
  • Anak usia sekolah menyesuaikan kebutuhan sehari-hari. Terkait hal ini, orang tua bertugas melakukan pengawasan agar anak tidak berlebihan memelototi layar gawai.

Penggunaan kacamata anti radiasi belum sepenuhnya terbukti mampu melindungi kesehatan mata dan fungsi penglihatan anak dari dampak buruk sinar biru pada gawai. Daripada mengandalkan benda tersebut, lebih baik terapkan sistem pembatasan screen time sambil terus mengawasi penggunaan gawai pada anak. Bila anak mengalami keluhan terkait kesehatan mata, jangan ragu untuk membawanya ke dokter spesialis mata.

(NB/RN)

0 Komentar

Belum ada komentar