Sukses

Anak Sering Bengong, Perlukah Khawatir?

Semua orang tua inginnya anak tampak ceria, tetapi karakter anak bisa berbeda-beda. Jka si Kecil sering bengong, perlukah khawatir?

Klikdokter.com, Jakarta Pernah mendapati anak melamun saat beraktivitas? Atau gurunya mengadukan anak yang sering bengong saat pelajaran? Mari simak apa saja penyebab anak sering bengong, sehingga Anda tahu kapan harus khawatir dan bisa menentukan langkah selanjutnya.

Melamun bisa terjadi pada anak-anak yang normal akibat adanya pengalihan dalam pikiran mereka, dan ini tak perlu dikhawatirkan. Namun, sering bengong bisa juga menandakan kelainan atau penyakit.

Orang tua sering kali merasa risih melihat anaknya termenung dan langsung dikaitkan dengan tingkat kecerdasan yang lebih rendah. Padahal, belum tentu demikian. 

Anak sering bengong: bisa normal, bisa juga harus diwaspadai

Kapan bengong pada anak masih di anggap normal? Bengong bisa terjadi pada anak yang masih kecil (batita) atau anak yang berusia lebih besar (anak usia sekolah). 

Pada batita, bermenung sering terjadi dan ini masih merupakan hal yang wajar. 

Lamunan tersebut merupakan waktu peralihan antara satu stimulasi dengan stimulasi lainnya, atau antara satu suasana dengan suasana lainnya. Ini karena otak batita memerlukan waktu untuk memproses dua hal yang berbeda.

Pada usia sekolah, anak juga bisa melamun saat sedang berpikir, misalnya saat mengerjakan tugas atau sedang ujian. Memandang kosong ke arah tertentu merupakan cara bagi anak untuk mengumpulkan kembali memori dari pelajaran yang telah ia terima sebelumnya, sehingga dapat membantunya menjawab pertanyaan dengan benar. Pada kasus ini, jika terjadi sesekali masih terbilang wajar.

Penyebab anak sering bengong yang perlu diwaspadai

Nah, apabila Anda sering melihat si Kecil termenung serta didukung oleh laporan dari guru atau pengasuhnya, ada beberapa kemungkinan penyebab yang perlu diwaspadai.

  1. Anemia akibat kekurangan zat besi

Apabila anak sering bengong dan disertai dengan gejala pucat, waspadai anemia. 

Anemia pada anak paling sering terjadi akibat kekurangan zat besi. Padahal, selain untuk membentuk sel darah merah, zat besi juga sangat penting untuk perkembangan otak dan kecerdasan anak. 

Kekurangan atau defisiensi zat besi bisa menyebabkan IQ anak rendah, sehingga ia akan sering melamun dan lambat dalam berpikir.

Suplementasi zat besi dan diet tinggi zat besi yang sesuai dengan anjuran dokter merupakan kunci untuk mengatasi anemia akibat kekurangan zat besi.

  1. Kejang absans 

Sebagian besar jenis kejang termanifestasi dalam gerakan tegang dan kelojot (bersifat bergantian kaku dan lemas secara cepat). Namun, ada satu jenis kejang dengan manifestasi berupa bengong selama beberapa detik, kemudian kembali normal lagi. Hal ini disebut sebagai kejang tipe absans atau absence seizure.

Kejang absans biasanya bermula pada usia 4-14 tahun dan berakhir usia 18 tahun. Pada kejang tipe ini, bengong bisa terjadi kapan dan di mana saja, dengan frekuensi berulang-ulang dalam sehari. 

Konsultasi ke dokter spesialis anak, terutama kondisi saraf anak dengan pemeriksaan gelombang otak (EEG) adalah kunci penting untuk mengetahui apakah si Kecil mengalami kejang absans.

  1. Autisme

Gangguan perkembangan otak autisme juga sering memperlihatkan tanda anak sering termenung. Selain itu, autisme juga bisa memperlihatkan gejala lainnya seperti pengulangan gerak tubuh, kurangnya kontak mata, gangguan bicara, dan lebih senang bermain sendiri dengan sebuah objek dibandingkan dengan berinteraksi dengan orang lain.

Apabila mendapati semua tanda di atas, segera bawa anak ke dokter spesialis anak atau psikiater anak.

  1. Masalah psikologis

Anak dengan masalah mental seperti depresi atau gangguan penyesuaian juga bisa tampak sering bengong. Anak bisa mengalami masalah psikologis akibat berbagai hal, misalnya menderita penyakit kronis, perundungan (bullying), mengalami tindak kekerasan (child abuse), konflik dalam keluarga, dan lain-lain.

Selain sering termenung, anak dengan masalah mental juga akan menunjukkan perubahan perilaku. Misalnya jadi lebih pendiam, sering menangis, nafsu makan berkurang, malas beraktivitas, mengurung diri di kamar, dan lainnya. Kondisi ini tak boleh dibiarkan, harus segera diperiksakan ke dokter spesialis anak atau psikiater anak.

Selain bengong, anak dengan masalah mental akan menunjukkan perubahan perilaku dari biasanya, seperti menjadi lebih pendiam, sering menangis, nafsu makan berkurang, malas beraktivitas, mengurung diri di kamar, dan lain-lain. Jika anak mengalaminya, bawa ia menemui dokter spesialis anak atau psikiatri anak.

Demikianlah beberapa kemungkinan penyebab anak sering bengong. Bengong bisa menjadi sesuatu yang normal akibat adanya pengalihan dalam pikiran, sehingga tak perlu dikhawatirkan. Namun jika frekuensi kejadiannya sering serta disertai tanda atau gejala lain yang tidak biasanya, sebaiknya periksakan ia ke dokter spesialis anak, ya, Bu.

(RN)

0 Komentar

Belum ada komentar