Sukses

Kenali Gejala ISPA Akibat Kabut Asap Kebakaran Hutan

Kabut asap akibat kebakaran hutan melanda provinsi Riau dan sekitarnya. Ini meningkatkan risiko ISPA atau infeksi saluran pernapasan akut.

Klikdokter.com, Jakarta Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutam semakin menjadi-jadi. Dilansir dari Liputan6.com, Pemkot Pontianak melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota setempat meliburkan aktivitas belajar mengajar di tingkat PAUD hingga SMP. Salah satu tujuan dari dilakukannya tindakan tersebut adalah untuk mencegah anak-anak terkena infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA.

Fakta menyebutkan bahwa ISPA adalah satu dari sekian penyebab utama kunjungan pasien di sarana kesehatan. Penyakit tersebut memang paling sering menyerang anak-anak beserta lansia karena sistem daya tahan tubuh yang lemah.

ISPA biasanya dimulai pada sinus dan berakhir di pita suara, atau hanya pada sistem pernapasan bawah dan berakhir di paru-paru. 

Menurut dr. Astrid Wulan Kusumoastuti dari KlikDokter, ISPA terbagi dalam dua golongan, yaitu pneumonia (radang paru) dan bukan pneumonia (biasanya berupa batuk pilek).

“Penyebab ISPA, misalnya virus influenza, Rotavirus, bakteri Streptococcus pneumoniae, hingga bakteri Staphylococcus aureus,” jelas dr. Astrid. 

Di Indonesia, ISPA termasuk kondisi yang cukup berbahaya. Pasalnya, pneumonia merupakan penyebab kematian nomor tiga setelah penyakit pembuluh darah (kardiovaskular) dan tuberkulosis (TB). Sayangnya, meski menjadi kondisi yang cukup mengkhawatirkan, gejala ISPA masih sering tumpang tindih dengan keluhan akibat penyakit lainnya.

Supaya Anda tidak bingung membedakan gejala ISPA, berikut beberapa keluhan yang bisa terjadi akibat kondisi tersebut:

  • Common cold: bersin, hidung tersumbat, produksi ingus banyak 
  • Faringitis: batuk, nyeri dan gatal di tenggorokan
  • Laringitis: suara serak
  • Bronkitis: batuk, nyeri dada, batuk berdarah 
  • Pneumonia: batuk, sesak napas dan demam.

Secara keseluruhan, penderita ISPA dapat memiliki manifestasi klinis seperti:

  • Demam
  • Batuk
  • Pilek
  • Sesak napas
  • Berat badan menurun
  • Nyeri otot atau myalgia.

Tips meredakan gejala ISPA

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredakan gejala ISPA, di antaranya:

  • Posisikan kepala lebih tinggi saat tidur, dengan menggunakan bantal tambahan untuk melancarkan pernapasan.
  • Hirup uap dari air panas yang mendidih. Agar lebih lega, Anda bisa mencampurkan air panas tersebut dengan minyak kayu putih.
  • Minum air lemon atau jahe hangat yang dicampur dengan madu. Ini bisa meredakan gejala batuk-batuk.
  • Supaya gejala tidak sering kambuh, jangan lupa untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Cara yang bisa dilakukan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, antara lain:
  • Istirahat dengan cukup. Dalam sehari, biasakan tidur selama 7–8 jam setiap malam. Tidur adalah waktu bagi tubuh untuk memperbarui sel-sel dan membangun kembali tenaga yang telah terkuras.
  • Konsumsi cairan dalam jumlah cukup. Pada kasus kabut asap akibat kebakaran hutan, mengonsumsi air putih hangat adalah langkah yang baik.
  • Mengonsumsi suplemen. Konsumsi suplemen vitamin C sesuai dengan resep dokter bisa dilakukan. Hal yang harus diperhatikan, Anda tetap mesti mengutamakan vitamin C yang bersumber dari buah maupun sayuran.

Kapan harus ke dokter?

Anak maupun orang dewasa yang tinggal di daerah terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan perlu segera berobat ke dokter jika mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

  • Demam tidak kunjung turun
  • Menggigil
  • Batuk semakin keras
  • Susah bernapas
  • Menjadi lebih diam dan malas beraktivitas
  • Muncul suara seperti “ngik” saat bernapas
  • Muntah-muntah
  • Kehilangan kesadaran.

Infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA adalah penyakit yang umum terjadi di daerah terdampak kabut asap akibat kebakaran hutan. Jangan abai, apalagi menganggap remeh hal ini. Lakukan tindakan pencegahan dengan meningkatkan daya tahan tubuh dan menggunakan masker saat beraktivitas. Segera berobat ke dokter jika mengalami gejala ISPA yang benar-benar mengganggu. ISPA yang dibiarkan terjadi berkelanjutan bisa menimbulkan komplikasi berupa gagal napas.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar