Sukses

Lebih Akurat Mana, Skrining Kanker Serviks Pap Smear atau IVA?

Mendeteksi kanker serviks dengan skrining cukup efektif. Tapi mana yang lebih akurat, skrining kanker serviks dengan Pap Smear atau IVA?

Klikdokter.com, Jakarta Hingga saat ini, kanker serviks masih menempati peringkat nomor dua penyakit kanker tertinggi pada wanita di Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan pendeteksian dengan skrining kanker serviks untuk mencegah penyakit ini sejak dini.

Lebih dari 30 persen penderita kanker serviks tak mampu bertahan hidup lebih dari 5 tahun setelah terdiagnosis. Padahal sebenarnya kanker serviks merupakan salah satu jenis kanker yang dapat dicegah dan dideteksi dini, sehingga kematian akibat penyakit tersebut bisa dihindari.

Selain tindakan pencegahan melalui vaksinasi, penting juga untuk mendeteksi dini lewat skrining kanker serviks, terutama yang telah berusia 21 tahun ke atas atau yang sudah pernah berhubungan seksual. Metode skrining yang bisa dipilih adalah dengan pap smear atau IVA (inspeksi visual asetat) 

Perbedaan pap smear dan IVA

Meski sama-sama bertujuan untuk mendeteksi dini adanya kanker serviks, prosedur pap smear dan IVA cukup berbeda. IVA merupakan prosedur yang lebih sederhana, tidak memerlukan fasilitas yang kompleks, dan hasilnya dapat diketahui dengan segera.

Pemeriksaan IVA dilakukan dengan cara mengoleskan cairan asam cuka ke dalam mulut rahim dan melihat reaksi yang terjadi. Jika mulut rahim berubah warna menjadi putih, IVA dianggap positif. Pemeriksaan yang positif umumnya menandakan adanya kemungkinan sel kanker yang perlu dipastikan dengan pemeriksaan lanjutan oleh dokter spesialis kandungan.

Sementara itu, pap smear umumnya dilakukan di rumah sakit karena memerlukan fasilitas pemeriksaan mikroskopik. Pada pemeriksaan pap smear, dokter akan mengambil sampel sel dari mulut rahim dengan menggunakan  bantuan spatula dan sikat kecil yang digesekkan pada mulut rahim.

Kemudian sampel sel pada sikat tersebut akan dikirimkan ke laboratorium untuk diperiksa di bawah mikroskop. Biasanya hasil pap smear akan diketahui beberapa hari setelah pemeriksaan.

Mana yang lebih baik?

Studi menunjukkan bahwa IVA dan pap smear memiliki akurasi yang hampir sama baiknya. Selain itu, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Karena IVA membutuhkan peralatan yang lebih sederhana, maka IVA bisa dilakukan di mana saja, bahkan di daerah pelosok yang minim tenaga medis dan peralatan.

Namun demikian, karena IVA tidak melihat sel kanker secara langsung dengan mikroskop, pemeriksaan IVA tidak bisa mengungkapkan seberapa jauh dan beratnya sel kanker atau sel pra-kanker yang ada di serviks. 

Sebaliknya, pap smear bisa melihat adanya sel kanker dan pra-kanker dengan lebih detail. Selain itu, melalui pap smear juga dapat diketahui ada tidaknya peradangan serviks. Namun, pap smear hanya bisa dilakukan jika tenaga ahli dan fasilitasnya mendukung.

Jadi pada prinsipnya, kaum hawa dapat memilih dan memutuskan metode skrining kanker serviks yang ingin dilakukan. Yang paling penting adalah melakukan pemeriksaan skrining tersebut dengan rutin.

Berdasarkan rekomendasi the American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), pemeriksaan skrining kanker serviks sebaiknya dilakukan setiap 3 tahun sekali jika wanita berusia 21-29 tahun.

Jika berusia 30-65 tahun, pemeriksaan skrining dengan pap smear dilakukan tiap 5 tahun sekali ditambah dengan pemeriksaan virus human papilloma (HPV).

Namun demikian, wanita dengan risiko tinggi kanker serviks seperti penderita HIV, pengguna obat steroid jangka panjang, atau mengalami gangguan kekebalan tubuh, perlu menjalani pemeriksaan skrining kanker serviks dengan lebih sering, baik dengan pap smear maupun IVA. Konsultasikan kepada dokter Anda mengenai jadwal rutin  skrining kanker serviks yang harus Anda jalani, agar kemungkinan munculnya kanker serviks bisa dicegah.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar