Sukses

Amankah Menunda Haid dengan Rekayasa Hormon Saat Ibadah Haji?

Supaya ibadah haji berjalan lancar, menunda haid dengan rekayasa hormon terkadang dilakukan. Apakah cara tersebut aman bagi kesehatan?

Klikdokter.com, Jakarta Bagi jemaah calon haji wanita datangnya tamu bulanan alias haid terkadang terasa mengganggu karena bisa menggagalkan ibadah yang dijalankan. Oleh sebab itu, sebagian wanita kemudian menunda haid dengan rekayasa hormon sebelum berangkat ke Tanah Suci.

Namun, demi menunda haid, apakah melakukan rekayasa hormon semacam itu aman bagi kesehatan? Atau justru bisa membahayaan dan mengancam kesehatan wanita yang melakukannya?

Obat hormon untuk hengganggu siklus haid

Menurut dr. Devia Irine Putri dari KlikDokter, rekayasa hormon yang kerap dilakukan wanita untuk menunda haid atau menstruasi adalah dengan mengonsumsi pil kontrasepsi atau pil hormon. Obat hormonal tersebut memang dapat mengganggu siklus alamiah tubuh, sehingga wanita yang mengonsumsinya akan mengalami telat datang bulan.

“Sebagian orang memang melakukannya agar periode haid bisa mundur dan tetap bisa melakukan ibadah. Itu aman-aman saja asalkan dikonsultasikan dulu kepada dokter,” jelas dr. Devia.

Hal itu pun diamini dr. Atika dari KlikDokter. Menurutnya, jika sebelumnya tidak ada riwayat penyakit berat atau alergi obat, maka obat kontrasepsi pada umumnya aman untuk dikonsumsi dalam jangka pendek.

“Ada 2 macam pil kontrasepsi yang bisa dikonsumsi untuk menunda haid. Keduanya terdiri atas pil yang berisi 2 hormon kombinasi (estrogen dan progesteron), serta pil yang hanya berisi progesteron,” dr. Atika menjelaskan.

“Bagi yang ingin menunda haid saat ibadah haji, Anda disarankan hanya mengonsumsi sebanyak 21 butir pil kombinasi. Namun, jumlah tersebut bergantung dari kondisi fisik masing-masing wanita. Karena itu, berkonsultasi kepada dokter sangat diperlukan,” kata dr. Atika.

Efek akibat penggunaan pil hormon

Sepulangnya dari ibadah haji, efek penundaan haid dengan pil hormon tidak langsung menghilang. Dikatakan oleh dr. Devia, biasanya butuh 3 sampai 6 bulan bagi Anda untuk mengembalikan siklus haid ke fase yang normal.

Namun, tentu itu tergantung dari tubuh masing-masing wanita. Hal Yang jelas, mengembalikan siklus haid alamiah membutuhkan waktu sehingga perlu kesabaran.

“Jika sehabis pulang dari ibadah haji Anda stres menunggu haid yang tak kunjung terjadi, hal itu justru membuat proses pengembalian siklus alamiah tubuh semakin terhambat,” tutur dr. Devia.

Di sisi lain, dr. Alberta Jesslyn Gunardi, BMedSc Hons dari KlikDokter mengatakan bahwa ada juga obat bernama Primolut N yang mengandung norethisterone BP dan berfungsi untuk menunda haid. Obat tersebut biasanya digunakan untuk olahraga, traveling maupun rencana operasi.

Pada beberapa indikasi, obat Primolut N juga dapat digunakan saat terjadi perdarahan rahim disfungsional, amenorea primer atau sekunder, premenstrual syndrome (PMS), serta endometriosis. 

Sayangnya, obat tersebut memiliki sejumlah kontradiksi. Orang-orang dengan kondisi medis tertentu tidak boleh mengonsumsinya, termasuk calon jemaah haji wanita yang memiliki riwayat penyakit pembuluh darah, kencing manis atau diabetes mellitus, gangguan organ hati derajat berat, serta tumor.

“Pada sebagian orang, obat ini menyebabkan munculnya efek samping berupa sakit kepala, mual, dan bengkak di beberapa bagian tubuh,” pungkas dr. Jesslyn.

Mengingat adanya kemungkinan efek samping, tidak disarankan bagi wanita untuk menunda haid dengan rekasaya hormon, jika bukan karena ibadah haji atau tujuan mendesak lainnya. Pasalnya, jika siklus alamiah terus-menerus diganggu, pasti suatu saat akan memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Sebelum Anda memutuskan untuk menjalani hal tersebut, konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan solusi yang tepat dan aman.

(NB/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar