Sukses

Mirip TB Paru, Ini Bedanya Penyakit Paru Interstisial

Batuk lama sering dikaitkan dengan penyakit TB paru. Tetapi, penyakit paru interstisial sering disalahartikan sebagai TB paru.

Klikdokter.com, Jakarta Batuk merupakan refleks normal dari tubuh untuk mengeluarkan benda asing. Namun, batuk yang mirip TB paru juga harus diwaspadai, misalnya jika berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama dan disertai beberapa keluhan seperti demam, adanya dahak kental, sesak napas hingga turun berat badan. Keluhan ini terkadang disalahartikan sebagai penyakit paru interstisial.

Berbeda dengn TB paru yang bersifat menular, penyakit paru interstisial sama sekali bukan kelompok penyakit menular.

Penyebab penyakit paru

Penyakit paru intestisial atau Interstitial Lung Disease (ILD) merupakan kelompok penyakit paru yang ditandai dengan bermacam-macam kelainan seperti peradangan maupun pembentukan fibrosis (jaringan parut) di dalam organ paru yang berlangsung dalam jangka waktu lama.

Adanya pembentukan fibrosis ini membuat jaringan di organ paru mengalami kerusakan permanen dan menyebabkan fungsi paru-paru menurun. Secara umum, ada 5 penyebab penyakit paru ini yaitu :

  • Berhubungan dengan penyakit vaskular kolagen (penyakit autoimun seperti lupus, rheumatoid artritis)
  • Akibat pengaruh obat atau radiasi (obat kemoterapi, antibiotik, antiaritmia)
  • Akibat pengaruh pekerjaan atau lingkungan ( debu silika, asebes)
  • Penyakit fibrosis idiopatik (penyakit Celiac, sirosis bilier, penyakit Whipple’s)
  • Primary or unclassified disease related (sarkoidosis, amyloidosis, AIDS, diabetes mellitus)

Tak hanya berbagai hal di atas, beberapa faktor risiko yang bisa meningkatkan terjadinya ILD antara lain:

  1. Faktor usia, yang mana penyakit ini banyak menyerang orang dewasa dibandingkan anak-anak (puncak usia 65-79 tahun)
  2. Sering terpaparnya seseorang dengan bahan berbahaya di lingkungan pekerjaan seperti asben, debu silika, dan asap rokok.
  3. Ada riwayat keluarga yang memiliki penyakit paru ILD, serta adanya penggunaan obat-obatan tertentu dalam jangka waktu lama.
1 dari 2 halaman

Gejala penyakit paru interstisial dan cara mengatasinya

Gejala penyakit ILD ini hampir mirip dengan penyakit paru lainnya, seperti sering mengalami batuk yang umumnya bersifat kering dan berlangsung lama, serta adanya sesak napas yang terjadi setiap waktu (saat istirahat dan beraktivitas).

Karena bersifat progresif, penyakit ini juga sering menyebabkan jari-jari tangan berbetuk bulat-bulat (clubbing finger/ jari tabuh). Selain itu, adanya keluhan batuk dalam jangka waktu lama juga seringkali disalahartikan dengan keluhan TB paru.

Padahal, TB paru cenderung bersifat akut dan disertai dengan keluhan demam, keringat malam, hingga penurunan berat badan dalam beberapa bulan terakhir.

Untuk mengatasi penyakit ini diperlukan serangkaian pemeriksaan seperti tes darah untuk melihat adakah penyakit autoimun yang mendasari atau adanya peradangan di dalam tubuh.

Selain itu, dilakukan pula tes pencitraan berupa CT scan dan jika perlu pemeriksaan ekokardiogram untuk melihat fungsi jantung apakah ikut terlibat dalam kelainan ini.

Namun, sebaiknya pemeriksaan ILD bersifat invasif, yaitu dengan pemeriksaan biopsi di mana dokter akan mengambil sampel jaringan paru untuk dilihat di bawah mikroskop apakah kondisinya sehat atau ada kelainan.  

Pemeriksaan fisik dan penunjang menjadi penting untuk kelainan paru ini mengingat komplikasi dari ILD dapat menyebabkan kematian, seperti kegagalan napas yang mendadak, gagal jantung kanan, serta adanya hipertensi pulmonal.

Meskipun tidak bisa diobati sampai sembuh, setidaknya yang bisa dilakukan adalah memperlambat progresivitas penyakit dengan menggunakan obat-obatan, terapi rehabilitasi paru, dan penggunaan oksigen.

Transplantasi paru masih menjadi pertimbangan terakhir bagi penderita ILD apabila terapi yang dilakukan tidak membuahkan hasil.

Penyakit paru interstisial memang mirip dengan penyakit paru lainnya, terutama TB paru. Tapi perlu diketahui bahwa kelainan paru ini banyak sekali menyerang orang yang sering terpapar bahan berbahaya di lingkungan pekerjaannya. Jadi, apabila Anda bekerja di lapangan, tidak ada salahnya untuk menggunakan alat pelindung diri dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

[NP/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar