Sukses

Tangkal Efek Samping Kemoterapi dengan Cara Alami

Efek samping kemoterapi kerap menghampiri pasien kanker pasca terapi. Tapi, beberapa cara alami ini mampu meminimalkan efek samping itu.

Klikdokter.com, Jakarta Efek samping kemoterapi tidak bisa dihindari karena kanker dan kemoterapi seperti dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Pengobatan kanker tersebut menargetkan sel-sel yang tumbuh dan membelah dengan kecepatan yang tidak normal. Meski dapat menghambat pertumbuhan sel kanker, pasien juga harus bersiap menghadapi efek samping kemoterapi.

Setidaknya itulah yang dialami ibu Ani Yudhoyono yang sedang menjalani pengobatan atas penyakit kanker darah yang dideritanya. Istri Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut mengalami penggelapan warna kulit (hiperpigmentasi), khususnya pada bagian wajah, akibat kemoterapi.

Namun begitu, menurut dr. Atika dari KlikDokter, efek samping kemoterapi bisa berbeda antara pasien yang satu dengan yang lain, tergantung dari ketahanan tubuh masing-masing.

“Efek samping kemoterapi sebagai pengobatan kanker yang paling sering terjadi adalah mual-muntah, mielosupresi (menekan produksi darah), kelelahan, rambut rontok dan sariawan.”

Efek samping terjadi karena obat kemoterapi tidak hanya membunuh sel kanker, tapi juga sel normal yang ikut membelah cepat. Menurut dr. Atika, efek samping ini bersifat sementara, dan dapat kembali normal setelah kemoterapi selesai.

Kabar baiknya, dilansir dari Verywell Health, ada cara untuk meringankan efek samping kemoterapi, khususnya mual, mulut luka, serta  sakit saraf. Cara yang dimaksud adalah:

1. Mengatasi mual dengan jahe

Jahe sering digunakan untuk meringankan mual pada orang yang menjalani kemoterapi. Dalam penelitian yang dipublikasikan Nutrition Review pada 2013, dikatakan bahwa ekstrak jahe memberikan efek beragam pada pasien kanker. Ada yang mendapatkan dampak positifnya (mual langsung berkurang), tapi ada pula yang tidak mengalami dampak apa pun.

Hal itu juga berlaku buat minyak atsiri jahe. Pada sebagian orang, menghirup aroma minyak atsiri jahe dapat mengurangi mual akibat kemoterapi. Namun, sebagian lagi tidak mengalami hal itu, khususnya pada anak-anak.

Tak ada salahnya bila Anda ingin mencoba mengatasi mual akibat kemoterapi (akan lebih baik bila konsultasi dulu pada dokter). Sebab, siapa tahu Anda termasuk orang yang cocok, kan?

2. Mengatasi mual dengan acupressure

Mual setelah kemo kerap dirasakan penderita kanker. Nah, dengan mendapatkan acupressure, terapi titik tekan yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok, keparahan mual dapat dikurangi. Apabila mual bisa dikurangi, otomatis frekuensi muntah juga ikut berkurang sehingga penurunan berat badan tidak terjadi secara signifikan.

1 dari 2 halaman

Selanjutnya

3. Mengatasi mulut yang luka dengan madu

Mengolesi madu pada mulut yang luka akibat efek samping kemoterapi dapat mempercepat proses penyembuhan dan mencegah timbulnya luka baru. Namun, bila Anda mengonsumsi madu terlalu sering, pastikan Anda menggunakan obat kumur fluoride setelahnya. Itu karena madu dapat menimbulkan gigi berlubang.

Ada satu hal yang perlu diingat, penderita kanker tidak perlu mengonsumsi madu manuka. Sebab, jenis madu tersebut justru dapat menyebabkan mual dan muntah pada sebagian orang. Jadi, sebaiknya gunakan madu biasa aja.

4. Mengatasi mulut yang luka dengan olesan vitamin E

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan Journal of Clinical and Diagnostic Research 2017, para ilmuwan mengamati penggunaan vitamin E topikal untuk pencegahan atau pengobatan mulut yang luka akibat kemoterapi kanker mulut.

Hasilnya, mereka menemukan bahwa olesan vitamin E memang dapat mengatasi hal tersebut. Sayangnya, meski vitamin E dapat mengobati luka di mulut, vitamin tersebut tidak mampu mencegah luka baru.

5. Mengatasi sakit saraf neuropati perifer dengan akupunktur

Dikutip dari Verywell Health, tidak ada cara pasti untuk mencegah neuropati perifer dari kemoterapi. Namun, menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam European Journal of Cancer pada 2018, akupunktur dapat mencegah masalah saraf tersebut pada pasien kanker payudara stadium 1 hingga 3 yang menjalani kemoterapi.

Bila Anda tertarik mencoba untuk meminimalkan sakit saraf, konsultasikan dulu kepada dokter agar terapi akupunktur dan kemoterapi tidak saling bersinggungan.

6. Mengatasi masalah kulit dengan pelembap

Bila efek samping yang Anda alami dari kemoterapi adalah perubahan kulit, cobalah untuk selalu gunakan pelembap. Menurut dr. Dyah Novita Anggraini dari KlikDokter, Anda dapat menggunakan pelembap kulit yang menggunakan vitamin E, shea butter, seramid, urea 10 persen, atau petroleum jelly setelah mandi dan sebelum tidur.

“Pelembap kulit berfungsi untuk mengikat air di dalam kulit sehingga kelembapan tetap terjaga,” kata dokter yang akrab dipanggil dr. Vita ini.

Efek samping kemoterapi yang biasa dialami oleh penderita kanker bisa ditekan dengan melakukan beberapa cara alami di atas. Agar cara tersebut tidak mengganggu pengobatan kanker, sebaiknya selalu konsultasikan dulu kepada dokter. Dengan begitu, cara tersebut tidak akan menjadi bumerang yang justru menghambat pemulihan Anda.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar