Sukses

Flu Babi Afrika, Penyakit Apa Ini?

Belum usai cacar monyet, kini muncul flu babi Afrika. Penyakit ini tengah menggemparkan sebagian Asia. Sebenarnya, penyakit apa itu?

Klikdokter.com, Jakarta Wabah flu babi Afrika tiba-tiba muncul mencuri perhatian. Setelah penyakit cacar monyet terdeteksi di Singapura dan dikhawatirkan masuk ke Indonesia melalui Batam, sebagian wilayah Asia kini dihebohkan dengan munculnya flu babi Afrika.

Selama bertahun-tahun, penyakit flu babi Afrika ditemukan terutama di Afrika. Munculnya wabah tersebut di Eropa pada 1950-an, membutuhkan waktu lama untuk memberantasnya.

Melansir dari Straits Times mengenai munculnya penyakit di wilayah Asia, Vietnam telah memusnahkan lebih dari 1,2 juta babi di peternakan yang terinfeksi flu babi Afrika pada Senin (13/5) kemarin. Tindakan tersebut dilakukan ketika virus itu terus menyebar dengan cepat di wilayah tersebut.

Virus ini pertama kali terdeteksi di Vietnam pada Februari lalu. Hingga kini telah menyebar ke 29 provinsi, termasuk Dong Nai, provinsi yang memasok sekitar 40% daging babi yang dikonsumsi di kota Ho Chi Minh, pusat ekonomi selatan Vietnam.

"Risiko penyebaran virus lebih lanjut sangat tinggi dan evolusi wabahnya rumit," kata pemerintah Vietnam dalam sebuah pernyataan.

Menurut dr. Alvin Nursalim SpPD dari KlikDokter penyakit flu babi Afrika memang belum ditemukan penularannya dari manusia ke manusia. Akan tetapi, kalau Anda terkena dan tidak ditangani dengan serius itu bisa sangat berbahaya, karena pada beberapa orang bisa mengakibatkan kematian.

“Biasanya, penyakit ini juga bisa menyebabkan infeksi paru yang berat," kata dr. Alvin.

Penyakit apa sebenarnya?

Penyakit flu babi Afrika sangat menular. Gejala yang paling umum dari penyakit ini dalam bentuk akut adalah demam tinggi dan kehilangan nafsu makan. Gejala lainnya termasuk muntah, diare, dan kesulitan bernafas dan berdiri. Beberapa ahli menyebut bahwa penyakit ini memiliki tingkat kematian 100% dalam keadaan tertentu dan ini tidak sama dengan flu babi.

Flu babi Afrika dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Babi hutan telah diidentifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebaran baru-baru ini. Itu juga dapat menyebar melalui serangga seperti kutu.

Namun, virus juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan dan beberapa tahun dalam bangkai beku, sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan penyakit ini.

Diyakini bahwa penyakit ini awalnya masuk dari Afrika timur ke Georgia lewat perantaraan produk babi yang terkontaminasi. Virus itu sekarang telah berkembang ke Tiongkok, dimana terdapat setengah populasi babi dunia, dan tampaknya berkembang biak dengan cepat. Menurut satu laporan ada 41 wabah sejak pemberitahuan pertama pada awal Agustus tahun lalu.

Pekan lalu, sebungkus sosis yang disita di bandara Jepang dari seorang pelancong yang datang dari Tiongkok ditemukan mengandung virus ini. Penemuan serupa juga dideteksi di Korea Selatan.

1 dari 2 halaman

Pencegahan flu babi Afrika

Saat ini belum ada vaksin untuk flu babi Afrika. Akan tetapi, pencegahan di negara-negara yang bebas dari penyakit tergantung pada penerapan kebijakan impor yang tepat dan langkah-langkah biosekuriti, memastikan bahwa babi hidup yang terinfeksi maupun produk babi tidak dimasukkan ke dalam area bebas penyakit itu.

Ini termasuk memastikan pembuangan limbah makanan yang benar dari pesawat terbang, kapal, atau kendaraan yang berasal dari negara-negara yang terkena dampak. Selain itu juga melakukan pengawasan impor ilegal babi hidup dan produk babi dari negara-negara yang terkena dampak.

Langkah-langkah sanitasi konvensional dapat digunakan termasuk deteksi dini dan pembunuhan secara manusiawi terhadap hewan (dengan pembuangan karkas dan limbah yang layak), pembersihan dan desinfeksi menyeluruh. Di samping itu juga dilakukan pengawasan dan investigasi epidemiologis terperinci, dan langkah-langkah biosekuriti yang ketat di pertanian.

Seperti yang diamati di Eropa dan di beberapa wilayah Asia, penyebaran flu babi Afrika tampaknya sangat tergantung pada kepadatan populasi babi hutan dan interaksinya dengan sistem produksi babi dengan biosekuriti rendah. Pengetahuan dan manajemen populasi babi hutan yang baik dan koordinasi yang baik antara Dinas Peternakan, satwa liar, dan pihak berwenang kehutanan diperlukan untuk berhasil mencegah dan mengendalikan penyakit flu babi Afrika.

Sejauh ini, penyebaran flu babi Afrika ini masih belum bisa langsung ke manusia. Penularannya lebih kepada daging babi yang terkontaminasi virus flu babi Afrika dan kemudian dikonsumsi. Saat itulah penyakit tersebut baru bisa menulari manusia yang mengonsumsi daging tersebut. Besar atau kecilnya kemungkinan penyakit ini menyebar ke Indonesia memang belum bisa dipastikan. Namun demikian semua pihak perlu mewaspadai agar bisa melakukan langkah-langkah antisipasi.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar