Sukses

Dominique Diyose, Merasa Utuh & Bahagia Menjadi Seorang Ibu

Meninggalkan hiruk pikuk Jakarta dan memilih membesarkan keluarga di Bali, Dominique Diyose merasa bahagia menjadi seorang ibu.

Klikdokter.com, Jakarta Publik selama ini mengenal Dominique Diyose (30) sebagai seorang model, bermain peran di layar lebar, atau tutur katanya saat memandu acara di layar kaca. Namun, mungkin tak banyak yang tahu bahwa wanita yang kerap disapa Domi ini sudah meninggalkan hiruk pikuk dan gemerlapnya Jakarta dan mantap memilih menetap di Bali. Kepada KlikDokter, Domi menuturkan prioritas utamanya saat ini: keluarga dan menjadi ibu yang terbaik untuk anak-anaknya.

It’s so wonderful! Saya bahagia, seakan mimpi jadi nyata. Saya memang sudah memendam keinginan ini dari lama. Sampai akhirnya waktu yang tepat itu datang, lalu pindah, dan makin ke sini saya makin sadar bahwa ini adalah salah satu keputusan terbaik,” ungkap Domi riang lewat sambungan telepon.

Jakarta, dianggap oleh Domi sangat melelahkan, berpolusi dan menyesakkan. Kata Domi, “Saya sudah tidak bisa dan tidak mau lagi mengikuti arus itu, apalagi glitz and glam-nya. Been there, done that. Enough is enough.”

Memutuskan untuk meninggalkan Jakarta memang bukanlah keputusan yang mudah. Bahkan, sang suami, Ivan Handoyo, beberapa kali bertanya untuk meyakinkan apakah keputusan tersebut tak akan ia sesali.

“Jawaban saya tentu saja tidak, karena memang saya sudah menemukan kebahagiaan baru. Saya lebih bahagia sekarang.”

Memiliki support system terbaik

Bulan Maret tahun lalu, Domi melahirkan anak lelakinya Aksadaru Mahameru. Meru, panggilannya, adalah salah satu kebahagiaan terbesarnya. Ia mengatakan bahwa lahirnya Meru telah mengubah hidupnya.

Ia, Ivan, anak pertamanya Padme (dari penikahan Ivan sebelumnya), beserta keluarga dikelilingi oleh buncahan kebahagiaan. Perasaan yang ia rasakan adalah hidup yang lebih utuh, baik sebagai wanita maupun sebagai manusia.

Kepada KlikDokter, pemeran Ming dalam film Berbagi Suami ini bercerita mengenai metode persalinan di rumah dengan gentle birth yang ia pilih.

“Dari awal saya memang ingin melahirkan secara normal, sehingga cari dokternya yang pro normal. Setelahnya, saya terang-terangan bilang ingin melahirkan secara normal di rumah tanpa alternatif apa pun. Untungnya, dokter mendukung, begitu juga kondisi saya pada waktu itu,” tutur Domi.

Begitu Meru lahir, yang Domi rasakan hanya kebahagiaan. Bahkan, ia mengaku tidak merasakan baby blues maupun depresi pascapersalinan (postpartum depression).

“Saya sama sekali tidak merasakan perasaan sedih. Kalaupun menangis, itu adalah tangisan bahagia. Sampai saat melihat Meru saya suka masih tidak percaya bahwa saya melahirkan manusia dari rahim saya sendiri,” katanya diiringi tawa.

Rasa capek memang ada, tetapi Domi mengaku sudah siap mental dan tahu segala konsekuensinya menjadi seorang istri sekaligus ibu. Baginya, kunci penting dalam mengasuh dan membesarkan anak adalah memiliki support system yang dibutuhkan.

“Saya punya the best support system! Dari awal, suami mendukung dan sigap, begitu juga dengan keluarga dekat,” aku Domi. Itulah yang membuat perannya sebagai istri sekaligus ibu belum pernah tersandung kendala yang berarti.

Menurutnya, Ivan bisa “membaca” raut wajahnya saat sedang stres. Tanpa diminta, Ivan pun tak segan mengambil alih membantu merawat Meru. Ini pun membuatnya penuh syukur. Ia percaya bahwa dalam mengasuh anak, peran ayah sama besarnya dengan peran ibu.

1 dari 3 halaman

Berusaha untuk tak terlalu memedulikan mom-shamers

Kritik dari orang sekitar rasanya akan selalu ada dalam tiap fase kehidupan. Mulai dari menjadi lajang, memutuskan untuk menikah, hingga sampai sudah punya anak. Di kalangan para ibu, tentu familier dengan istilah mom-shaming.

Mom-shaming terjadi ketika ada seorang ibu mengkritik ibu lainnya. Biasanya, kritikan terkait dengan berbagai hal terkait metode persalinan yang dipilih, pola pengasuhan anak, menyusui, penggunaan susu formula, atau apa pun yang berhubungan dengan anak.

Sebagai seorang ibu, Domi pun tak luput dari situasi tersebut. Ia mengaku kerap menerima nasihat yang terkesan mendikte baik dari orang-orang di sekitarnya maupun lewat unggahannya di media sosial.

“Tentu saja pernah dan saya berusaha untuk tidak memedulikannya. Misalnya, saya, kan, sering bawa Meru ke pantai dan tidak memakaikannya baju, ada yang komentar, ‘memang nggak takut Meru masuk angin?’ atau komentar serupa lainnya. Domi memang mencoba untuk tak ambil pusing. Namun, ia punya batasannya sendiri, apalagi jika komentar yang ia terima bersifat sensitif.

“Misalnya ada orang yang pernah menanyakan tentang agama Meru. Menurut saya, ini tak bisa didiamkan dan saya merasa harus menanggapi. Sekarang Meru masih sangat kecil dan ia bebas menentukan pilihannya sendiri ketika saatnya tiba,” jelasnya.

Perilaku mom-shaming tersebut juga kerap datang dari orang-orang di sekitar Domi. Misalnya tentang keputusan berapa lama ia menyusui Meru, bagaimana ia menyusui, dan masih banyak lagi. Menurutnya, orang boleh memberi saran tentang apa versi mereka yang benar. Namun, ia yakin hanya ibulah yang paling tahu tentang pola asuh anak.

“Saya punya keputusan sendiri mengenai cara merawat Meru. Memberikan saran boleh, tapi tak usah menggurui,” pesannya.

Untuk para ibu yang juga tengah berjuang dalam mengurus keluarga sambil membesarkan anak, Domi punya beberapa tips yang mungkin bisa membantu.

Pertama, yakinlah bahwa tidak yang tahu apa yang terbaik untuk anaknya selain seorang ibu dan anggota keluarga lainnya. Kedua, mencari informasi sebanyak-banyak mengenai parenting sah saja.

Meski demikian, Domi berpesan agar semua informasi tersebut tetap harus disaring, untuk memilih mana yang paling sesuai. Selain itu Domi juga meminta para ibu untuk tidak lebih tenang dan tidak khawatir berlebihan.

“Tak perlu terlalu khawatir, karena sampai usia anak 5 tahun ia akan terus menyesuaikan diri. Anak rewel, menangis, atau lempar-lempar barang, menurut saya itu normal, justru itu bagian dari eksplorasi mereka,” kata Domi.

Domi pun setuju bahwa menjadi seorang ibu kadang sangat melelahkan, baik secara fisik maupun emosional. Meski demikian, “Jangan pernah berpikir Anda adalah ibu yang tak baik karena merasa capek dan stres dalam membesarkan anak, karena itu pun normal.”

Take your time, kalau bisa minta bantuan suami, ibu, mbak, atau nanny di rumah barang 15-30 menit. Bisa dengan tidur sebentar atau apa pun yang bisa meredakan stres yang Anda rasakan. Intinya, jangan terlalu khawatir karena tidak ada gunanya,” lanjutnya.

2 dari 3 halaman

Apa rencana Domi selanjutnya?

Domi mengaku ingin terus ada untuk anak-anaknya, melihat mereka tumbuh besar penuh kesadaran. Seperti Padme, kakaknya Meru. “Saya ikut membesarkannya saat ia berusia 4 tahun dan sekarang ia sudah mau 8 tahun. Saya menyaksikan perkembangannya secara fisik dan emosi: berubah peran menjadi kakak, dekat sama adiknya, bisa main bareng dan ikut menjaga—saya bahagia dan bangga sekali dibuatnya!”

Ia menginginkan kedua anaknya tumbuh dengan kesadaran tinggi, tidak lupa dengan akar budaya mereka, serta tetap mampu menghargai alam dan tradisi.

Sambil mengurus keluarga, Domi juga mengaku ingin lebih serius menggeluti skin care alami. Jika Anda merupakan follower Instagram Domi, mungkin Anda tahu bahwa Domi kerap mengunggah produk perawatan kulit dengan tagar #DIYSELFCARE yang dibuatnya sendiri. Ia mengaku memang lebih menyukai produk yang alami.

“Saat hamil Meru trimester kedua, saya merasa mulai bosan. Akhirnya, saya mengambil sekolah organic formulation. Saya percaya bahwa apa pun yang bisa dicerna juga baik untuk diaplikasikan sebagai perawatan kulit. Dari mulai iseng bikin, sekarang saya mulai memikirkan untuk melanjutkannya lebih serius karena selama ini responsnya baik. Ini adalah passion saya sekaligus bagian dari me-time,” ceritanya.

Domi lalu juga mengungkap impiannya yang lain: diam-diam ia ingin berkebun dan bertani.

“Saya mau menumbuhkan berbagai tanaman. Rasanya senang ya memasak dari hasil kebun sendiri, dari situ saya bisa membuat ekstrak dan oil sendiri. Ada kepuasan sendiri yang sifatnya terapeutik,” ungkapnya menutup perbincangan.

Itulah tadi sepotong cerita dan inspirasi dari Dominique Diyose dari lembaran barunya sebagai seorang ibu. Diakuinya, menjadi ibu telah membawa perubahan besar dalam dirinya—yakni menjadi lebih tenang. Ia pun berusaha untuk benar-benar menikmati perannya sebagai istri sekaligus ibu yang kuat dan melakukan peran gandanya tersebut dengan sepenuh hati.

[RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar