Sukses

Kelelahan Picu Jumlah Petugas KPPS Sakit dan Meninggal Bertambah?

Sampai kemarin, petugas KPPS yang meninggal dunia saat bertugas mencapai 119 orang. Dengan jumlah itu, benarkah pemicunya hanya kelelahan?

Klikdokter.com, Jakarta Pemilu 2019 memang sudah selesai dilaksanakan minggu lalu. Namun, cerita rupanya tidak berakhir di situ. Sejumlah petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) dilaporkan jatuh sakit, bahkan ada yang sampai meninggal dunia. Dilansir dari berbagai sumber, 548 petugas KPPS sakit dan 119 lainnya meninggal dunia. Adapun untuk Panwaslu, 33 orang dilaporkan gugur saat bertugas. Penyebab dari musibah ini diduga karena ekstra kelelahan. Benarkah kelelahan adalah penyebab tunggal?

Efek kelelahan bisa membunuh?

Sepertinya terlalu terburu-terburu untuk memutuskan bahwa penyebab kematian para petugas KPPS itu hanyalah kelelahan. Pasalnya, menurut dr. Sara Elise Wijono, MRes dari KlikDokter, kelelahan seharusnya tidak sampai “membunuh” bila sedari awal penderitanya tidak memiliki riwayat penyakit kronis.

Misalnya saja, penyakit jantung. Seseorang yang memiliki penyakit jantung bisa mengalami kekambuhan serangan apabila dipicu oleh stres serta kelelahan berlebih.

Di Indonesia, tak sedikit yang beranggapan bahwa jika tidak ada gejala, maka tubuh dalam kondisi yang baik-baik saja. Padahal, kata dr. Sara, hal itu tidak berlaku mutlak.

“Penyakit kronis itu bisa ada tanpa gejala yang terlalu signifikan. Itu sebabnya dokter selalu merekomendasikan masyarakat untuk cek kesehatan secara rutin,”  dr. Sara menjelaskan.

1 dari 2 halaman

Kelelahan memicu kondisi yang lebih serius

Pada dasarnya, kelelahan hanyalah pemicu, bukan penyebab kematian. Jika sedari awal petugas tersebut tidak memiliki kondisi kesehatan tertentu, kelelahan hanya akan membuatnya lemas.

“Lagipula, petugas yang meninggal tidak mendapatkan autopsi sehingga sulit menentukan apa penyebab pasti dari kematiannya. Tapi yang jelas, baik kelelahan maupun kekurangan nutrisi saat bertugas, itu semua hanya pemicu.” dr. Sara menegaskan.

Untuk masalah minimnya makanan dan minuman saat bertugas, hal tersebut memang seharusnya menjadi perhatian. Akan tetapi, sama seperti kelelahan, kekurangan nutrisi dalam jangka waktu yang tidak lama seharusnya tidak sampai merenggut nyawa seseorang.

“Katakanlah ada petugas yang kekurangan minum dan makan sehingga badannya lemas dan hampir pingsan. Tapi ketika beristirahat dan mengisi energi tubuhnya dengan minum air putih serta makan dalam porsi normal, tubuhnya akan kembali normal,” dr. Sara menjelaskan.

Bila sudah diisi lagi nutrisinya tapi kondisinya masih lemas dan cenderung memburuk, maka penyebabnya bukan hanya kelelahan. “Bisa jadi ada penyakit kronis lain yang tanpa disadari sudah diderita sejak lama,” kata dr. Sara.

Tips sehat pemilihan petugas KPPS

Untuk mencegah kondisi ini terulang kembali, dr. Sara memberikan beberapa saran seputar kesehatan dan pemilihan petugas Pemilu. Adapun saran yang dia maksud, antara lain:

  • Lakukan medical check-up secara menyeluruh untuk menentukan apakah Anda benar-benar mampu secara fisik menjadi petugas pemilu. Biasanya, semakin tua usia, risiko untuk memiliki penyakit kronis juga semakin tinggi.
  • Bila perlu, pilihlah petugas yang berusia muda. Mereka biasanya memiliki energi yang lebih banyak dan tidak memiliki kondisi kesehatan yang kronis. Asalkan diedukasi dulu sebelumnya, seharusnya mereka juga bisa membantu menjalankan pemungutan suara lokal.
  • Sebelum hari persiapan dan hari Pemilu berlangsung, ada baiknya orang-orang yang sudah terpilih menjadi petugas menjaga pola istirahat dan mencukupi nutrisi. Bila hal tersebut tidak diperhatikan, Anda dapat lemas saat hari H.

Kelelahan dan kekurangan nutrisi adalah pemicu, bukan penyebab utama dari kematian. Tanpa adanya penyakit kronis yang sudah diderita sebelumnya, dua hal tersebut tidak akan sampai merenggut nyawa petugas KPPS. Oleh sebab itu, diperlukan pemeriksaan medis yang lengkap sebelum bertugas serta jaga selalu pola makan dan istirahat. Semoga semua pihak bisa memetik pelajaran dari kejadian ini. Dengan antisipasi yang baik, hal serupa dapat dihindari di masa depan.

[HNS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar