Sukses

Ibu Hamil Kena Malaria Berisiko Menginfeksi Janin

Malaria yang terjadi pada ibu hamil risikonya lebih banyak dibandingkan pada pasien biasa, salah satunya bisa menginfeksi janin.

Klikdokter.com, Jakarta Malaria adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit plasmodium di sel darah merah dan gejala utamanya adalah demam. Di negara-negara Barat, infeksi malaria jarang ditemui, beda dengan Indonesia. Di sini, malaria masih menjadi salah satu penyakit yang endemis di beberapa daerah. Akibatnya, secara otomatis setiap ibu hamil di daerah tersebut rentan terinfeksi malaria. Malaria pada ibu hamil risikonya lebih banyak dibandingkan pada pasien biasa, salah satunya bisa menginfeksi janinnya.

Secara umum, terlepas dari daerah tempat tinggalnya endemis atau tidak, wanita hamil, terutama kehamilan pertama dan kedua, memang lebih rentan terinfeksi malaria dibandingkan wanita yang tidak hamil. Proses penyesuaian kekebalan tubuh serta perubahan hormonal selama kehamilan menyebabkan ibu hamil rentan mengalami infeksi penyakit yang dibawa oleh nyamuk Anopheles betina ini.

Malaria pada ibu hamil

Saat terinfeksi malaria, ibu hamil akan mengalami gejala khas seperti demam, menggigil, sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal-pegal, dan nyeri punggung. Gejala-gejala tersebut terutama terjadi pada malaria tanpa komplikasi. Pasien yang terinfeksi malaria berat umumnya akan mengalami demam yang sangat tinggi, tubuh kuning, mimisan, gusi berdarah, buang air besar bercampur darah, kejang, hingga kehilangan kesadaran.

Malaria juga dapat menimbulkan sejumlah komplikasi atau penyulit bila terjadi pada ibu hamil. Mau tidak mau, janin dalam kandungan ibu pun akan ikut kena imbas infeksi tersebut. Bayi mungkin tidak akan serta-merta terinfeksi malaria, tetapi ia akan berisiko mengalami berbagai dampak buruk seperti:

  • Berat badan lahir rendah (BBLR)

Malaria diperkirakan menjadi salah satu penyebab utama lahirnya bayi dengan berat lahir rendah. Kondisi malaria pada masa kehamilan menyebabkan aliran nutrisi dan oksigen dari ibu ke janin melalui plasenta terganggu, sehingga bayi akan kekurangan nutrisi dan lahir dengan berat yang rendah.

  • Gangguan pertumbuhan janin (intrauterine growth retardation atau IUGR)

Ibu hamil dengan malaria biasanya akan mengalami anemia (kekurangan sel darah merah). Hal ini menyebabkan aliran darah ke janin akan berkurang, sehingga janin akan mengalami gangguan pertumbuhan, bahkan gagal tumbuh atau berkembang.

  • Kelahiran prematur

Proses yang sama dengan dua poin sebelumnya juga membuat ibu hamil rentan mengalami persalinan prematur. Seperti yang telah Anda ketahui, janin prematur amat rentan mengalami infeksi dan masalah kesehatan lainnya setelah ia lahir.

Singkatnya, infeksi malaria pada ibu hamil dapat berakibat buruk pada janin bila tidak diatasi dengan tepat.

Berita baiknya, pengobatan malaria sudah ada dan bisa didapatkan di berbagai fasilitas kesehatan. Oba-obatan untuk mengatasi infeksi malaria pun dapat dikonsumsi oleh ibu hamil.

Tentu saja, sebelum mendapatkan pengobatan tersebut, ibu hamil harus menjalani pemeriksaan darah guna menentukan jenis parasit plasmodium yang menginfeksinya. Nantinya, ini akan membedakan pengobatan yang didapatkan oleh ibu hamil.

Selain itu, pengobatan malaria pun diberikan sesuai dengan usia kehamilan. Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk melakukan pemeriksaan oleh dokter di fasilitas kesehatan.

Selain mengenali gejala awal, pencegahan juga sangat penting agar ibu hamil jangan sampai terinfeksi malaria. Beberapa hal yang dianjurkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk mencegah malaria antara lain adalah penggunaan kelambu anti nyamuk (long-lasting insecticidal nets atau LLINs) dan pemberian terapi pencegahan pada daerah yang masih endemis.

Infeksi malaria yang dialami oleh ibu hamil tidak boleh dianggap sepele. Janin mungkin tidak akan serta-merta terinfeksi malaria, tetapi ia akan berisiko mengalami berbagai dampak buruk, bahkan fatal. Karena itu, kenali gejala malaria dan konsultasikan dengan petugas kesehatan bila ada ibu hamil yang menunjukkan tanda-tanda tersebut. Selain itu, tetap lakukan langkah pencegahan agar jangan sampai terkena gigitan nyamuk pembawa infeksi malaria.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar