Sukses

Sea Salt vs Garam Biasa, Mana Lebih Baik?

Sea salt naik daun karena dipercaya lebih unggul dibandingkan dengan garam biasa. Cari tahu mana yang lebih baik di sini!

Klikdokter.com, Jakarta Garam merupakan salah satu bahan baku masakan yang paling banyak digunakan dalam mengolah masakan. Tak hanya soal rasa, garam juga mengandung sejumlah mineral yang dibutuhkan tubuh. Selain garam biasa (disebut juga garam dapur atau garam meja), sea salt juga merupakan salah satu jenis cukup yang banyak dicari. Keduanya punya karakter yang cukup berbeda dalam hal rasa, tampilan, dan kandungan alaminya. Pertanyaannya, mana yang lebih baik?

Garam merupakan suatu mineral alami yang mengandung dua unsur penting: natrium (Na) dan klorida (Cl). Kedua elemen ini berperan penting dalam menjaga kelancaran kerja sistem saraf, baik saraf pusat atau otak maupun saraf tepi. Kekurangan kedua elemen penting ini bisa mengakibatkan gangguan saraf, mulai dari yang ringan seperti kesemutan, hingga terhambatnya kerja saraf secara keseluruhan.

Ya, selain memperkaya rasa masakan, garam juga ternyata punya andil penting dalam menjaga kesehatan. Peran penting garam ini ditawarkan melalui beragam bentuknya, mulai dari garam biasa yang paling banyak dipakai, hingga jenis lainnya yang beberapa tahun belakangan naik daun. Mulai dari sea salt, pink Himalayan salt, kosher salt, dan Celtic sea salt. Di Indonesia, jenis sea salt cukup banyak dipilih sebagai pengganti garam biasa, karena diklaim lebih memberikan banyak manfaat untuk kesehatan.

Sisi baik dan buruk garam biasa

Garam biasa bisa dibilang digunakan oleh sebagian besar orang untuk mengolah masakan sehari-hari. Selain mudah didapat, harganya pun sangat terjangkau jika dibandingkan dengan jenis garam yang disebutkan di atas.

Mengintip proses pembuatan garam biasa, ternyata pengolahannya cukup rumit. Dari dasar laut, lapisan yang mengandung garam dimbil dan diolah melalui beberapa tahapan, sehingga menghasilkan butiran yang halus dan bersih. Sisi negatifnya, proses berlapis ini berpotensi meluruhkan kandungan alami dan beragam mineral yang dimiliki garam tersebut.

Selain panjangnya proses pengolahan, untuk mencegah penggumpalan garam saat pengolahan, produsen umumnya menambahkan zat aditif untuk menjaga tekstur garam tetap halus. Minimnya mineral dan kandungan zat aditif inilah yang kerap menjadi pertimbangan dalam mencari alternatif jenis garam lain, terutama mereka yang lebih sadar akan pola makan sehat.

Di balik minimnya mineral alami, garam biasanya nyatanya tetap punya keunggulan. Penambahan iodin sangat berperan dalam meminimalkan defisiensi iodin. Seseorang yang kekurangan iodin berisiko mengalami hipotiroidisme, yang bisa berujung pada terhambatnya perkembangan intelektual dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Benarkah sea salt lebih baik daripada garam biasa?

Menilik proses pengolahannya, sea salt memang jauh lebih alami dibandingkan garam biasa. Sea salt berbahan dasar air laut yang diuapkan di bawah terik matahari. Hasilnya adalah kristal kasar berwarna keruh.

Dari segi rasa, sea salt lebih bercita rasa tajam. Selain itu, kandungan mineralnya juga lebih banyak. Sea salt mengandung potasium, besi, dan zink lebih tinggi dibandingkan dengan garam biasa. Meski demikian, beberapa kandungan mineral tersebut tak bisa disamakan, karena bergantung pada sumber air laut dan lama proses pengolahan.

Serupa dengan garam biasa, sea salt juga tak lepas dari kekurangan. Minimnya proses pengolahan sea salt menjadikan sea salt berpotensi terkontaminasi logam berat dan plastik dari dasar laut. Dua kandungan tersebut wajib diwaspadai. Karenanya, pastikan sea salt diproduksi merek terpercaya untuk meminimalkan potensi gangguan kesehatan di kemudian hari.

Merangkum penjelasan di atas, baik garam biasa maupun sea salt memang punya keunggulan dan kelemahannya masing-masing. Mana yang lebih baik, ini tergantung dari preferensi Anda. Rasa, kandungan, dan harga bisa menjadi pertimbangan. Satu hal yang harus selalu diingat, apa pun garam yang Anda pakai, pastikan asupan garam harian tak lebih dari 2.300 mg per hari atau satu sendok teh untuk menghindari risiko hipertensi.

(RN/ RVS)

0 Komentar

Belum ada komentar