Sukses

Hati-hati, Hipertensi Bisa Berujung pada Hemodialisis

Hipertensi dapat merusak ginjal, sehingga mengharuskan penderitanya melakukan hemodialisis. Jangan pernah anggap remeh kondisi ini.

Penyakit hipertensi atau tekanan darah tinggi bukan hanya berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah, tapi juga bisa sebabkan gangguan pada ginjal. Jika hipertensi sudah merambah ginjal, bukan tak mungkin penderitanya harus menjalani proses cuci darah atau hemodialisis.

Sekilas tentang Hipertensi

Hipertensi didiagnosis dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah, biasanya dilakukan dua sampai tiga kali pemeriksaan pada pertemuan yang terpisah. Tekanan darah normal berkisar di bawah 120/80 mmHg.

Seseorang dikatakan mengalami kondisi pra-hipertensi saat tekanan darahnya berkisar antara 120/80 - 139/89 mmHg. Seseorang masuk ke hipertensi tahap 1 jika tekanan sistolik berada di atas 140 - 159 mmHg dengan diastolik 90-99 mmHg.

Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 yang dirilis Kementerian Kesehatan RI, prevalensi penderita tekanan darah tinggi cukup besar, yakni 34,1%. 

Penderitanya bukan hanya datang dari kalangan lansia. Seiring dengan pergeseran gaya hidup, diagnosis hipertensi pada usia produktif bahkan dewasa muda semakin mudah dijumpai.

Hati-hati, apabila tidak terkontrol, hipertensi dapat merusak ginjal dan meningkatkan risiko terjadinya berbagai komplikasi. Selain penyakit ginjal, komplikasi lainnya adalah sakit jantung koroner dan stroke.

Artikel Lainnya: Kesehatan Jantung dan Ginjal Saling Berhubungan, Kok Bisa?

1 dari 3 halaman

Hipertensi, Penyakit Ginjal, dan Hemodialisis

Kedua ginjal dan sistem sirkulasi darah merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam menyokong berbagai sistem kerja pada tubuh agar tetap berfungsi normal. 

Ginjal bekerja membantu menyaring “limbah” dan kelebihan cairan dalam darah, sehingga memiliki banyak pembuluh darah sebagai bagian dari organnya.

Menyoal kaitan hipertensi dengan gangguan ginjal, perlu diketahui bahwa ketika seseorang mengalami tekanan darah tinggi, maka terjadi kerusakan pada pembuluh darahnya.

Kondisi ini akhirnya menyebabkan nefron dalam ginjal yang bertugas menyaring darah akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk dapat bekerja secara optimal.

Tanpa adanya penyaringan yang baik oleh ginjal, kelebihan cairan pada pembuluh darah menyebabkan kondisi hipertensi semakin buruk dan menjadi sebuah siklus yang berbahaya bagi tubuh. Inilah alasannya, hipertensi merupakan penyebab gagal ginjal tertinggi kedua.

Mirip dengan tekanan darah tinggi, gangguan ginjal akibat hipertensi pada fase awal kerap kali tidak menimbulkan tanda dan gejala. Gejala yang sering kali ditemukan adalah adanya bengkak atau edema di berbagai bagian tubuh akibat kelebihan cairan dan garam yang tidak dapat disaring oleh ginjal.

Gejala yang sering kali ditemukan adalah adanya bengkak atau edema di berbagai bagian tubuh akibat kelebihan cairan dan garam yang tidak dapat disaring oleh ginjal. Selanjutnya, seiring dengan perburukan kondisi ginjal, gejala yang muncul pun akan mulai semakin jelas. 

Misalnya menurunnya nafsu makan, mual dan muntah, mudah lelah meski aktivitas sedikit, gangguan tidur, gangguan buang air kecil baik meningkat atau menurun, kram otot, nyeri dada, dan napas yang tersengal-sengal.

Artikel Lainnya: Polisi Memiliki Risiko Penyakit Jantung dan Ginjal yang Lebih Tinggi?

2 dari 3 halaman

Mencegah Gangguan Ginjal Akibat Hipertensi

Gangguan ginjal akibat tekanan darah tinggi sesungguhnya dapat dicegah atau diperlambat perkembangannya agar tidak semakin memburuk. Caranya dengan mengontrol tekanan darah pada kisaran yang normal atau setidaknya mendekati normal.  

Beberapa cara pencegahan dan pengobatan hipertensi yang dapat dilakukan adalah:

  • Perubahan pola makan menjadi lebih sehat. Pilihlah makanan yang rendah garam. Seorang penyandang hipertensi, disarankan hanya mengonsumsi 1.500 mg natrium, atau setara dengan 2/3 sendok teh garam.
  • Olahraga merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk menurunkan berbagai komplikasi hipertensi. 

Lakukan olahraga selama 150 menit per minggu yang dibagi menjadi 3-5 sesi yang berbeda.

  • Minum obat secara teratur. Konsumsi obat-obatan untuk membantu mengendalikan tekanan darah. Jadi jangan lupa untuk minum obat sesuai dengan petunjuk dokter. 

Ketika kondisi ginjal semakin memburuk, biasanya dokter akan memberikan terapi untuk mengembalikan fungsi ginjal atau memaksimalkan fungsi yang tersisa.

  • Hindari merokok. Hubungan rokok dengan kesehatan pembuluh darah sangat kuat. Merokok memberikan pengaruh buruk pada keadaan pembuluh darah Anda. Jadi, hentikan rokok Anda sekarang!

Melihat begitu berbahayanya efek hipertensi pada kesehatan ginjal, hingga harus melakukan hemodialisis, Anda disarankan untuk sedini mungkin menjaga kesehatan. Terapkan pola hidup sehat dan aktif sebagai investasi penting di masa depan.

Jangan ketinggalan informasi terbaru terkait tekanan darah tinggi dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar