Sukses

Hati-hati, Hipertensi Bisa Berujung Pada Hemodialisis

Hipertensi dapat merusak ginjal, hingga mengharuskan penderitanya melakukan hemodialisis. Jangan pernah anggap remeh kondisi ini.

Klikdokter.com, Jakarta Tahukah Anda bahwa kondisi tekanan darah tinggi atau hipertensi tak hanya berhubungan dengan jantung dan pembuluh darah, namun juga dapat menyebabkan gangguan pada ginjal? Jika hipertensi sudah merambah ke organ ginjal, bukan tak mungkin penderitanya harus menjalani hemodialisis atau cuci darah.

Sekilas tentang hipertensi

Setiap berdetak, jantung Anda memompa darah melalui berbagai arteri dan vena di seluruh tubuh. Saat tekanan darah yang dipompa tersebut melebihi batas normal, yang akan terjadi adalah naiknya tekanan darah, atau biasa disebut hipertensi.

Tak heran, hipertensi telah lama dianggap sebagai silent killer atau ‘si pembunuh senyap’, karena sering kali tidak menimbulkan tanda dan gejala. Hal ini jugalah yang menyebabkan banyak orang tidak terdiagnosis.

Dulu, penyakit hipertensi memang lebih banyak dikaitkan dengan lansia. Namun, seiring dengan pergeseran gaya hidup, diagnosis hipertensi pada usia produktif bahkan dewasa muda bukanlah suatu hal yang mengherankan.

Hipertensi didiagnosis dengan menggunakan alat pengukur tekanan darah, biasanya dilakukan dua sampai tiga kali pemeriksaan pada pertemuan yang terpisah. Tekanan darah normal berkisar di bawah 120/80 mmHg.

Seseorang dikatakan mengalami kondisi prahipertensi saat tekanan darahnya berkisar antara 120/80 hingga 139/89 mmHg. Seseorang masuk ke hipertensi tahap 1 jika tekanan sistolik berada di atas 140 hingga 159 mmHg dengan diastolik 90-99 mmHg.

Di Indonesia sendiri, berdasarkan dara Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi hipertensi mencapai 25.8 persen. Kasus hipertensi tertinggi terjadi di Bangka Belitung (30 persen) dan yang terendah terjadi di Papua (16.8 persen).

Tak hanya dapat terjadi pada usia tua, hipertensi juga kini mengintai usia produktif. Data Survei Indikator Kesehatan Nasional (Sirkesnas) 2016 yang dilansir dari situs Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa terjadi peningkatan prevalensi hipertensi pada penduduk usia produktif yang dimulai dari usia 18 tahun ke atas, hingga sebesar 32.4 persen.

Melihat fakta tersebut, upaya hidup sehat sudah seyogyanya dilakukan sejak usia muda, agar angka kejadian hipertensi tersebut dapat semakin berkurang.

Hubungan hipertensi dan ginjal

Kedua ginjal dan sistem sirkulasi darah merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam menyokong berbagai sistem kerja pada tubuh agar tetap berfungsi normal. Ginjal bekerja membantu menyaring ‘limbah’ dan kelebihan cairan dalam darah, sehingga memiliki banyak pembuluh darah sebagai bagian dari organnya.

Menyoal kaitan hipertensi dengan gangguan ginjal, perlu diketahu bahwa ketika seseorang mengalami hipertensi, maka terjadi kerusakan pada pembuluh darahnya. Kondisi ini akhirnya menyebabkan nefron dalam ginjal yang bertugas menyaring darah akan mengalami kekurangan oksigen dan nutrisi yang diperlukan untuk dapat bekerja secara optimal.

Tanpa adanya penyaringan yang baik oleh ginjal tersebut, kelebihan cairan pada pembuluh darah pun menyebabkan kondisi hipertensi semakin buruk dan menjadi sebuah siklus yang berbahaya bagi tubuh. Inilah mengapa, hipertensi merupakan penyebab gagal ginjal tertinggi kedua.

Serupa dengan hipertensi yang sering kali tidak menimbulkan tanda dan gejala, gangguan ginjal akibat hipertensi juga demikian pada fase awal. Gejala yang sering kali ditemukan adalah adanya bengkak atau edema di berbagai bagian tubuh akibat kelebihan cairan dan garam yang tidak dapat disaring oleh ginjal.

Kondisi ini dapat ditemukan di bagian tubuh bawah seperti kaki yang membutuhkan bantuan gravitasi untuk mengirim kembali darah ke jantung, namun juga dapat ditemukan di bagian lain seperti wajah dan tangan.

Seiring dengan perburukan kondisi ginjal, gejala yang muncul pun akan mulai semakin jelas. Misalnya menurunnya nafsu makan, mual dan muntah, mudah lelah meski aktivitas sedikit, gangguan tidur, gangguan buang air kecil baik meningkat atau menurun, kram otot, nyeri dada, dan napas yang tersengal-sengal.

Cegah dengan cara ini

Gangguan ginjal akibat hipertensi sesungguhnya dapat dicegah atau diperlambat perkembangannya agar tidak semakin memburuk. Caranya dengan mengontrol tekanan darah pada kisaran yang normal atau setidaknya mendekati normal.

Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat. Mulai dari memperbaiki pola dan menu makan, rutin berolahraga, menjaga berat badan tetap ideal, dan meninggalkan kebiasaan yang dapat merusak kesehatan seperti merokok dan konsumsi alkohol.

Konsumsi obat-obatan untuk membantu mengendalikan tekanan darah juga dapat disarankan dilakukan, asal sesuai dengan petunjuk dokter. Ketika kondisi ginjal semakin memburuk, biasanya dokter akan memberikan terapi untuk mengembalikan fungsi ginjal atau memaksimalkan fungsi yang tersisa akan lebih masif.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan adalah menjalani hemodialisis atau lebih populer disebut cuci darah untuk menggantikan fungsi penyaringan oleh ginjal yang terganggu, hingga pengangkatan atau pencangkokan ginjal sehat untuk menggantikan ginjal yang telah rusak.

Melihat begitu berbahayanya hipertensi yang dapat menyebabkan gagal ginjal, Anda disarankan untuk menjaga kesehatan sejak dini sebagai investasi di hari tua nanti. Apalagi, hipertensi kini tak mengenal usia. Anda yang berada di usia produktif pun bisa terancam mengalaminya.

Yuk, mulai terapkan gaya hidup sehat dengan asupan bergizi serta rutin berolahraga agar terhindari dari ancaman penurunan kesehatan seperti hipertensi, yang berisiko menyebabkan kerusakan ginjal hingga harus melakukan hemodialisis. Karena gaya hidup Anda adalah masa depan Anda.

[NP/ RH]

0 Komentar

Belum ada komentar