Sukses

Plagiocephaly pada Anak, Apa Bahayanya?

Plagiocephaly atau sindrom kepala datar pada anak kerap mengganggu secara kosmetik. Berbahayakah bagi otak dan tumbuh kembang anak?

Klikdokter.com, Jakarta Lini masa akun Instagram milik model Chrissy Teigen, istri penyanyi dan musisi John Legend, dibanjiri komentar dari warganet menyusul unggahan fotonya bersama sang putra, Miles, beberapa waktu lalu. Pada foto tersebut, Miles tampak mengenakan helm khusus untuk memperbaiki kondisi plagiocephaly yang dialaminya. Plagiocephaly pada anak kerap mengganggu secara kosmetik. Namun, apakah ini berbahaya bagi otak dan tumbuh kembangnya?

Plagiocephaly adalah istilah medis untuk sindrom kepala datar. Anda mengenalnya dengan istilah “kepala peyang”. Keadaan tersebut kerap dialami oleh bayi yang baru lahir karena bagian ubun-ubun kepalanya masih lunak.  Ubun-ubun kepala yang lunak ini sesungguhnya diperlukan agar kepala bayi dapat melewati jalan lahir, juga untuk mengakomodasi pertumbuhan otak yang cepat di tahun pertama kehidupannya.

Sebagian besar kasus plagiocephaly disebabkan karena posisi tidur bayi, yakni akibat berbaring telentang dalam waktu lama. Bila kepala bayi dilihat dari atas, akan tampak bagian belakang kepala lebih datar pada satu sisi ketimbang sisi lain. Posisi telinga pada sisi yang datar menjadi lebih terdorong ke depan ketimbang sisi sebelahnya.

Apakah plagiocephaly berbahaya?

Tidak, selama plagiocephaly terjadi akibat posisi tidur yang selalu sama. Umumnya, ini hanya akan menimbulkan masalah kosmetik dan tidak akan menyebabkan kerusakan otak atau mengganggu tumbuh kembang bayi. Koreksinya pun tidak membutuhkan operasi.

Untuk mengoreksi bentuk kepala yang datar, dokter biasanya melakukan evaluasi terlebih dulu. Bila memang disebabkan karena posisi tidur, terapi reposisi untuk menghindari penekanan pada area kepala yang datar akan membantu memperbaiki bentuk kepala. Cara ini biasanya efektif bila bayi masih berusia di bawah 6 bulan.

Beberapa cara yang bisa Anda lakukan adalah:

  • Memvariasikan posisi tidur saat bayi tidur siang maupun malam. Bila bayi tidur telentang, secara berkala ubah posisi kepalanya agar penekanan kiri dan kanan sama. Bila kepala anak kembali ke posisi semula saat tidur, sesuaikan posisinya di lain waktu.
  • Gendong bayi dengan sisi lengan yang berbeda-beda saat menyusui. Hindari pula penekanan pada bagian kepala yang datar.
  • Pegang dan angkat bayi saat ia terbangun untuk mengurangi tekanan pada kepala akibat penggunaan ayunan, carrier, dan kursi bayi.
  • Sediakan tummy time atau waktu tengkurap saat bermain. Pastikan permukaan rata dan keras.

Bila cara-cara di atas tidak membantu mengoreksi bentuk kepala saat bayi berusia 6 bulan, atau bayi sudah berusia lebih dari 8 bulan dan mengalami deformitas (kelainan bentuk) berat, dokter akan menyarankan penggunaan helm khusus untuk membentuk kepala—seperti yang dikenakan Miles. Helm ini dapat dibentuk sedemikian rupa untuk mengurangi tekanan pada sisi kepala yang datar.

Sebenarnya, penggunaan helm khusus adalah terapi yang paling efektif bila dimulai sejak bayi berusia 4-12 bulan. Pada usia itu kondisi tulang tengkorak bayi masih lunak sehingga mudah dibentuk. Namun, jika terapi ini dimulai pada bayi berusia di atas 1 tahun, saat tulang tengkoraknya sudah menyatu, terapi ini tidak akan efektif.

Penyebab lain plagiocephaly

Selain akibat posisi tidur, plagiocephaly dapat terjadi karena tortikolis, yakni gangguan otot yang membuat kepala bayi miring ke satu sisi. Pada kasus ini, diperlukan fisioterapi untuk meregangkan dan melemaskan otot-otot yang terkena. Tujuannya agar bayi lebih bebas mengubah posisi kepala.

Pada kasus yang lebih jarang, plagiocephaly juga bisa disebabkan oleh bersatunya dua atau lebih lempeng tulang di dalam kepala bayi sebelum waktunya. Tulang kepala yang menjadi kaku ini akan mendorong bagian kepala lain seiring membesarnya volume otak.

Hal itu bisa berakibat bentuk kepala menjadi tidak normal. Kondisi yang disebut dengan kraniosinostosis ini biasanya ditangani saat masih bayi dan hanya dapat dikoreksi melalui operasi pemisahan tulang-tulang yang menyatu tersebut. Tujuannya agar otak memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh dan berkembang.

Plagiocephaly akibat posisi tidur dapat dikoreksi dan tidak menyebabkan kerusakan otak atau mengganggu tumbuh kembang bayi. Bila masalah ini membuat Anda khawatir, lebih baik diskusikan ini dengan dokter. Kondisi ini semakin perlu perhatian ketika bayi memiliki bentuk kepala yang tidak normal atau terdapat area-area datar yang tidak kembali normal saat berusia 2 bulan. Begitu pula saat bayi memiliki preferensi yang kuat untuk memalingkan kepalanya ke satu sisi yang sama, atau saat ia kesulitan untuk memutar kepala.

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar