Sukses

Waspadai Paparan Udara Beracun pada Anak

Jutaan anak menghirup polusi udara setiap harinya. Untuk para orang tua, waspadai paparan udara beracun pada anak sebelum terlambat.

Klikdokter.com, Jakarta Bicara mengenai penyebab tingginya angka kematian anak di dunia, mungkin yang terpikirkan adalah akibat bencana kelaparan atau wabah penyakit menular. Memang tak salah. Namun, penyebab kematian anak terbesar juga bisa terjadi karena menghirup polusi udara. Ya, Anda harus mewaspadai paparan udara yang tercemar dan beracun pada anak.

“Udara yang tercemar meracuni jutaan anak-anak dan menghancurkan hidup mereka,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia (WHO). Dilansir dari WHO, setiap harinya sekitar 93 persen, atau sekitar 1,8 miliar anak-anak di dunia yang berusia di bawah 15 tahun menghirup udara yang kualitasnya buruk. Akibatnya, kondisi kesehatan mereka menjadi terancam, serta berisiko terkena penyakit pernapasan kronis. Tragisnya, banyak anak-anak yang meninggal dunia akibat udara beracun. Ini karena mekanisme pertahanan paru-paru mereka belum berkembang sempurna.

Anak lebih banyak menghirup polutan

Meski sebenarnya orang dewasa juga menghirup udara berpolusi, tapi polutan lebih banyak diserap paru-paru anak. Estimasinya kira-kira 2-4 kali lipat ketimbang paru-paru orang dewasa. Sebab, anak-anak bernapas lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, sel-sel pada dinding saluran pernapasan anak lebih mudah ditembus oleh polutan.

Berdasarkan data dari WHO tahun 2016, tercatat sebanyak 600.000 anak meninggal dunia karena terjangkit infeksi pernapasan akut. Selain itu, dilaporkan juga bahwa udara tercemar dan beracun yang menjadi penyebab hilangnya nyawa anak-anak biasa dijumpai di negara-negara berkembang dan berpenghasilan rendah.

Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Meskipun tak masuk dalam daftar negara-negara yang dirilis WHO mengenai paparan polusi udara dan dampaknya pada kesehatan, tapi tetap saja kualitas udara Tanah Air, utamanya Jakarta, cukup mengkhawatirkan. Apalagi mengingat besarnya kontribusi emisi dari kendaraan bermotor, pabrik industri, hingga kebakaran hutan. Dengan kondisi tersebut, bukan tak mungkin suatu hari nanti si Kecil bisa berisiko terkena infeksi saluran pernapasan akibat kondisi udara yang tercemar.

Tak hanya anak-anak, ibu hamil pun cenderung akan melahirkan bayi prematur dan bayi dengan berat badan lahir rendah jika terpapar polusi terlalu sering. Padahal, bayi yang terlahir secara prematur dan berberat badan rendah sangat rentan terkena berbagai macam penyakit di kemudian hari. Polusi udara pun berdampak pada perkembangan saraf serta kemampuan kognitif bayi juga.

“Ya, polusi udara dapat mengerdilkan otak anak-anak, sehingga ini dapat memengaruhi kesehatan mereka dengan cara yang tidak terduga,” kata Dr. Maria Neira, Direktur Departemen Kesehatan Masyarakat, Penentu Lingkungan dan Sosial di WHO. Perlu Anda ketahui juga bahwa udara beracun dapat memicu asma maupun kanker pada anak.

1 dari 2 halaman

Mari lindungi anak dari polusi udara

Sebagai orang tua, ada banyak hal yang bisa Anda lakukan untuk melindungi dan menyelamatkan anak dari ancaman polusi udara.

Menurut WHO, cara terbaik untuk mengatasi kualitas udara yang buruk adalah dengan mengurangi emisi berbahaya, dan pemerintah setempat bisa melakukan hal-hal seperti:

  • Pada negara-negara miskin, alangkah baiknya jika ada kebijakan sehat yang mempercepat peralihan memasak dengan kayu bakar ke cara memasak yang lebih bersih (gas atau listrik).
  • Mempromosikan penggunaan transportasi yang lebih bersih atau minimal melarang alat transportasi yang sudah rusak dan menghasilkan asap pembakaran yang lebih banyak.
  • Menerapkan perumahan hemat energi.
  • Memperbaiki tata kota sehingga perumahan atau tempat bekerja tidak dekat dengan tempat pembuangan sampah atau pabrik.
  • Melakukan pengelolaan sampah kota dengan lebih baik.

Sedangkan untuk orang tua, yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi paparan polusi udara adalah dengan:

  • Memperbanyak ventilasi udara.
  • Membersihkan AC secara berkala.
  • Tidak membakar sampah.
  • Menggunakan HEPA (high efficiency particulate air) filter.

Selain itu, lengkapi anak dengan masker jika harus beraktivitas di area yang berpolusi. Selain itu, Anda juga bisa memperkuat daya tahan tubuhnya dengan memberikan makanan sehat bergizi seimbang, tidur cukup, serta aktif bergerak atau rutin berolahraga. Tak hanya kepada anak, lakukan juga ini untuk seluruh anggota keluarga!

[RN/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar