Sukses

Benarkah Bau Penyakit Bisa Dikenali?

Para peneliti telah lama percaya bahwa beberapa penyakit dapat dideteksi melalui bau tubuh. Ini penjelasannya.

Klikdokter.com, Jakarta Tahun lalu, seorang wanita Skotlandia bernama Joy Milne menjadi pembicaraan karena kemampuannya dalam mendeteksi Parkinson. Ini bukan hal yang aneh lagi bagi para ilmuwan, yang telah lama percaya bahwa beberapa penyakit memiliki bau yang khas. Misalnya: diabetes akan membuat urine beraroma seperti apel busuk, dan tifoid membuat bau badan Anda seperti roti panggang.

Kembali lagi ke kisah wanita yang bisa “mendiagnosis” Parkinson tersebut. Joy memiliki suami yang mengidap Parkinson. “Enam tahun sebelum suami saya terkena Parkinson, saya memperhatikan bahwa bau tubuhnya agak aneh, seperti bau kayu,” katanya, dilansir National Geographic.

Beberapa tahun kemudian, ketika Joy mengantar suaminya ke rumah sakit yang penuh dengan pasien Parkinson, ia menyadari bahwa bau kayu tersebut tidak hanya khas suaminya. Semua pasien di sana ternyata memiliki bau tersebut.

Karena penasaran, ia memberitahu hal tersebut kepada seorang peneliti yang kemudian melakukan serangkaian tes kepadanya. Hasilnya, Joy memang dapat mengidentifikasi mana penderita Parkinson dan mana yang bukan.

Di sisi lain, beberapa tahun terakhir ini, para ilmuwan juga sibuk menyelidiki apakah anjing dapat mendeteksi kanker. Meski kontroversial, beberapa penelitian mendapatkan hasil yang mengesankan. Sebagai contoh, dalam satu penelitian, empat anjing pelacak yang terlatih mampu mendeteksi kanker paru-paru melalui sampel napas dari 125 orang. Tingkat akurasinya mencapai 68 hingga 84 persen.

Penelitian lain menunjukkan bahwa Labrador Retriever betina berusia 8 tahun dapat mendiagnosis lebih dari 90 persen kanker usus besar hanya dari sampel napas dan tinja. Namun, dalam melatih anjing untuk mendiagnosis kanker, memang memerlukan pelatihan yang intens, mahal, dan seorang pelatih yang berpengalaman.

Alasan di balik bau penyakit

Lalu, mengapa penyakit dapat memunculkan bau tertentu? “Penyakit mengubah cara tubuh bekerja,” kata Yehuda Zeiri, PhD, seorang insinyur biomedis di Ben Gurion University’s Kiryat Bergman Campus, Israel, dilansir Reader’s Digest.

Ia menjelaskan bahwa penyakit memengaruhi proses biokimia dalam tubuh, sehingga memicu produksi molekul volatil kecil. Molekul ini kemudian diangkut oleh darah ke paru-paru dan dilepaskan dalam napas yang diembuskan. Selain itu juga bisa dilepaskan lewat air seni dan keringat.

Saat ini, para peneliti sedang mengembangkan cara untuk mendeteksi aroma penyakit. "Menurut literatur ilmiah, ada bukti bahwa aroma dapat menjadi penanda untuk kanker paru-paru, kanker payudara, diabetes, melanoma, dan banyak lagi,” kata Dr. Zeiri. Di masa depan, para dokter mungkin dapat mengenali kanker, diabetes, penyakit ginjal, dan sejumlah kondisi lain hanya dari penciuman mereka - dan jauh sebelum gejala-gejala lainnya muncul.

Teknologi electronic nose (e-nose), atau hidung elektronik, makin pesat dalam beberapa tahun terakhir. Alat ini meniru cara kerja hidung manusia sehingga mampu mengenali berbagai jenis bau. Ada harapan bahwa suatu hari nanti e-nose dapat mendeteksi bakteri-bakteri. Para ilmuwan juga telah mencoba menggunakannya untuk mengendus kanker paru-paru serta tumor otak.

Ada pula yang telah mencoba menggunakan e-nose untuk mengidentifikasi penyakit ginjal, penyakit usus, dan diabetes dari urine. Bahkan tahun 2016 lalu, Laboratorium Penelitian dan Pengujian Terpadu UGM juga telah mencoba mengembangkan e-nose. Untuk bisa mengenali atau membedakan sebuah sampel dengan sampel lainnya, e-nose harus dilatih dulu agar mempunyai ingatan pada sampel-sampel yang dilatihkan. 

Menarik sekali, ya? Ternyata bau penyakit memang bisa dikenali. Para peneliti dari seluruh dunia juga sedang mengembangkan berbagai cara agar nantinya e-nose dapat benar-benar bermanfaat dalam mendeteksi kondisi medis pada tahap awal.

[RS/ RVS]

0 Komentar

Belum ada komentar